Title : Story About Donghae’s
Sister Part 4
Author : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating : G
Category :
Family,Romance,Friendship,Tragedy,Angst,Comedy
Lenght : Short Story
Cast : Lee Dongrin (OC), Lee
Donghae, Kim Heechul, Lee Donghwa, Jung Jinyoung (B1A4), and find the another
cast.
Desclaimer : I only own the plot, the characters
are belong to themselves. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE
THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
Story About
Donghae’s Sister
===
[Author’s POV]
“Hai, manis, sendirian?” tanya salah seorang dari ketiga namja
berbadan besar tersebut.
“Aniyeo, aku bersama temanku!” ucap Dongrin dingin.
“Aku tidak melihat siapapun di sini!” ucap namja yang
lain.
“Temanku sedang membeli es krim, kalian ini siapa?” ucap
Dongrin masih dengan ekspresinya yang tadi. Lalu tanpa menunggu balasan dari
ketiga namja itu, Dongrin segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Heechul
yang masih sibuk membeli es krim.
Tetapi seorang namja yang sedari tadi diam, tiba-tiba
mencengkram erat tangan Dongrin. “Apa yang kau lakukan? Lep-lepaskaaan!” ucap
Dongrin berusaha meronta.
“Kau mau kemana manis? Ikut saja dengan kami!” ucap namja
tadi. Lalu namja itu menarik paksa Dongrin.
“HENTIKAAANN~~” teriak Dongrin keras.
Ketiga namja itu kebingungan saat mereka dilihat
orang-orang. Lalu setelah tempat tersebut mulai sepi. Ketiga orang namja
itu menarik Dongrin lagi. Karena Dongrin selalu meronta, maka salah satu namja
itu menggendong Dongrin di pundaknya *tau maksudku? Gini deh, bayangin aja kalo
ada orang diculik gendongnya gimana! Haha,,*
Dongrin mencoba memukuli punggung namja itu. Dan mencoba
untuk berteriak.
“OPPAAAA~~!” teriak Dongrin sambil terisak.
[Heechul POV]
“OPPAAAA~~!”
Aku mendengar suara teriakan seorang yeoja yang aku kenal.
Itu suara Dongrin. Akupun segera berbalik dan mendapati Dongrin yang tengah
digendong seorang berbadan besar dengan kedua temannya yang mengikuti dari
belakang.
“Dongrin,” gumamku. Dan akupun segera melesat ke arah 3
orang namja berbadan besar itu.
Ketiga namja itu membawa Dongrin ke tempat yang sepi.
Di situ ada seorang yeoja, tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena
tempat itu lumayan gelap. Lalu namja yang menggendong Dongrin tadi
menjatuhkan Dongrin.
Aku dapat mendengar Dongrin yang mengerang kesakitan, karena
dijatuhkan begitu saja.
Perlahan tapi pasti aku maju. Mendekati ketiga namja
dan seorang yeoja itu.
“Bunuh dia!” ucap yeoja misterius itu.
Aku menemukan sebongkah kayu yang lumayan besar. Dan akupun
mengambilnya. Hanya kurang beberapa meter saja jarakku dari ketiga namja itu.
Akupun memberi Dongrin isyarat untuk diam. Dongrin hanya
mengangguk kecil. Dan...
BUGGHH...BUGGHH...
2 namja berhasil kurobohkan, kurang satu namja lagi, tetapi
sayang pukulanku meleset, dan dia berhasil memukul wajahku, darah segarpun
keluar dari ujung bibirku. Karena marah, akupun mengeluarkan cakarku dan mulai
mencakari wajahnya *oooyy...chul~ sejak kapan kau berubah jadi catman?? -o- *.
Untung aku berguru pada Heebum tentang‘Bagaimana Cara
Mencakar Dengan Baik’. Dan saat namja itu mengerang kesakitan, akupun
dengan gesit (?) mengambil kayu tadi dan memukulkannya tepat di kepala bagian
belakang *MAMPUUS~~ XDD*.
Setelah namja itu roboh, aku segera menghampiri
Dongrin yang wajahnya sudah sangat pucat. Aku mencari sosok yeoja misterius
tadi, tapi sepertinya dia sudah kabur. Karena aku takut terjadi hal yang tidak
diinginkan pada diri Dongrin, akupun segera membawanya ke tempat tadi aku
membeli es krim, aku mendudukkannya dan membelikannya sebotol air mineral.
