Title : Reset
Author : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating : PG-13
Category : Alternative Universe,
Friendship, Romance, Tragedy
Lenght : SongFict
Main Cast : Kim Heechul as Casey Kim, Lee
Dongrin as Emma Lee (OC), Kim Jongrin as Lilyana Kim (OC), Park Byulri as Ammy
Park (OC), and find the another cast.
Disclaimer : I only own the plot, the characters
are belong to themself. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU
DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
RESET
===
Hidup
tidaklah mudah
Terkadang
kita melakukan berbagai kesalahan
Gunakan
kesempatan hidup itu dengan sebaik-baiknya
Karena
hidup tidaklah semudah menekan tombol reset
===
[Author
POV]
Lonceng
jam sekolah mulai berdentang keras menandakan kegiatan belajar mengajar telah
usai. Seorang gadis berambut hitam kecoklatan keluar dari kelasnya dengan
tampang lesu. Dia berjalan gontai ke arah sebuah kelas yang berada tak jauh dari
tempatnya berdiri sekarang.
“Emma, mau
bertemu Casey lagi, ya?” tanya seorang gadis yang baru saja keluar dari kelas
dengan tampang bosan.
Gadis bernama
Emma itu hanya mengangguk dan segera berlalu. Dia membuka pintu kelas di
depannya perlahan, dan tampaklah seorang lelaki berambut hitam pekat yang
sedang tertidur pulas dengan tangan bersila sebagai bantal.
Emma memutar bola matanya dan mendengus
kesal mendapati temannya masih tertidur pulas di kelas.
“Casey! Bangun,
hooy!” seru Emma seraya mengguncang-guncangkan tubuh lelaki bernama Casey itu
pelan.
“Hmm? Nanti
dulu, ya. Masih ngantuk, nih,” gumam Casey seraya membetulkan posisi
tidurnya.
“Ya! Casey...ayo
cepat bangun!” sekarang Emma menarik-narik lengan Casey. Tetapi tetap tidak
mendapat respon.
Emma yang sudah
kesal dengan Casey, mendorong meja Casey sehingga membuatnya terjatuh.
“Auuh! Sakit
tahu! Apa-apaan, sih?” seru Casey.
Emma hanya tersenyum polos kemudian duduk
di bangku sebelah Casey.
‘Cih, senyum
polos tapi bikin emosi,’ gumam Casey pelan.
“Hei! Aku dengar
itu,” ucap Emma dengan wajah datar, dan bersiap memukul kepala Casey.
“Eh...iya-iya,
jangan pukul aku, ya!Please...Emma baik, deh, Emma cantik, deh,” rayu
Casey dengan wajah yang dibuat-buat.
“Cih, aku tak
bisa termakan bujuk rayumu, Case!”
“Kalau aku
bilang kau cantik beneran, gimana?”
“Ooh...makasih,
gak butuh!” ucap Emma ketus.
“Iya, deh, iya.
Toh aku juga gak mau bilang kalau kau cantik. Sadis gitu, mana ada
cantik-cantiknya?” ucap Casey dengan wajah polos. Dan beberapa detik kemudian, buku
yang sedari tadi dibawa Emma ―yang tebalnya melebihi tebal novel Harry Potter―
itu mendarat mulus tepat di kepala Casey.
“Aduuuh! Kau itu
kalau marah kira-kira, dong! Sadar, gak sih tuh buku tebelnya seberapa?”
Emma terdiam dan
hanya memamerkan senyum polosnya yang dapat membuat banyak orang mengejarnya.
Bukan karena tertarik dengan senyumnya, tetapi karena kepolosannya yang dapat
membuat emosi banyak orang. Termasuk Casey saat ini yang tengah mengejar Emma
yang sudah keburu kabur meninggalkan Casey.
[Casey
POV]
Aku, seorang
lelaki tampan bernama Casey dan baru berumur 17 tahun, yang sangat pandai dan
disukai banyak wanita. Mulai dari bayi...oh, tunggu, ku ralat. Mulai dari anak
kecil, remaja, ibu-ibu, bahkan nenek-nenek sekalipun.
Dan gadis di
sampingku ini adalah Emma. Dia sahabatku. Dia adalah gadis yang sangat bawel,
berisik, sadis, dan keras kepalanya setengah mati. Tetapi prestasinya dalam
bidang seni sungguh menakjubkan. Terutama dalam bidang seni lukis dan seni
musik.
