Title : Memories Part 1 [Sequel of Story About
Donghae’s Sister]
Author : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating : T
Category : Romance, Comedy, Friendship,
Family
Lenght : Twoshoot
Cast : Kim Jongrin (OC), Cho
Kyuhyun, and find the other cast
Cover
Credit : Edited by AkaneHeeHee
Disclaimer : I only own the plot, the characters
are belong to themselves, do not take it out withouth permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE
THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST HOPE YOU LIKE MY FANFIC.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST HOPE YOU LIKE MY FANFIC.
Memories
===
[Author POV]
“Eomma, berbaik hatilah dengan Donghae oppa! Aku akan menemani
appa di sana. Arra?. Oppa, janganlah menjadi anak yang manja! Kau itu namja.
Young-ie, maaf kita harus berpisah lagi, sampai jumpa di kehidupan berikutnya.
Eunhyuk oppa! Tolong jaga Oppa cengengku, ya. Kyuhyun oppa, berbahagialah
dengan Jongrin, dan jangan berpacaran dengan PSPmu terus. Dan yang lainnya,
terima kasih untuk kebaikan kalian kepadaku. GOMAWOYO,”
itulah kata terakhir yang diucapkan Dongrin sebelum dia menutup mata untuk selamanya.
Dan kata-kata itu terus membekas di hati Jongrin.
“Chagi, kenapa menangis?” tanya Kyuhyun yang sedang
menggendong salah satu anaknya, Kyura.
“Ah, aniyeo...aku hanya, teringat dengan Dongrin,” ucap
Jongrin sembari menghapus air matanya.
“Chagi, ini tanggal berapa?” tanya Kyuhyun.
“27 Januari. Ada apa?” ucap Jongrin balik bertanya.
“Apakah kau lupa, hari ini adalah hari di mana Dongrin
menghembuskan nafas terakhirnya?” tanya Kyuhyun sembari membaringkan Kyura yang
sekarang sudah tertidur pulas di box bayinya bersama saudara kembarnya,
Kyungsa.
“Benarkah?” tanya Jongrin kemmudian membulatkan matanya.
Jongrin pun segera membuka ponselnya yang tergeletak di atas
meja riasnya. Dan ternyata sudah banyak yang mengirimkan pesan kepadanya.
“Omona! Aku benar-benar lupa. Otthokae?” tanya
Jongrin kepada Kyuhyun ―atau lebih tepatnya kepada dirinya sendiri―.
“Tenanglah, aku akan mengantarmu,” ucap Kyuhyun sembari
menenangkan istrinya.
“Tapi, apakah kau tidak ada jadwal hari ini?” tanya Jongrin.
“Umh, sebenarnya, ada, tapi aku mengambil cuti karena aku tahu,
hari ini pasti akan seperti ini,” ucap Kyuhyun.
“Maksudmu?”
“Aku sudah tahu, kalau kau akan lupa hari ini,” ucap Kyuhyun
enteng, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Kau menyindirku?” tanya Jongrin dengan wajah datar.
Kyuhyun yang ditatap dengan wajah datar oleh Jongrin menjadi
salah tingkah, dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mencoba
memutar otaknya untuk menemukan alasan yang tepat agar tidak dihukum oleh
istrinya itu.
“Aaah...aniyeo,” ucap Kyuhyun dengan tampang
memohon-agar-tidak-dihukum.
“Baiklah. Tapi...” ucap Jongrin terputus.
“Tapi kenapa?”
“Siapa yang akan menjaga si kembar?” tanya Jongrin sembari
menoleh ke arah box bayi.
“Aku sudah menyewa seorang baby sitter, jadi, kau tak perlu
mencemaskan mereka berdua,” ucap Kyuhyun yang mengikuti arah pandang Jongrin.
“Tidakkah lebih baik kalau kita membawa mereka?” tanya Jongrin.
“Lebih baik, tidak. Karena, yaaa kau tau sendiri bagaimana
rewelnya mereka berdua,” ucap Kyuhyun.
“Yah, mereka memang sepertimu. Selalu rewel,” ucap Jongrin
dengan wajah polosnya. Kyuhyun yang merasa tersindir hanya bisa menatap tajam
ke arah istrinya itu.
“Kapan baby sitternya akan datang?” tanya Jongrin, kemudian
menggendong Kyungsa yang terbangun dari tidurnya.
