Title : Angel vs Demon [Chapter 1]
Author : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating : PG-15
Category : Alternative Universe, Fantasy, Romance, Tragedy
Lenght : Series
Main Cast : Kim Heechul as Casey Kim, Tan Hangeng as Joshua Tan, Lee
Dongrin as Emma Lee (OC), Jung Yunhae as Arabell Jung/Ra (OC),
Other Cast : Cho Kyuhyun as Marcus Cho, Lee
Donghae as King Aiden/Emma’s Father, Lee Taemin as Nikky Lee, Lee Haena as
Queen Isabell/Emma’s Mother (OC), Lee Haera as Ellen Lee/Emma’s Twins (OC).
Cover Credit : Edited by AkaneHeeHee
Disclaimer : I only own the plot, the characters
are belong to themself. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE
THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
Angel vs Demon
===
Prolog
Aku, seorang pangeran dari sebuah kerajaan Demon, sangat ingin
menjadi raja. Tetapi sayang, adikku yang mendapatkan gelar raja sekarang. Sudah
banyak kerajaan, baik kerajaan Demon maupun Angel yang sudah aku takhlukkan.
Tetapi ayahku selalu memandang rendah diriku.
Suatu hari, Marcus, adikku, menyuruhku untuk menculik
seorang putri dari sebuah kerajaan Angel
di seberang yang sangat kuat pertahanan dan siasat perangnya. Hhh...itu hanya
masalah kecil, tentu aku bisa menakhlukkan. Tunggu saja, kau...Marcus.
===
[Casey’s POV]
“Hah, dia kira aku tidak bisa mengalahkan Kerajaan Angel
seperti itu? Dasar sombong!” sindirku kepada Marcus saat aku keluar dari kastil.
Aku pun segera pergi ke danau yang berada di samping kastil, di sana terdapat
seekor naga berwarna hitam yang sangat gagah, yaa...itu nagaku.
“Saatnya berpetualang!” seruku seraya menaiki punggung
nagaku. Nagaku pun mengangguk pelan, lalu mengibaskan sayapnya dan akhirnya
terbang.
“Sebenarnya di mana letak kerajaan itu?” aku bertanya pada
nagaku, Joshua.
“Hmm, menurut insting saya, kerajaan itu terletak di pucuk
pulau seberang,” Joshua menjawab dengan suara besarnya yang menakutkan.
“Ah, benarkah? Baguslah kalau begitu. Terbanglah lebih
cepat, Joshua!” perintahku.
“Baik Tuan,”
Joshua mempercepat laju terbangnya. Saat aku dan Joshua
berada di atas pulau seberang, tiba-tiba aku merasakan ada hawa dingin yang
sangat menusuk di tubuhku.
Oh, tidak! Ternyata kerajaan yang dimaksud Marcus adalah
kerajaan Angel Snow.
“Joshua!”
“Baik, tuan,” tanpa aku mengatakannya, Joshua sudah mengerti
apa maksudku.
Kami pun mendarat di sebuah hutan yang letaknya tidak
terlalu jauh dari kerajaan Angel Snow, Joshua segera merubah dirinya menjadi
manusia.
Tanpa ku sadari, ternyata
Joshua lebih pantas menjadi manusia daripada menjadi seekor naga, karena dia
nampak sangat tampan dengan wujud manusianya. Aku yakin, dia pasti banyak
disukai gadis, apabila menggunakan wujud manusianya.
“Aku rasa kita harus berjalan dari sini,” aku menoleh
sebentar ke arah Joshua, meminta pendapat.
Joshua pun hanya mengangguk dan berjalan mendahuluiku.
Joshua mengeluarkan sebuah bola api di tangannya, untuk menjaga agar aku dan
dirinya tidak membeku di sini.
Perlahan, nampaklah sebuah kastil yang sangat megah dengan
dekorasi khas Eropa. Ah, tidak berbeda jauh
dengan kastilku.
===
[Emma’s POV]
“APAAA??” teriakanku menggema ke seluruh kastil.
“Emma, bisakah kau tidak berteriak seperti itu?” seru King
Aiden lembut.
“Ta-tapi kenapa harus aku? Kenapa tidak Nikky saja? Yang Mulia,
aku seorang perempuan!”
“Nikky masih kecil, kau tidak bisa menolak keputusan
kerajaan,”
“Tapi Yang mulia, Anda kan yang mengatur,”
“Emma!”