Aku dan Emma
sudah bersahabat sejak kecil, kami juga bertetangga, bahkan orang tua Emma
sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, begitu juga sebaliknya.
Emma berjalan
mendahuluiku dengan wajah cemberut. Marah kurasa, karena tadi aku menjambak
rambutnya dan hampir membuatnya jatuh ke selokan. Aku mempercepat laju
langkahku, berniat untuk berjalan sejajar dengannya.
“Emma,” seruku
memecah keheningan.
“Apa?” tanyanya
ketus.
“Tumben kau
rajin,” sindirku.
“Rajin gimana?”
“Yaa...rajin
aja, gitu. Tuh buktinya kau bawa buku tebel-tebel buat apa, coba? Biasanya, kan
kau pantang bawa buku tebel.”
“Yaah, mau
bagaimana lagi? Mrs. Maureent menghukumku.”
“Kenapa?”
“Aku tertidur di
kelas. Akhirnya Mrs. Maureent memberiku tugas untuk merangkum buku ini. Dan
sialnya, Lily tadi tidak membangunkanku, dasar!” gerutu Emma seraya
menghentakan kakinya beberapa kali.
“Tidak berbeda
dengan kakaknya, Mr. Cho.”
“Kau ada masalah
apa lagi dengan Mr. Cho? Sepertinya kau setiap hari ada konflik dengannya.”
“Tadi dia
menepuk-nepuk kepalaku, lalu aku membentaknya. Kau tahu, kan kalau hanya kau
dan Joshua yang boleh menyentuh kepalaku, bahkan memukul kepalaku, dan itu
khusus untukmu,” jelasku.
“Lalu apa yang
dilakukan Mr. Cho setelah kau membentaknya?” tanya Emma penasaran.
“Dia menyuruhku
mengerjakan soal sebanyak seratus nomor! Bayangkan saja!”
“Hhh...kita
memang benar-benar senasib,” ucap Emma seraya menepuk pundakku. “Haha, duluan,
yaaa!!” seru Emma seraya memasuki area rumahnya, aku pun hanya bisa
menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatku itu.
[Emma
POV]
―Seminggu Kemudian―
“Ah, enaknya
Casey sudah punya pacar,” gumamku seraya melamun di kelas
“Casey sudah
punya pacar? Sejak kapan? Dan siapa gadis beruntung yang mendapatkan Casey,”
tanya Lily, teman sekelasku.
“Sudah. Kemarin
jam tiga sore. Dan gadis bernama Ammy dari kelas 2A yang memang dari dulu
mengincar Casey.”
“Woaah,
benarkah? Bagaimana kau tahu?”
“Dia
memberitahuku lewat sms, dia kelihatan excited banget, tahu.
Kelihatannya Casey juga suka sama Ammy. Huh...menyebalkan.”
“Kau cemburu?”
tanya Lily dengan nada menyelidik.
“Cemburu
bagaimana?”
“Yaa...aku pikir
kau cemburu dengan Ammy, apakah kau menyukai Casey?”
“Tidak, aku
tidak cemburu dengan siapapun. Dan...aku tidak menyukai Casey,” ucapku mengelak
perkataan Lily.
===
Lonceng jam
sekolah kembali berbunyi, dan seperti biasa, aku selalu datang ke kelas Casey.
Tetapi ada yang berbeda hari ini, Casey sudah tidak ada di kelasnya. ‘Aneh,’
pikirku.
Aku pun akhirnya
memutuskan untuk pulang sendiri, sebenarnya membosankan, tetapi mau bagaimana
lagi kalau ternyata Casey memang sudah tidak ada.
Aku berjalan
menyusuri jalan sendirian. Ternyata memang benar-benar membosankan dan jarak
dari sekolah sampai rumahku terasa sangat jauh. Padahal kalau aku pulang
bersama Casey, pulang dengan merangkak pun akan terasa dekat. Grr...Casey kau
menyebalkan!
Di tengah
perjalanan, aku berpapasan dengan sebuah motor yang melaju cepat dan hampir
menabrakku apabila aku tidak bergeser sepuluh senti saja.