“Sekitar beberapa menit lagi, tunggu saja,”
‘Ting Tong’
Terdengar suara bel pintu rumah mereka, yang menandakan ada
seseorang yang datang.
“Apakah itu baby sitternya?”
“Entahlah”
Jongrin segera membuka pintu rumahnya, dan alangkah terkejutnya
dia saat di depan rumahnya sudah berdiri Jinyoung, Yunhae, Kyuyoung, Donghae,
dan Lee Ahjumma.
“A...ayo, silakan masuk!” ucap Jongrin mempersilakan tamunya
untuk masuk.
Jongrin mempersilakan mereka untuk duduk, dan menitipkan Kyungsa
kepada Kyuhyun yang sudah mulai mengeluarkan PSPnya.
“Onnie-ga, apakah kau sudah berziarah ke makam Dongrin?”
tanya Kyuyoung.
“Uhm, belum...aku lupa,” aku Jongrin sembari menundukkan
wajahnya, menahan malu.
“Sifat pelupamu, tetap tidak bisa berubah,” sindir Donghae.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berziarah bersama, kebetulan
kami juga belum,” saran Jinyoung.
“Sepertinya nanti saja, kami masih harus menunggu baby sitter
untuk mengurus si kembar,” ucap Kyuhyun sambil menenangkan Kyungsa yang mulai
rewel.
“Ah, baiklah kalau begitu, kami duluan, ya?” pamit Yunhae, dan
dibalas oleh anggukan kepala dari Jongrin.
Sepuluh menit setelah kepergian teman-teman Jongrin, sang baby
sitter yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Jongrin segera mempersilakan baby sitter itu masuk dan pamit
untuk pergi ke makam Dongrin.
===
“Chagi,”
“Hmm?”
“Ban mobil kita bocor, otthokae?”
“Kenapa bisa?”
Karena ban mobil mereka bocor, akhirnya, mereka memutuskan untuk
berjalan kaki dari rumah. Beruntung karena tempatnya tidak terlalu jauh dari
rumah mereka.
“Aku lelaah,” gerutu Jongrin.
“Huft, tau begini, tadi kita ikut Donghae hyung saja,”
ucap Kyuhyun balas menggerutu.
“Apakah masih jauh?” tanya Jongrin.
“Kurasa, tidak,” balas Kyuhyun. “Oh, hei, lihat! Ada permainan
baseball,” ucap Kyuhyun lagi saat dia melihat ada sebuah permainan baseball.
“Hah? Mana?”
“AWAAAS!” teriak salah seorang pemain baseball.
“Hah?” ucap Jongrin bingung.
‘DUAAK’
“Jongrin!”
[Jongrin POV]
“Hah?” ucapku bingung.
Tiba-tiba ada sebuah bola baseball yang mengenai kepalaku. ‘Aw,
sakit sekali’ batinku. Eh, tetapi kenapa semua jadi gelap?
===
‘Tetot, tetot!’ samar-samar aku mendengar suara seorang yeoja.
Dan dia memencet-mencet hidungku.
Aku mencoba membuka mataku, rasanya berat sekali. Kepalaku juga
terasa sangat sakit.
“Ya! Jongrin-aa, ayoo bangun! Buka matamu,” aku masih mendengar
suara yeoja tadi. Bedanya, sekarang suara itu terdengar lebih jelas.
Aku membuka sedikit mataku. Dan memang benar di hadapanku sudah
berdiri seorang yeoja. Perlahan sosok yeoja itu semakin jelas di
mataku, dan sosoknya sangat familiar denganku. Dia...
(cr: Kim Shin Yeong)
‘Dongrin,’ batinku.
“Annyeong,” sapanya.
“Benarkah itu kau, Dongrin?” ucapku sembari mendekatinya, mataku
terasa panas ketika melihatnya.
Perlahan airmataku menetes, dan membentuk sungai kecil di
pipiku, tangisku meledak ketika aku memeluknya, tubuhnya, terasa sangat nyata.
“Benarkah ini kau, Dongrin?” tanyaku lagi.
“Tentu saja ini aku, memang kau pikir siapa? Heechul?” tanya
Dongrin.
“Tidak, tidak...aku hanya
berpikir, kenapa aku dapat bertemu kau di sini, eh...ngomong-ngomong aku ada di
mana?” tanyaku.