“Ayah! Aku mohon, atau setidaknya gantikan aku dengan
Ellen,”
“Kami tidak bisa,”
“Kenapa?”
“Emma sayang, lebih baik kau turuti apa permintaan Raja. Ini
yang terbaik untuk kerajaan,” ucap ibuku lembut.
“Hhh, baiklah Queen Isabell,” ucapku pasrah dan langsung
berlari ke kamarku.
===
Aku merenung sendirian di kamar, rambut panjangku aku
biarkan tergerai begitu saja. Tiba-tiba dari mataku keluar sebuah cairan
bening. Aku menangis, aku merasa tidak pantas apabila aku menjadi seorang Ratu
di kerajaan ini. Yah, aku memang ceroboh, bodoh, tidak sopan, dan tidak dekat
dengan rakyat. Bayangkan saja, gadis berumur sepuluh tahun saja takut kepadaku,
bagaimana aku bisa menjalankan pemerintahan kalau aku tidak dekat dengan
rakyatku sendiri? Berbeda 180 derajat dengan saudari kembarku, Ellen. Dia
sangat berbakat, pintar, sopan, dan dekat dengan rakyat.
Hhh, aku tahu, ayah dan ibu sangat menyayangi Ellen, mereka
tidak ingin membuatnya merasa kelelahan karena mengurus rakyat. Tetapi tidak bisakah
mereka mengangkat Nikky saja sebagai Raja? Dia sudah hampir dewasa. Umurnya
juga sudah tiga belas tahun.
Sepertinya aku membutuhkan Ra saat ini.
Aku pun segera menghapus air mataku, dan turun dari
ranjangku, tak lupa aku juga menggelung rambutku ke belakang. Aku membuka pintu
menuju koridor kamarku, lalu aku berdiri di atas pagar beton, perlahan terlihat
sebuah tiang dari es berdiameter sepuluh senti yang menjulur ke bawah. Akupun
segera merosot ke bawah, dan ttaraaa...aku sudah keluar dari kastil.
Ah, sudah lama tidak merosot seperti itu. Rasanya sungguh
menyenangkan.
===
Aku berjalan perlahan menuju laut yang berada di belakang
kastil, dan aku menemukan Ra di situ, dia sedang duduk di sebuah batu besar
yang memang menjadi tempat favoritnya. Ya, Ra memang seekor naga, dia adalah
temanku sejak masih bayi. Dia nampak gagah dengan wujud naga seperti itu,
walaupun dia sebenarnya naga betina.
“Ra!” aku berteriak memanggil dirinya. Diapun perlahan
menoleh ke arahku, lalu mengangguk pelan menandakan aku boleh ke tempatnya.
Aku segera menghampirinya dan langsung naik ke punggungnya.
Aku memeluk lehernya, walaupun aku tak dapat memeluk sepenuhnya.
“Ada apa, Emma?” tanyanya. Suaranya memang besar, tetapi
terkesan lembut. Yaah...karena dia naga betina, mungkin.
“Aku sedang sedih,” ucapku. Suaraku menjadi parau, entah
sejak kapan.
“Tentang pengangkatanmu menjadi Ratu?” tebakan Ra sangat
tepat.
“Yah...aku sungguh tidak menyangka, Raja memaksaku untuk
menjadi Ratu.”
Ra tidak menjawab, dia memandang lurus ke depan. Tubuhnya
menjadi sangat dingin, pasti ada musuh di sekitar sini. Aku memandangi
sekelilingku, aku melihat Saphira, naga Ellen sedang terbang berputar. Tampak
wajahnya sangat gelisah.
“Ra, sepertinya ada yang tidak beres,” ucapku dan segera
turun dari punggung Ra.
Aku berlari kembali ke wilayah kastil, aku segera berteriak
ke arah Saphira untuk menanyakan apa yang terjadi.
“Saphira! Apa yang terjadi?” Saphira yang mendengar
teriakanku segera turun dan mengubah dirinya menjadi manusia. Benar, wajahnya
sangat gelisah.
“Ellen...dia,”
“Ellen kenapa?” reflek aku berteriak ke arahnya.
“Dia...dia diculik oleh seorang dari Kerajaan Demon,”
ucapnya, perlahan air matanya jatuh.
“RAAA!!” sontan aku langsung memanggil Ra. Saat Ra datang,
aku segera naik ke punggungnya dan segera mengejar seseorang yang menculik
saudariku.