‘Tunggu...bukankah itu motor Casey? Dan,
siapa gadis yang bersama Casey? Apakah Ammy?’ pertanyaan itu tiba-tiba
terlontar dalam benakku.
Aku pun segera
berlari mengejar motor itu bak pelari internasional yang sedang berlari jarak
jauh. Bedanya, kalau aku di komplek rumah, dan pelari internasional di lapangan
lari. Bahkan aku sampai lupa kalau aku sangat benci berlari, karena itu akan
membuatku sesak nafas.
Motor itu
berhenti tepat di depan rumah Casey. Dan benar saja, lelaki yang mengendarai
motor itu adalah Casey, dan gadis yang membonceng di belakangnya adalah Ammy.
Aku mendengus kesal dan tidak mempedulikan pasangan baru jadi itu.
Aku segera
memasuki pekarangan rumahku yang berada tepat di seberang rumah Casey. Di dalam
rumah, aku dikejutkan oleh seseorang yang sangat ku rindukan, dia kakaku,
Aiden. Dia pulang ke rumah membawa seorang wanita, dan itu adalah...
“Mrs.
Maureent?!” gumamku. Lalu dia berbalik dan menatapku. Dengan secepat kilat, aku
naik ke kamar dan mengunci pintu kamarku.
“Yang benar
saja! Apakah wanita yang diceritakan Aiden itu Mrs. Maureent?” pertanyaan itu
terus terlontar dari mulutku karena tidak percaya.
Aku segera
mengganti seragamku dan tiduran di ranjang. Aku benar-benar tidak percaya
terhadap apa yang terjadi dalam hidupku.
Saat aku masih
bergelut dengan pikiranku, tiba-tiba seseorang mengetuk kamarku. Reflek aku
berdiri dari ranjangku dan segera membuka pintu.
“Hi! Jadi kau
adik Aiden, benar?”
‘Mati aku, pasti dia akan menagih tugas yang
diberikannya seminggu lalu, aku bahkan belum menyentuhnya sama sekali,’
batinku. Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitku.
“Hehe,
maaf...aku belum bisa berbincang denganmu, Mrs. Maureent, tugasku banyak, bye!”
ucapku dan segera menutup pintu kamarku lagi.
‘Huaaaa!!! Aideeen...awas kau! Kenapa memilih
Mrs. Maureent untuk dijadikan istri, huh!’ teriak batinku.
Aku mengacak
rambutku dengan kesal. Aku lalu membuka jendela kamarkuku lebar untuk keluar
dari rumah. Jangan heran! Ini sudah kebiasaan. Hehe..
Tetapi sebelum
aku benar-benar keluar dari kamar, seseorang mengetuk pintu kamarku lagi.
Reflek aku langsung menjawab.
“Tidak ada orang
di dalam!” ucapku dan langsung melompat dari jendela kamar, aku memanjat ke
bawah dengan ukiran-ukiran batu yang terukir indah di dinding rumahku. Tetapi
kemudian aku terpeleset dan jatuh ke bawah.
“Uuaaaaa!”
teriakku.
Tiba-tiba
seseorang menangkapku dari bawah. Huft...syukurlah, aku tidak jadi jatuh.
Tetapi siapa yang menangkapku?
“A-aiden?”
“Mau kemana
adikku sayang?”
“Mm...mau ke
rumah Casey,” ucapku tergagap seraya turun dari gendongan Aiden.
“Katanya tadi
banyak tugas? Kok main? Bahkan kau
belum mengumpulkan tugas bahasa Inggrismu seminggu yang lalu, kan?” sindir Mrs.
Maureent.
Tanpa menjawab
pertanyaan dan pamit dengan kedua orang tuaku, aku segera berlari ke rumah
Casey. Untung saja di pekarangan rumahnya sudah berdiri Tante Isabell yang
sedang menyirami bunga-bunganya.
“Tante aku
masuk, ya,” ucapku dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam, aku
melihat Ammy yang duduk sendirian. ‘Mungkin
Casey sedang membuatkan minuman,’ pikirku.
“Di mana Casey?”
tanyaku.
“Di dapur,”
ucapnya singkat seraya menatapku aneh tetapi aku tidak menggubrisnya. Ternyata
benar apa instingku. Ah...aku memang hebat.