“Kau ada di dunia bawah alam sadar. Huh, kau itu..payah sekali,
masa hanya karena terkena bola baseball bisa pingsan,” sindir Dongrin.
“Aish...kau ini, tidak hidup, tidak mati sifatmu tidak berubah,”
gerutuku.
“Ah, ya...ngomong-ngomong, kenapa kau sekarang berubah feminim?”
tanyaku.
“Ah, yah...sebenarnya, tidak, tetapi khayangan tidak
memperbolehkan setiap wanita berpakaian seperti lelaki, dan juga sebaliknya,”
ucap Dongrin dengan wajah datar. Sebal kurasa.
“O ya, kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau ada di
khayangan?” tanyaku.
“Entahlah, tadi tiba-tiba ‘mereka’ menyuruhku untuk kemari,”
“Untuk apa?”
“Meneketehe,”
“Hmmh, ya sudah,”
Hening~
“O ya, bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun? Apakah berjalan
baik?” tanya Dongrin tiba-tiba
“Yah, cukup baik. Tapi kami sering bertengkar,” ucapku
“Kenapa?” tanyanya lagi
“Karena dia tidak pernah mau mengurus Kyungsa dan Kyura,” ucapku
dengan nada sedikit sebal.
“Siapa Kyungsa dan Kyura?”
“Mereka anakku, dengan Kyuhyun tentunya,”
“Jinjja? Uwaa~ Chukkae. Bagaimana rupa mereka?”
tanya Dongrin lagi. Aku dapat melihat matanya yang berbinar. Yah, Dongrin
memang sangat menyukai anak kecil, sama seperti kakaknya, Donghae oppa.
“Kyungsa sangat mirip denganku, dan Kyura sangat mirip dengan
Kyuhyun. Tetapi keduanya mempunyai sifat yang sama seperti ayahnya,
hah...doakan aku sanggup menghadapi ‘triple Kyu’,” ucapku sambil
sesekali menghela nafas berat.
“Hmm, aku ingin sekali menggendong seorang bayi,” ucap Dongrin pelan.
“Tenanglah, suatu hari kau juga akan punya,” ucapku dengan
entengnya.
“Ya! Aku sudah tidak hidup, bodoh!” teriaknya.
“Hehe, mianhae, aku lupa,” ucapku dengan senyum tanpa
dosa.
“Ck,oh hei, kenapa pingsanmu lama sekali?” tanya Dongrin.
“Hah? Pingsan?” tanyaku.
“Aigoyaaaa! Neo...aish,” gerutunya.
“Wae?” tanyaku lagi.
“Jongriin! Penyakitmu belum hilang juga?” tanyanya frustasi.
“Penyakit apa?” tanyaku yang semakin tidak mengerti.
Dongrin mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Lalu dia berhitung
dari satu sampai dua puluh. Entah untuk apa, aku juga tidak tahu.
“Hah, sudahlah...lupakan,” ucap Dongrin.
“Dongrin-aa?”
“Hmm,”
“Bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?”
“Kau harus bangun dari pingsanmu,”
“Caranya?”
“Mana aku tahu, mungkin kau hanya perlu memberi otakmu sugesti
untuk sadar,”
“Baiklah, akan aku coba,” ucapku.
Aku mencoba melakukan hal yang disarankan Dongrin, dan perlahan
aku menutup mataku. Aku memfokuskan otakku untuk memberinya sugesti. Tetapi
tiba-tiba aku tersadar akan satu hal, dan kemudian aku segera memeluk Dongrin
erat.
“Annyeong Dongrin-aa, entah kapan lagi aku bisa melihatmu
tampak begitu nyata,” ucapku.
“Ne, gwenchana. Pergilah! Rawat bayimu, jadilah tua, dan
kau akan bertemu lagi denganku,” ucap Dongrin sembari melepas pelukanku.
Akupun kembali memfokuskan diriku, dan aku juga kembali
memejamkan mataku agar aku lebih fokus memberikan sugesti kepada otakku, dan
menyuruh tubuhku untuk sadar dari pingsan ini. Aku merasa seperti terjatuh ke
sebuah lubang tanpa dasar, dan...
‘BYUUR’
“Jongrin-aa bangun!” teriak Kyuhyun sembari menyiramkan seember
air.
“Huahahahuaa~ Kyuhyun! Apa yang kau lakukan, huh?” ucapku
sembari mangap-mangap (?).
“Aku menyirammu dengan air,” ucap Kyuhyun dengan tampang
wa.ta.dos.