===
[Casey’s POV]
Aku memanjat kastil itu dengan sangat mudah. Siapa bilang
pertahanannya kuat?
Aku tidak melihat ada satu orang pun penjaga yang menjaga di
luar. Hhh...lucu sekali kau, Marcus.
“Uh, pintar sekali putri itu membuka pintunya lebar,” seruku
sembari menyeringai. Sudah kebiasaanku apabila keberhasilan sudah di depan
mata.
Tanpa basa-basi, aku segera memasuki kamar itu, tetapi
ternyata tidak ada orang, aku segera mengecek di ruangan lain. Aku mulai putus
asa karena sang putri tidak ada di kamarnya, tetapi kemudian aku melihat ada
sebuah pintu yang terbuka sedikit, aku memang belum mengeceknya.
Aku melihat ada seorang gadis yang tertidur di ranjangnya.
Aku memutuskan untuk membawanya saja. Toh dia juga seorang putri.
Akupun mendekatinya dan segera membekap mulutnya, dia pun
terbangun dan langsung meronta.
“Hmmp...hmmp...lep-pas-kan!”
“Diamlah, Tuan Putri,” ucapku lagi-lagi menyeringai.
“Hmmp...Sap-phiraa...hmmph,”
Karena dia terus meronta, aku pun segera memukul tengkuknya
keras sehingga membuatnya terkulai tak sadarkan diri. Hhh...menyusahkan saja!
Aku dan Joshua segera pergi dari kerajaan itu secepat yang
kami bisa, aku tidak ingin membuang waktuku untuk mengalahkan kerajaan kecil
seperti itu.
Awas saja kau Marcus, ketika aku sampai di kastil, kau harus
menuruti seluruh permintaanku, sesuai janjimu.
“HEI! KEMBALIKAN SAUDARIKU!” terdengar suara teriakan
seorang gadis di belakangku. Aku menoleh sedikit ke belakang, dan benar saja.
Sudah ada seorang gadis yang mengenakan gaun berwarna putih selutut mengejarku dengan menunggangi seekor naga
putih.
Oh, manis juga. Sepertinya aku harus membawa keduanya.
“Joshua, turun ke bawah!”
“Baik tuan,”
Gadis itu ikut turun mengikuti diriku, ah...gadis pintar!
“Kembalikan Saudariku!” bentaknya.
“Haruskah?”
“Tentu saja! Kau pikir kau siapa, huh?”
“Kau tidak mengenalku? Oh, sayang...kau benar-benar bodoh!”
dengan gerakan cepatku, aku langsung berada tepat di depannya, lalu mengelus
pipinya pelan.
“JANGAN SENTUH AKU, BO-DOH!” bentaknya. Dia pikir aku akan
takut dengan yang seperti itu?
Dengan secepat kilat, di tangannya sudah terdapat sebuah
pedang es. Wow, hebat juga. Karena aku tidak ingin kalah dari seorang gadis,
aku mengeluarkan api dari tanganku dan membentuk sebuah pedang.
“Mau melawanku, sayang?” tantangku.
“Dengan senang hati,” seringainya. Woah, ternyata kaum Angel
bisa juga menyeringai.
Gadis itu menatap tajam diriku, lalu melirik sekilas ke arah
saudari dan naganya.
Gawat, gadis satunya pasti akan di bawa oleh naga putih
itu.
“Joshua! Bawa gadis itu pergi!” teriakku sebelum gadis di
depanku memerintahkan naganya untuk membawa pergi saudarinya.
===
[Author’s POV]
Saat Joshua hendak membawa pergi Ellen, Ra dengan gesit
menerjang Joshua, dan akhirnya terjadilah pertarungan antara naga. Walaupun Ra
adalah naga betina, tetapi kekutannya dalam bertarung tidak kalah hebat dengan
naga jantan.
Casey dan Emma beradu pedang dengan kekuatan yang hampir sebanding. Mereka tidak
hanya beradu pedang saja, tetapi juga disertai dengan sindiran-sindiran pedas yang
keluar dari mulut keduanya.
“Untuk ukuran seorang gadis, kau hebat juga dalam permainan
pedang,” kali ini Casey memuji permainan pedang Emma.
“Hmm...terima kasih atas pujianmu,” lagi-lagi Emma
menyeringai.