Aku pun segera
berlalu meninggalkan Ammy dan masuk ke dalam dapur.
“Huaaaa!
Caseey,” teriakku manja.
“Kenapa Ammy?”
tanyanya. Ish...dia pikir aku Ammy?!
“Heh...aku Emma
tahu!” ucapku seraya memukul punggungnya keras.
“Auuuhh! Mulai
lagi, kan!” serunya. “Ada apa, sih?”
“Aiden pulang ke
rumah.”
“Bagus, dong!”
“Dia membawa
wanita!”
“Calon istrinya?
Siapa?”
“Mrs. Maureent.”
“APPPAAAAA??
Yang benar saja!”
“Ck...makanya
aku kabur ke sini, mana tadi Mrs. Maureent menagih tugas bahasa Inggrisku
seminggu yang lalu, lagi, huaaaaa…Casey…aku harus bagaimana?” ucapku seraya
menarik-narik lengan baju Casey.
“Case...ada
apa?” tanya Ammy yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
“Tidak ada,”
ucap Casey. Ammy berjalan mendekat dan berdiri di samping Casey. Ammy lalu
memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan aneh.
Yaah...memang aku hanya mengenakan jean selutut dan kaos berwarna biru bergambar
kucing. Apanya yang salah?
“Case, siapa
dia?” tanyanya.
“Dia Emma,” ucap
Casey singkat.
“Kau dekat
dengannya?”
“Tentu saja!
Memangnya kenapa? Apa kau tak suka?” selaku seraya berkacak pinggang.
“Case,
sepertinya kau harus menjauhinya, aku tak suka kau berteman dengan gadis yang
tidak tahu sopan santun,” bisik Ammy ―tetapi terdengar sangat jelas di
telingaku―
“Sekali lagi kau
berbicara seperti itu, aku tak segan-segan untuk menghajarmu,” ucapku seraya
menarik kerah baju Ammy.
“Emma lepaskan!”
bentak Casey.
“Kau...membelanya?”
tanyaku seraya menatap tajam ke arah Casey.
“Bu-bukan
begitu...”
“Baik! Kau lebih
membelanya yang baru kenal denganmu sejak kemarin dari pada aku yang sudah kau
kenal sejak masih TK. Mulai saat ini, jangan anggap aku sebagai sahabatmu
lagi…semoga kalian bahagia, selamat tinggal,” ucapku seraya berbalik dan
meninggalkan Casey yang masih mematung.
Aku keluar dari
rumah Casey dan pergi ke taman di dekat komplek perumahanku. Karena kalau aku
pulang ke rumah, akan membuat emosiku lebih memuncak. Air mataku langsung
tumpah ketika aku sampai di taman.
[Casey
POV]
‘Aku tak percaya Emma akan berkata seperti
itu,’ batinku saat Emma sudah menghilang dari hadapanku.
“Case, kau tak
apa?” tanya Ammy tiba-tiba.
“Tidak, aku
tidak apa-apa,” ucapku seraya memaksakan seulas senyum.
===
Sepertinya
memang benar apa yang dikatakan Emma kepadaku, dia seperti menghilang dari
hidupku. Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ammy daripada
bersama teman-temanku yang lain. Hari itu, tiba-tiba Emma datang ke kelasku,
aku sangat senang dapat melihatnya lagi. Dia berjalan ke arah bangkuku, lalu
menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Aku mengerutkan
dahiku heran.
“Apa, ini?”
tanyaku.
“Malam ini
adalah konser pertamaku, di dalam amplop itu ada dua buah tiket. Aku harap kau
dan Ammy mau datang. Setelah itu, kau tak akan pernah melihatku lagi, aku tidak
akan mengganggu hidupmu dengan Ammy,” ucap Emma dan akhirnya menghilang di
balik pintu.
[Author
POV]
―Malam Konser―
“Case, mau
menemaniku shopping, tidak?” tanya Ammy.
“Tetapi malam
ini, kan konser pertama Emma,” ucap Casey.
“Sudahlah...hanya
sebentar saja, kok.” Ammy mengelak.
“Hmm...baiklah,”
akhirnya Casey mengalah dan menuruti permintaan Ammy.
Dan tanpa Casey
sadari, Ammy telah merobek tiket konser Emma. Ammy tidak mau Casey tetap dekat
dengan Emma. Menurutnya, Emma adalah pengganggu hubungannya dengan Casey.