“Yaa! Kau gila? Bagaimana aku akan ke makam Dongrin dengan baju
basah kuyup seperti ini? Mana kita masih di lapa...eh, ini di mana?”
“Ini sudah di rumah, bodoh!”
“Apa-apaan kau memanggilku seperti itu? Aku ini istrimu!”
teriakku emosi.
[Author POV]
“Apa-apaan kau memanggilku seperti itu? Aku ini istrimu!” teriak
Jongrin emosi.
‘Aigoooo...lagi-lagi mereka bertengkar,’ terdengar suara
seorang namja.
‘Ne, mereka benar-benar pantas disebut sebagai muridmu, hihi,’sekarang
terdengar suara seorang yeoja.
“Kyu, kau...dengar suara itu?” tanya Jongrin sedikit takut.
“Ne, aku mendengarnya,” ucap Kyuhyun yang juga merasa takut.
‘Lihatlah! Sekarang mereka ketakutan...keke,’kekeh sang yeoja.
‘Benar! Dan lihatlah ekspresi Kyuhyun yang begitu ketakutan,
wajahnya sangat pucat! Lihatlah, chagi,’ ucap sang namja.
“Ss..siapa yang berbicara itu? Kenapa bisa tahu namaku?
Keluarkan wujudmu!” ucap Kyuhyun dengan nada yang terkesan gugup.
Jongrin segera memeluk lengan Kyuhyun, dia juga ketakutan.
‘Uuhh, sudah baikan?’ tanya sang namja.
Jongrin yang menyadari bahwa dia memeluk lengan Kyuhyun, segera
melepaskan pelukannya.
“Kumohon, tampakkanlah wujud kalian, kalian siapa?” tanya
Jongrin.
‘Haruskah kita mengatakannya, Heechul oppa?’
‘Yaa! Kenapa kau menyebutkan nama?’
‘Pletak’
‘Auuh, mianhae,’
“Ohh, jadi ini semua ulah kalian?” ucap Kyuhyun dengan wajah
datar sembari menyilangkan tangannya di depan dada.
Akhirnya sang yeoja dan sang namja yang dapat
diperkirakan adalah Heechul dan Dongrin tadi perlahan menampakkan wujud mereka,
mereka tampak transparan dan tidak menginjak lantai. Mereka melayang.
“Kalian tidak takut dengan kami?” tanya Heechul.
“Aniyeo,” ucap Jongrin.
“Dengan wujud yang seperti ini?” tanya Dongrin.
“Aniyeo,” ucap Kyuhyun.
“Aaah, kalian berbohong, kan? Tadi saja kalian ketakutan
setengah mati,” kekeh Heechul.
“Itu, kan tadi saat kami belum tahu kalau itu kalian,” ucap
Jongrin beralasan.
“Oh, ayolah! Mengaku saja,” suruh Dongrin dengan nada menggoda.
“Baiklah, baiklah. Kami memang takut tadi, tapi sekarang tidak.
Sekarang, hanya ada rasa rindu di hati kami,” ucap Kyuhyun Lebay.
“Dongrin-aa! Aku rindu denganmu,” ucap Jongrin hendak memeluk
Dongrin.
“ANDWAE!” cegah Dongrin sebelum Jongrin sempat
menyentuhnya.
“Wa-waeyo?” seru Jongrin dengan nada kecewa.
“Aah...mianhae. Umh, bagaimana mengatakannya, ya?” ucap
Dongrin.
“Wae gurae?”
Dongrin menatap Heechul dan setelah beberapa lama, Heechul pun mengangguk.
Meminta pendapat, mungkin.
“Kalian tahu, kan, kalau kami hanya tinggal roh?” ucap Dongrin
pelan.
“Ne, kami tahu. Tapi kenapa kami tidak boleh menyentuh
kalian?” tanya Kyuhyun.
“Umh, sebenarnya...kami juga kurang tahu. Tapi yang aku tahu,
kalau semisal ada manusia yang dapat melihat kami, dan menyentuh tubuh kami,
maka...akan terjadi suatu hal yang buruk pada kami,” ucap Heechul.
Kyuhyun dan Jongrin saling bertatapan, lalu akhirnya menunduk.
“Mianhae,”seru mereka bersamaan.
“Kenapa kalian meminta maaf pada kami?” tanya Dongrin bingung.