“Sama-sama, sayang,”
Akhirnya mereka melanjutkan adu pedang mereka, keduanya
tampak menikmati permainan pedang lawan masing-masing, sering kali mereka
tertawa meremehkan sembari tetap menyindir satu sama lain.
Di lain sisi, Joshua dan Ra sudah mengubah diri mereka ke
bentuk manusia.
Joshua sedikit terpesona dengan kecantikan Ra, dia sedikit
tidak tega untuk melawannya. Tetapi apa boleh buat, dia harus menuruti perintah
Casey.
“Untuk ukuran naga, kau cantik juga,” ucap Joshua jujur
seraya melemparkan bola-bola api ke arah Ra.
“Oh, terima kasih atas pujianmu. Tetapi maaf...aku tidak
mudah terpengaruh oleh ucapan seperti itu, apakah kau merasa tidak tega untuk
menyerangku, hmm?” lagi-lagi tebakan Ra tepat.
“Apakah kau mempunyai indra keenam?” tanya Joshua, kemudian
melemparkan bola-bola apinya lagi.
“Tidak, hanya menebak,”
Saat Ra akan menyerang Joshua, terdengar suara rintihan Emma
di belakangnya. Ternyata tangan kanan Emma terkena tebasan pedang Casey. Sontan
Emma menjatuhkan pedangnya dan menekan lukanya.
Casey yang tidak ingin membuang waktu segera mengarahkan
pedangnya ke leher Emma. Emma hanya mematung dan terus mencoba menahan rasa
sakit di tangannya.
“Emma!” teriak Ra dari belakangnya.
“Lawanmu adalah aku,” seru Joshua.
“Kau!” Emma menatap tajam ke arah Casey.
“Aku? Kenapa?”
“Jangan sakiti kakakku!” tiba-tiba Ellen sudah berdiri di
belakang Casey sembari menodongkan pedangnya.
“Ellen!” seru Emma dan Ra bersamaan.
===
[Casey’s POV]
“Jangan sakiti kakakku!” tiba-tiba ada seorang gadis yang
menodongkan pedangnya ke leherku dari belakang.
“Ellen!” seru gadis di depanku dan naga putihnya bersamaan.
Akupun hanya terkekeh pelan.
Marcus, sepertinya aku tidak bisa membawa keduanya. Jadi
aku akan membunuh gadis bernama Ellen itu.
Dengan gerakan cepatku, aku menusukkan pedangku ke arah
gadis bernama Ellen itu. Tetapi tanpa ku duga, ternyata aku bukan menusuk
Ellen, tetapi gadis yang bernama Emma.
Ck, kau memang cantik, tetapi kau benar-benar bodoh, Emma
sayang.
Dengan segera aku mencabut pedangku, Emma pun tersungkur di
tanah dengan darah masih mengalir dari tubuhnya.
“Emmaa!” teriak naga putih itu.
“Ra! Bawa pergi Ellen dari sini!” teriak Emma dengan sisa
kekuatannya. Dia pun akhirnya terbatuk dan tak sadarkan diri.
===
[Ra’s POV]
“Emmaa!” teriakku saat melihat Emma yang tersungkur di
tanah.
“Ra! Bawa pergi Ellen dari sini!” teriaknya.
Akupun hanya bisa menuruti perkataannya, aku segera mengubah
tubuhku menjadi naga dan segera membawa pergi Ellen. Ellen terus meronta seraya
menangis. Di tengah perjalanan, akhirnya tangisku meledak.
Sungguh bodoh aku meninggalkan Emma begitu saja. Maafkan
aku, Emma
“Ra! Kau benar-benar jahat!” teriak Ellen masih menangis.
Akhirnya aku sampai di halaman kastil, aku segera menurunkan
Ellen dan merubah diriku menjadi manusia.
King Aiden dan Queen Isabell yang sudah berada di halaman
kastil segera memeluk putrinya.
“Di-di mana, Emma?” tanya Queen Isabell yang menyadari Emma tidak
ada bersamaku.
“Maafkan aku!” air mataku terus mengalir.
“Katakan di mana putriku?” tanya King Aiden.
“Yang mulia, maafkan aku,” tangisku makin keras.
Queen Isabell yang menyadari sesuatu langsung menangis dan
memeluk suaminya, King Aiden.
“Ra...maafkan aku, tetapi...” ucap Queen Isabell yang
tangisnya sudah mereda.