Sementara itu,
Emma masih menunggu kehadiran Casey. Dia sengaja menunggu di luar dan tidak
menunggu di backstage hanya untuk dua tamu spesialnya. Tetapi sampai acara akan
dimulai pun, Casey dan Ammy tidak menampakkan diri mereka. Emma pun menyerah
dan segera masuk ke backstage.
Di malam konser
pertamanya itu, Emma membawakan lima lagu sekaligus. Lagu pertama sampai lagu
keempat, dua tempat VIP yang disediakan khusus untuk Casey dan Ammy tetap
kosong. Emma sangat kecewa dengan ketidakhadiran Casey di acara yang menurutnya
sangat penting itu.
Nyonya Isabell
pun mencoba beberapa kali menghubungi Casey, tetapi selalu gagal. Sampai
akhirnya tiba di penghujung acara. Emma berdeham beberapa kali dan mulai dengan
kalimat pembuka.
“Di lagu
terakhir ini, saya akan membawakan sebuah lagu untuk seseorang yang seharusnya
berada di sini sekarang,” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Emma.
Diapun berjalan ke arah piano hitamnya yang terlihat sangat elegan.
Emma memulai
lagunya dengan menekan tuts piano sehingga menghasilkan sebuah alunan nada yang
begitu indah. Dengan suara emasnya, dia pun bernyanyi. Sesekali dia melirik ke
dua kursi kosong di hadapannya.
‘Sepertinya dia tidak akan datang,’
batinnya.
Dan benar saja,
sampai lagu kelima usai, Casey dan Ammy tak kunjung datang. Di backstage Emma
langsung dikerubungi oleh berbagai perwakilan perusahaan entertainment untuk
menandatangani kontrak dan masuk ke dunia hiburan. Karena beberapa wawancara
yang nantinya akan berlangsung lama, Emma menyuruh keluarganya untuk pulang
duluan, dan nantinya dia akan pulang menggunakan taksi.
Setelah usai
wawancara dan menandatangani kontrak sebuah perusahaan entertainment, Emma
memutuskan untuk pulang.
Tetapi sayang,
di tengah perjalanan, terjadi kejadian yang tidak terduga. Supir taksi yang
dinaiki oleh Emma mengantuk. Dia membanting setir ke kanan dan taksinya
tertabrak oleh sebuah truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Taksi
itu terpental cukup jauh, dan akhirnya menabrak
sebuah pagar jalan. Beberapa saksi yang melihat kejadian itu segera
memanggil ambulance.
Beruntung, supir
taksi itu hanya terkena luka berat, tetapi tidak dengan Emma. Saat dia
dilarikan ke rumah sakit, dia menghembuskan nafas terakhirnya.
===
Casey tiba di
rumahnya bersama dengan Ammy. Di ruang keluarga, ibunya terduduk seraya
menggenggam erat kertas yang sudah tersobek-sobek. Casey yang khawatir dengan
ibunya segera menghampirinya.
“Mom, ada apa?” tanya Casey.
Nyonya Isabell
menatap tajam ke arah Casey. “Dari mana saja kau?”
“Aku...pergi
bersama Ammy,”
“Kenapa kau
tidak datang ke konser Emma?”
Setelah ibunya
mengatakan itu, Casey segera tersadar dan berlari ke arah kamarnya, berniat
untuk mencari amplop berisi tiket konser Emma.
“Kau mencari
ini? Kau sudah merobek dan membuangnya ke tong sampah, benar?” sela Nyonya
Isabell seraya menunukkan kertas yang sedari tadi dibawanya.
“Aku tidak
merobeknya!” bentak Casey.
“Kau sudah
membuat Emma kecewa!”
Tiba-tiba ponsel
Nyonya Isabell berbunyi. Dia segera mengangkatnya. Ekspresi wajahnya yang
semula penuh dengan emosi, sekarang menjadi pucat dan ketakutan.
“Em..ma,” gumam
Nyonya Isabell.
“Ada apa dengan
Emma?” tanya Casey dengan nada khawatir.
“Di..dia…kecelakaan,
dan…meninggal.”