Lalu Kyuhyun dan Jongrin saling bertatapan lagi.
“Ah, aniyeo, hehe,” seru mereka bersamaan lagi.
“Sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu dari kami,” ucap
Heechul sembari menyipitkan matanya.
“Hhh...sudahlah, lupakan saja masalah ini,” ucap Dongrin
berusaha untuk sok bijak.
“Ah, ya...Jongrin-aa, di mana si kembar?” tanya Dongrin
tiba-tiba.
“Hee? Si kembar, siapa?” tanya Heechul.
“Keponakanku,” ucap Dongrin sembari menjulurkan lidahnya.
“Eh, bukankah seharusnya cucumu?” tanya Kyuhyun dengan senyumnya
yang mengejek.
“Yaa! Walaupun aku dipanggil eomma oleh Jongrin, tapi statusku
sebgai kakak Jongrin tetap ada. Lagipula aku juga yang tertua di S.E.A Girls,”
ucap Dongrin, lalu memperhatikan kukunya.
“S.E.A Girls, apa?” tanya Kyuhyun.
“Gadis...Laut?” lanjut Heechul.
Dongrin dan Jongrin saling berpandangan, lalu mendengus sebal
secara bersamaan.
“S.E.A Girls itu group yang kami buat semenjak kelas 1 SMA,
sebenarnya namanya adalah Sapphire Blue, tapi kami menggantinya menjadi S.E.A
Girls,” terang Dongrin.
“Arasseo. Kita kembali ke topik awal, aku ingin melihat
Kyungsa dan Kyura,” rengek Dongrin.
“Arasseo, arasseo...aku dan Kyuhyun akan membawa mereka
ke sini,” ucap Jongrin lalu menarik Kyuhyun untuk ikut bersamanya.
“Yeey!” ucap Dongrin sembari melonjak gembira.
“Ah, apaan, sih? Gitu aja excited. Malu-maluin aja,”
gumam Heechul sembari menyenggol lengan Dongrin pelan.
“Ooh, jadi selama ini kamu punya urat malu, ya?” sindir Dongrin
sambil mengusap lengannya pelan.
Dan akhirnya mereka berkelahi sendiri. Jadi, mari kita
tinggalkan mereka sejenak.
===
“Kyungsa...sini, nak,” ucap Jongrin menyuruh Kyungsa untuk
datang ke pelukannya.
“Chagi...gantian, dong! Masa aku Kyura mulu?” rajuk
Kyuhyun.
Jongrin yang mendengar Kyuhyun merajuk, segera menatap tajam ke
arahnya. Dan yang ditatap terlihat bergidik ngeri, lalu menelan ludahnya.
“Ah, arraseo...aku yang mengurus Kyura,” ucap Kyuhyun
dengan ekspresi wajah yang terkesan pasrah.
“Bagus!” seru Jongrin dengan senyum lebar, lalu dia beranjak
keluar kamar dan segera menghapiri Dongrin yang sudah terbang memutari Heechul
sembari bersenandung kecil. Sedangkan Heechul? Yah, dia sedang melihat-lihat
majalah fashion yang entah bagaimana dia bisa membukanya.
‘I believe, I can fly...I believe, I can fly...’ Dongrin sedikit
mengeraskan suaranya saat bernyanyi. Dia masih saja terbang memutar di atas
Heechul.
“Ck...tetap saja dia berlaku childish,” gumam Jongrin pelan.
‘CKIIIIT’
Terdengar sound effect aneh saat Dongrin ‘menghentikan atraksi’ terbangnya.
Dan itu membuat Jongrin tersentak kaget.
“Eh, ini Kyungsa?”
“Ne, bagaimana kau bisa tahu?”
“Hanya feeling,”
‘Bab bab bab..mammmam...hmm,’terdengar celotehan Kyura yang
sedang digendong oleh Kyuhyun.
“Apakah itu Kyura?” ucap Dongrin dan segera melesat ke arah
Kyuhyun.
“Mereka benar-benar lucu, ya?” lanjut Dongrin, matanya terlihat
berbinar.
[Kyuhyun POV]
Mata Dongrin nampak berbinar ketika memandangi Kyura. Aku jadi
merasa iba dengannya. Dia meninggal di usia yang sangat muda, dan belum
merasakan bagaimana menjadi seorang ibu.