“Apabila kau tidak membawa Emma kembali dalam lima hari, kau
akan mendapat hukuman pancung!” teriak Ellen dari kejauhan. Aku pun hanya bisa
menangis.
Kurasa aku pantas mendapatkan hukuman itu
===
[Casey’s POV]
“Naga yang penurut, benar begitu...Emma?” ucapku, tetapi
Emma tidak menjawab. Tentu saja! Dia kan sedang pingsan, atau...
Oh, tidak...ternyata lukanya cukup parah
“Joshua!” panggilku.
Aku pun segera menggendong Emma dan naik ke punggung Joshua.
Tanpa ku perintah, Joshua pun mengibaskan sayapnya dan akhirnya terbang di
ketinggian.
“Joshua, bisa lebih cepat?”
Joshua segera mempercepat laju terbangnya, dan dalam
sekejap, terlihatlah pulau di mana kerajaanku berada.
Kami pun mendarat di halaman kastil. Setelah menurunkanku,
Joshua segera mengubah dirinya menjadi manusia dan mengambil alih Emma dariku.
Sial, bajuku terkena darahnya.
Aku segera memasuki kastil seraya menutupi bajuku yang
terkena darah, aku memutuskan mencari Lilyana untuk menyembuhkan Emma, setelah
itu baru mencari Marcus. Aha! Waktu yang tepat. Aku melihat Lilyana berjalan
menuruni tangga, dan tentu saja aku segera menghampirinya.
“Lily!” seruku.
“Ah, Casey. Ada apa?”
“Bisakah aku meminta tolong?”
“Tumben kau sopan,” sindirnya.
“Ck...ayolah! Ku mohon!”
“Baiklah, baiklah...ada apa?”
“Sebaiknya kita ke kamarmu dulu saja, kalau di sini akan
ketahuan Marcus,”
“Hah? Kita? Berdua? Mau apa?”
“Ck...kau itu. Aku ingin kau menyembuhkan...Eh, di mana
Joshua?” aku menengok ke sekitarku untuk mencari Joshua.
“Kau memintaku untuk menyembuhkan Joshua?” tanyanya dengan
wajah datar. Yaah, tanpa perlu di sembuhkan pun, seekor naga akan dapat pulih
dengan cepat.
“Bukaaaan! Di mana Joshua tadi?”
“Hey Casey! Dari tadi bukankah kau sendirian?”
“Tidak...aku tadi bersama Joshua,”
“Itu! Joshua bersama Marcus, dan...hei! siapa gadis yang di
bawa Marcus?” terlihat raut wajah Lily sudah mulai kesal.
Ck, habislah aku.
“Marcuuuus! Siapa gadis itu?” gerutu Lily seraya menghampiri
Marcus.
“Dia hanya sandraku, kenapa wajahmu cemberut gitu? Udah
jelek makin jelek aja, tuh!”
“Sialan kau!” umpat Lily.
“Aarrghh!! Sudahlah! Hentikan perkelahian konyol kalian!
Harus berapa kali aku mengingatkan kalian, huh?” teriakku melerai Marcus dan
Lily.
Marcus dan Lily pun langsung terdiam, aku mengatur nafas
agar emosiku tidak kembali memuncak dan melanjutkan perkataanku.
“Sekarang, Marcus bawa Emma ke kamar Lily, dan Lily...”
ucapanku disela oleh Marcus dan Lily.
“Siapa Emma?” tanya mereka serempak.
“Ck, tentu saja gadis itu! Bodoh!”
“Hei! Beraninya kau mengataiku bodoh! Aku Raja di sini!”
seru Marcus tak terima.
“Walaupun kau Raja, aku tetap lebih tua darimu!”
“Ok, sudah...cukup. Sekarang Marcus...cepat kau bawa gadis
itu ke kamarku! Lihatlah...dia sudah sekarat!” ucap Lily.
Aku dan Marcus bertatapan, Marcus segera membawa Emma dengan
kecepatannya yang bisa di bilang melebihi kecepatanku. Aku dan Lily segera
menyusul, sedangkan Joshua kembali ke danau.
===
“Mark, apa yang akan
kau lakukan kepada Emma?” tanyaku saat kami sedang menunggu Lily menyembuhkan
Emma.
“Kan aku sudah bilang kalau aku akan menjadikannya sandra,”
ucap Marcus sembari memainkan PSPnya.