Kalimat terakhir
yang diucapkan Nyonya Isabell terasa seperti sebuah belati yang menusuk-nusuk
dirinya. Casey menggeleng tidak percaya dan perlahan cairan bening keluar
membuat sungai kecil di pipinya.
“I-ibu...apakah
yang kau ucapkan itu sungguh-sungguh?”
Nyonya Isabell
tidak menjawab pertanyaan Casey, dia menunduk dan langsung menangis.
“Sekarang juga
kau harus ikut aku! Dan…Ammy, aku harap, mulai besok kau sudah tidak
berhubungan dengan Casey!” ucap Nyonya Isabell. Ammy hanya bisa bungkam.
[Casey
POV]
Ibu membawaku ke
sebuah rumah sakit terkenal di kotaku. Aku keluar dari mobil bersama dengan
ibuku. Ibuku segera berlari kecil ke arah ruang UGD. Di sana sudah berdiri
kedua orangtua Emma, Aiden, dan Mrs. Maureent yang mengelilingi seseorang yang
seluruh badannya sudah ditutupi kain putih.
Jantungku serasa
ingin lepas dari tempatnya karena berdetak sangat kencang. Aku mendekati
mereka, dan mereka memberiku ruang untuk melihat siapa orang yang yang berada
di balik kain putih itu.
Tangisku pun
kembli meledak ketika melihat seorang gadis yang sangat aku kenali terbujur
kaku dengan wajah penuh luka. Aku membekap mulutku, tidak percaya dengan apa
yang kulihat. Aku sangat menyesal tidak menuruti permintaan terakhirnya dan
lebih memilih pergi bersama Ammy. Aku sangat menyesal tidak ada di sampingnya
pada saat terakhirnya. Tetapi itu semua tidak ada gunanya, Emma telah tiada,
tidak ada yang dapat kuperbuat lebih.
Aku masih
menangis. Entahlah...aku tidak tahu aku akan berhenti menangis atau tidak.
Press
the reset, press press the reset
Sayup-sayup aku mendengar alunan lagu. Aku tak
tahu pasti lagu itu berasal dari mana. Tetapi yang aku tahu, lagu itu
menyuruhku untuk menekan sebuah tombol reset. Ya, tombol reset yang berada di
hidupku.
Aku menutup
mataku, aku merasakan tubuhku seperti terhisap ke sebuah lubang berbentuk
spiral. Dan akhirnya aku terjatuh dari bangku sekolahku.
Tunggu, bangku
sekolah? Apakah waktu kembali berputar sehingga aku dapat memperbaiki
kesalahanku? Atau aku tadi hanya bermimpi?
Aku membuka
mataku perlahan, dan di hadapanku sudah berdiri Emma yang sudah
menyungginggakan senyum polosnya. Aku pun segera berdiri dan memeluknya, dia
tampak terkejut dengan kelakuanku yang tiba-tiba itu.
“Tolong jangan
pernah pergi dari kehidupanku,” pintaku.
“Case, apa yang
kau katakan?” tanya Emma bingung. Tetapi aku hanya terdiam sembari masih
memeluknya.
[Emma
POV]
Aku semakin
tidak tahu apa yang terjadi dengan Casey. Dia membuatku pusing, jadi aku turuti
saja apa yang dimintanya. Terkadang dia sangat over protective atau terlalu
baik denganku. Kelakuannya menjadi lebih aneh saat dia menolak Ammy menjadi
pacarnya. Bahkan Ammy sempat berpikir bahwa aku adalah pacar Casey. Haha, lucu
sekali.
Hari ini adalah
hari pertamaku konser. Ya...aku lulus dalam tes sekolah menyanyiku. Dan sebagai
hadiahnya, sekolah menyanyiku itu membuatkan sebuah konser dengan aku sebagai
bintangnya. Menakjubkan bukan?
Aku berjalan ke arah kelas Casey dengan senyum
bahagia. Tetapi saat aku akan memasuki kelasnya, ternyata dia sudah membukannya
dan tersenyum lebar ke arahku.
“Sepertinya kita
berdua sedang bahagia, bukan begitu?” tanyaku.
“Sepertinya
begitu, malam ini konser pertamamu, kan?” tanyanya.
“Bagaimana kau
tahu?” aku membelalakkan mata.