Jangankan seorang ibu, merasakan cinta saja baru seminggu, lalu
ditinggal pergi oleh Heechul hyung. Dan tiga hari kemudian dia
meninggal. Aku benar-benar kasihan padanya, walaupun...yaaah, dia memang
menyebalkan.
‘Mam mam mam mam...’ celoteh Kyura yang ingin menggapai Dongrin.
Dongrin tampak sedikit menjauh agar tidak disentuh Kyura.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Dongrin menoleh ke arah Jongrin
yang sudah duduk di sofa.
“Entahlah, aku belum begitu menguasi bahasa bayi,” ucap Jongrin,
lalu membetulkan posisi duduknya dan Kyungsa.
“Mereka umur berapa?” tanya Heechul hyung tiba-tiba.
Semua terkejut, tak terkecuali denganku. Aku tahu betul
bagaimana sifat Heechul hyung. Dia tidak pernah menyukai anak kecil.
Beda 360 derajat dari sifat Dongrin yang bisa disebut ‘Penggila anak kecil’.
Dan pertanyaan yang baru saja dilontarkannya itu membuat kami mematung.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Heechul hyung lagi.
“Oppa, tumben kau peduli dengan anak kecil?” tanya
Dongrin, lalu terbang menghampiri Heechul hyung.
“Memang kenapa? Aku, kan hanya bertanya, apakah itu tidak
boleh?” tanya Heechul hyung yang sedikit menaikkan suaranya.
“Ah, aniyeo,” seru kami serempak.
‘TING~TONG’
Terdengar suara bel rumah kami. Dengan segera Jongrin menyuruh
Dongrin dan Heechul hyung untuk bersembunyi. Entahlah, bagaimana
mereka bersembunyi aku juga tidak peduli.
Aku segera mendudukkan Kyura di sebelah Jongrin, lalu
beranjak ke arah pintu. Ternyata yang datang adalah tukang pos, yang
mengirimkan sebuah paket berukuran sedang yang ditujukan untuk Jongrin.
Setelah menandatangani penerimaan paket tersebut, aku pun
segera melemparkan paketnya ke arah Jongrin.
“Yaa! Kau punya mata tidak, sih? Lihatlah, di samping kanan
dan kiriku ada Kyungsa dan Kyura. Bagaimana kalau terkena kepala mereka? Mereka
masih bayi!” teriak Jongrin.
“Ne, ne, ne. Mianhae,” ucapku.
“Ok, sekarang kalian boleh menampakkan wujud kalian lagi,”
lanjutku.
Dongrin dan Heechul hyung akhirnya menampakkan wujudnya
lagi. Akhirnya kami memulai pembicaraan yang tadi sempat tertunda.
“Sekarang jawab pertanyaanku tadi!,” ucap Heechul hyung
yang tampak tidak sabar. Maklum...AB Line, kkk~
“Arrayo...mereka umur 13 bulan,” ucapku. Dan Heechul hyung akhirnya
mengangguk tanda mengerti.
Kami pun akhirnya berbincang cukup lama, dan tanpa disadari dua
orang sedang berdiri mematung di depan rumah kami.
“Dongrin...” seru orang itu.
“Ah...hyung,” ucapku terkejut.
_TBC_
Annyeong~
Saya
kembali ^o^, setelah sekian lama bertapa di gua hiro (?) akhirnya saya datang
membawa sebuah ff lagi.
Sebenernya
sequel ini mau dibuat oneshot. Tapi karena kepanjangan keterbatasan
waktu dan tempat (?), jadi, ya saya buat jadi twoshot :3.
O ya,
sebelumnya...buat Jongrin onnie, mianhae...soalnya aku udah buat dirimu pikun
di setiap ffku XDD. Padahal kenyataannnya author yang pikun.
Ok, yang
part 2 di post tahun depan, ya XDD...Soalnya author udah bisa nebak kalo ini
ntar yang liat banyak tapi yang komen dikit XDD...hahaha, atau bahkan gak komen
sama sekali Xp
Gak usah
banyak”, kok komennya.. cukup ‘Lanjut, thor’ itu aja udah buat
author seneng banget, sumpah .__.v
Jadi...
KOMENNYA
DONG :* #tebarbias #buatnyogok
O ya, kalau
ada kritik atau saran yang mau di sampein, boleh, kok :D..ntar author tambah
seneng JJ..tapi jangan bash, ya :D
-Kamsahabnida_



0 comments:
Post a Comment