Ok, itu mungkin memang agak aneh. Tetapi percayalah padaku,
dia adalah iblis tercanggih yang pernah ku kenal.
“Untuk apa?”
“Tentu saja untuk mengalahkan Kerajaan Angel Snow,”
“Hei, tahukah kau? Kau bilang, Kerajaan Angel Snow
memiliki pertahanan dan siasat perang yang kuat?”
“Yah, itu memang benar,”
“Itu semua tidak benar, Mark! Saat aku pergi ke sana, aku
sama sekali tidak melihat ada penjaga yang mengawas kawasan istana,”
“Oh, apakah kau benar-benar tidak tahu? Di kerajaan itu...”
ucapan Marcus terputus oleh panggilan Lily.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu,” perintah Marcus.
Aku hanya bisa mendecak kesal.
===
[Emma’s POV]
Ah, semuanya kembali gelap. Tidak bisakah alam bawah sadar
tampak lebih terang?
Wah, cepat sekali terkabul. Tampak sedikit cahaya putih di
ujung sana. Ah, aku baru ingat kalau aku kaum Angel, tentu Tuhan akan selalu
mengabulkan permohonanku.
Baiklah, sekarang aku ingin sadar dari pingsanku ini.
Ooh yes! Perlahan aku dapat merasakan mataku yang tertutup. Aku
mencoba membuka mataku. Grr...kenapa gelap lagi?
Ah, tunggu...itu siapa?
Aku membuka mataku lebih lebar, dan ternyata sudah ada
seorang gadis yang duduk di sebelahku. Dia mengenakan gaun berwarna hitam.
“Siapa kau?” tanyaku langsung.
“Mark, haruskah aku memperkenalkan diriku padanya?”
teriaknya kepada seseorang yang berada di luar ruangan.
Orang yang dimaksud datang ke dalam bersama seorang lagi
yang tampak familiar denganku.
“Kau!” tunjukku tepat ke mukanya. Yah, siapa lagi kalau
bukan orang yang hampir membunuh Ellen dan diriku.
“Waah, kau sudah sadar rupanya, Emma sayang,” serunya dan
langsung memelukku.
“Yaaah!!” reflek aku menendangnya hingga terpental dan
menabrak sebuah lemari. Dua orang lainnya hanya saling pandang dan menyeringai
kecil.
“Apa?” bentakku saat kedua orang itu melihatku.
‘Ternyata kaum Angel bisa juga marah, yah. Lebih sadis dari
Casey lagi,’ bisik lelaki jangkung yang dipanggil oleh gadis tadi.
“Hei! Aku mendengarmu,” ucapku.
“Ouch! Kepalaku...yaish! sebenarnya kau itu kaum Angel atau
Demon, sih? Sadis begitu!” ucap lelaki bernama Casey yang mana sangat
menyebalkan, playboy, dan sok manis di hadapanku.
“Aku seorang Angel tak akan pernah menjadi Demon, dan
sekejam apapun aku, aku tetap seorang Angel!” ucapku ketus.
“Sepertinya kita harus mengurungnya. Dia terlalu
merepotkan!” ucap iblis bernama Casey itu seraya mengelus kepalanya pelan.
“Kalian tidak bisa mengurungku! Aku seorang Ratu. Yaah,
walaupun belum dilantik,” ucapku. Hmm, tumben sekali aku mengakui jabatanku.
“Tentu saja kami bisa, ini kerajaan kami. Dan...aku
Rajanya,” seringai lelaki jangkung tadi.
“Case! Bawa dia!”suruh lelaki itu.
“Kenapa aku?”
“Lakukan saja!”
“Ck, kau benar-benar!”
Casey mendekatiku, lalu tanpa ku sadari aku sudah berada
dalam gendongannya. Dia menggendongku ala bridal style.
“Ya...ya! turunkan aku!” aku terus meronta dan memukul
bahunya keras. Tetapi tiba-tiba lelaki jangkung tadi sudah berada di hadapanku,
menodongkan sebuah belati ke leherku.
“Belati ini kapan saja bisa menggores leher indahmu, Emma.
Jadi, lebih baik kau menuruti apa kataku! Case, bawa dia ke penjara bawah
tanah!”
“Emh, Mark, bukankah itu terlalu berlebihan?” tanya Casey.
Hhh, apakah dia akan berlagak sok perhatian kepadaku sekarang?