Dia hanya tersenyum
lalu merebut sebuah amplop yang sedari tadi kubawa. “Pasti ini tiket untukku,”
“Memang benar,
apakah kau punya indra keenam?” tebakku.
“Mmmm...mungkin,”
ucapnya.
“Jangan lupa
datang, ya!” ucapku dan akhirnya kembali ke kelas saat bel sudah berbunyi.
===
Akhirnya malam
pun tiba. Aku sudah berada di backstage sekarang, dan Casey menemaniku. Dia
benar-benar sahabat yang baik. Hari ini aku akan membawakan lima buah lagu. Dan
pada penghujung acara nanti, aku akan menyanyikan lagu khusus untuk sahabat di
sampingku ini, Casey.
Konser pun
akhirnya dimulai. Casey duduk di deretan kursi VIP bersama dengan kedua
orangtuaku, Aiden, Mrs. Maureent, dan Tante Isabell.
Di antara
seluruh penonton, Casey lah yang paling antusias mendengar lagu yang
kunyanyikan. Hingga sampai di penghujung acara. Wajah Casey tiba-tiba memucat,
aku jadi tidak tega melihatnya.
“Di lagu
terakhir ini, saya akan membawakan sebuah lagu untuk seorang yang sangat
spesial dalam hidup saya, Casey,” ucapku dan para penonton pun bertepuk tangan
meriah.
Lagu pun selesai
dan aku kembali ke backstage. Di sana, aku langsung dikerubungi oleh berbagai
perwakilan perusahaan entertainment untuk mendapatkan tanda tangan kontrak dan
masuk ke dunia hiburan. Karena beberapa wawancara yang nantinya akan
berlangsung lama, aku menyuruh keluargaku untuk pulang duluan, dan nantinya aku
akan pulang bersama Casey dengan mobil Ford hitamnya.
Usai wawancara
dan menandatangani sebuah kontrak perusahaan entertainment, aku memutuskan
untuk pulang. Di tengah perjalanan, aku dan Casey banyak berbincang. Bahkan
Casey bercerita tentang masa kecil kami.
Wajah Casey
tampak lebih pucat dari yang sebelumnya, aku jadi semakin khawatir.
“Case, kau tidak
apa-apa? Wajahmu pucat,” ucapku.
“Tidak apa,”
ucapnya seraya tersenyum lebar.
Tiba-tiba dari
arah yang berlawanan, sebuah truk melaju kencang.
“Casey! Awaaas!”
teriakku.
Tetapi naas,
mobil yang kami tumpangi tertabrak truk itu dan terpental jauh, lalu akhirnya
menabrak pagar jalan, aku merasakan ada seseorang yang mendekap tubuhku erat.
Dan dapat aku rasakan nyeri hebat di salah satu pergelangan tangan dan kakiku.
Sepertinya patah, lalu semua menjadi gelap.
Aku terbangun
lagi di ruangan serba putih. Aku masih dapat merasakan sakitnya pergelangan
tangan dan kakiku. Di sampingku, sudah berdiri kedua orangtuaku dan juga Aiden.
“Di mana Casey?”
tiba-tiba hanya kata itu terlontar dengan sendirinya dari mulutku.
“Dia...” Aiden
tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba dapat
kudengar jerit tangis seorang wanita. Aku menoleh ke samping, ternyata yang
menangis adalah Tante Isabell. Dia menangis di hadapan seseorang yang sudah
tertutupi kain putih. Perasaanku menjadi tidak enak.
Aku mencabut selang infus yang menancap di
tanganku, lalu aku menjatuhkan diriku ke bawah dan merangkak ke arah Tante Isabell.
Aiden mencegahku dan hendak mengangkatku ke kasur. Tetapi aku memberontak dan
tetap merangkak. Semakin dekat...semakin dekat...tangisku akhirnya meledak. Dan
dengan segenap kekuatanku, aku berusaha untuk berdiri, lalu membuka kain putih
itu.
Di situ, sudah terbujur kaku seorang
lelaki, dia...Casey.
“Caseeeey!” teriakku saat melihat mayat
Casey yang penuh luka. Akupun menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mempedulikan
sekitarku. Aku hanya ingin Casey tetap di sisiku.
Press
the reset, press press the reset...reset, reset, reset...
―End―



0 comments:
Post a Comment