“Kenapa, Case? Kau tidak terima? Ataukah...kau ingin
bersamanya dalam penjara?” tanya lelaki jangkung itu, entahlah siapa namanya.
“Ten-tentu tidak! Melihatnya saja sudah malas,” bantah
Casey. Dan tanpa ba-bi-bu, Casey segera membawaku ke penjara bawah tanah.
Sial! Kenapa harus gelap? Aku sangat benci gelap
“Case!” seruku pelan.
“Apa?” tanyanya ketus.
“Tidak bisakah penjara bawah tanah ini lebih terang? Aku
benci gelap,”
“Tidak!” ucapnya.
Dengan tanpa perasaan, Casey membantingku ke lantai penjara
bawah tanah. Terasa sangat sakit memang, karena lantai itu terbuat dari batu
tentunya. Tetapi rasa sakitku teralihkan oleh degupan di jantungku.
Ah, ada apa dengan jantungku. Kenapa di tempat
remang-remang seperti ini Casey terlihat berbeda?
Tiba-tiba Casey merendahkan dirinya agar sejajar denganku,
dia membelai pipiku pelan. Sialnya, kenapa aku tidak memberontak seperti yang sudah-sudah?
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
“Sesuatu yang akan membuatmu lebih tenang,”
Dia meraih tengkukku, lalu dia mendekatkan wajahnya ke
arahku. Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku bisa terbuai olehnya. Wajahnya
terus mendekat, instingku berkata bahwa aku harus menutup mata, maka aku
lakukan saja. Beberapa detik kemudian aku sudah dapat merasakan bibirnya yang
menyentuh bibirku lembut.
Ok, kami berciuman...rasanya memang tidak mungkin. Tapi kami
memang benar-benar melakukannya. Oh Tuhan, jantungku serasa ingin lepas dari
tempatnya, dia telah merebut ciuman pertamaku. Tiba-tiba terdengar suara
langkah kaki yang berjalan dari kejauhan. Casey tersadar dan melepas ciumannya
dariku. Dia segera keluar dan tak lupa mengunci pintu penjaraku. Dia menatapku
sekilas, lalu dengan cepat segera berlalu.
Aku hanya diam mematung. Aku masih dapat merasakan bibirnya
yang menyentuh bibirku. Sungguh, tak ku sangka ternyata begitulah rasanya
berciuman.
“Hai, aku yang akan menjagamu di sini,” ucap seorang lelaki
menyadarkan lamunanku.
“Kau!” aku membulatkan mataku menyadari seorang di depanku
yang terlihat sangat familiar.
_TBC_
DOOOR!
DOOOR! DOOOR! #nembakin readers satu”
Wahahhahaaaa...endingnya...endingnya~~
gak nyangka juga bisa nulis yang begituan XDD #authorpabo
Hehe,
mian buat bias Hee kalo tabiatnya di sini saya buat jelek, dan di akhir...ciuman
sama Emma...tahukah kalian, Emma itu SAYAA~ #tunjukhidung
Ok,
ok...becanda kok...Emma itu cuma tokoh fiktif, tenang aja~~ u.u
Buat
semua, udah denger saya mau hiatus, kan? Nah, ini ff terakhir sebelum saya
hiatus.
Pisahnya
gak lama, kok...Cuma 7 bulan #inimahlama..
Mungkin
kalo ada waktu luang, sih...saya ngelanjutin ini sedikit”...tapi jangan di
tagih ya 6(@,@)9 #tunjukbogem
Untuk
menyenangkan hati author yang bentar lagi vakum, RLC dong ;)
Jujur,
deh...saya kalo dapet komen walau cuma satu, seneeeeeng banget. Rasanya
tuh...kaya terbang tinggi bareng paus akrobatik dan ketemu rasi bintang
paaaling cantik...ok, lebay XD
Kalo ada
kritik saran bisa dikirimkan di sini ;D #tunjukkolomkomen
asal jangan bash, sih...diterima :D
asal jangan bash, sih...diterima :D
Jadi saya
punya tanggungan 3 yah ini?
-Memories
-God’s
legacy
-terakhir
ini...Angel vs Demon
Tunggu
aja deh, ya XDD, soalnya saya kadang males juga ngetik walau udah dapet ide XP
#SPLLAAAK #ditamparreaderspakesendal
Jangan
lupakan saya, yaa!! #melambaidariataskastil #kesamberpetir



0 comments:
Post a Comment