“Dongrin, gwenchana?” ucapku sambil menggenggam
tangannya yang gemetaran. Dongrin menggeleng lemah, lalu memegangi kepalanya.
Selang beberapa detik, cairan kental itu keluar dari hidung Dongrin. Dan inilah
hal yang sangat aku takutkan.
“Tidak...tidak, Dongrin~~~!!” ucapku dan mulai terisak saat
Dongrin tiba-tiba jatuh di pelukanku. *Aaahh...author juga pingin
digituiiiinn~~ #abaikan*
[Donghae POV]
“Eomma, Dongrin kemana?” tanyaku pada eomma.
“Dia sedang jalan-jalan bersama Heechul, kenapa?” ucap eomma
balik bertanya.
“Ya! Kenapa aku tidak diajak?” ucapku manyun.
“Kau kan tadi sedang ada schedule,” ucap eomma
santai sambil mengotak-atik remote TV *kurang kerjaan XDD*
“Memang mereka pergi sejak kapan?” tanyaku.
“Sebenarnya sejak tadi jam 12 siang,” ucap eomma
masih sibuk dengan remotenya.
“Kenapa sampai sekarang belum pulang? Ini kan sudah jam 3
sore,” ucapku sambil melirik ke arah jam.
“Molla!” ucap eomma cuek. Lalu tiba-tiba
ponselku berbunyi.
Call--> HeechulRella (?) Hyung
Akupun segera mengangkat telepon dari Heechul hyung.
Aku berniat akan mengomelinya karena tidak mengajakku.
“Ya! Hyung~ kau itu...kenapa jalan-jalan tidak
mengajakku? Aku kan...” ucapku terputus karena mendengar isakan tangis Heechul hyung.
“Donghae-ya!” ucap Heechul hyung masih terisak.
“Eh...Hyung? Waegurae? Hyung menangis?”
tanyaku penasaran.
“Donghae-ya...Dongrin...dia, koma, dan sekarang berada di
UGD...”
TUUUT~~TUUTT~~TUUUT~~~
Telepon Heechul hyung terputus. Akupun diam mematung
sambil berusaha mencerna kata-kata Heechul hyung.
“Nugu Donghae-ya?” tanya Leeteuk hyung. Dan
ternyata para member Suju tengah berkumpul di ruang tengah.
“Heechul hyung,” ucapku dan akupun menjatuhkan
ponselku.
Aku sudah tidak kuat menopang berat badanku. Kakiku lemas
dan aku jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.
“Donghae-ya! Waegurae?” tanya Leeteuk hyung
lagi. Aku hanya bisa menggeleng lemah.
“Hyung...” ucapku.
“Ne?” jawab Leeteuk hyung khawatir.
“Antarkan aku ke rumah sakit saat Dongrin dulu dirawat!”
ucapku sambil mencoba tegar, walaupun rasanya sangat sulit.
[Dongrin POV]
Semuanya gelap,aku tidak tau aku sekarang berada di mana.
Aku takut. Aku berusaha untuk berlari, tetapi gagal. Karena sedari tadi aku
menginjak duri yang entah dari mana asalnya.
Apakah aku sudah mati?
Mungkin memang aku sudah mati.
Karena tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan putih
samar-samar yang mendekatiku dan aku tidak merasakan detak jantungku.
“Dongrin~,” dia menyebut namaku. Suaranya sangat familiar.
“Appa,” ucapku terkejut saat perlahan bayangan putih
itu tampak lebih jelas. Dan ternyata bayangan itu adalah appaku. Appa yang
sangat aku sayangi. Tetapi mengapa ia kemari? Apakah dia datang untuk
menjemputku?
“Appa, apakah aku sudah mati?” tanyaku.
“Belum, kau masih berada di tempat antara hidup dan mati.
Tapi sepertinya kau masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan,” ucap appa.
“Maksud appa? Bukankah appa datang untuk
menjemputku dan membawaku ke surga?” tanyaku tidak mengerti.
“Tidak! Aku ke sini hanya untuk membangunkanmu. Janganlah
tidur terus! Kau tau kan, eomma selalu kesusahan untuk membangunkanmu.
Dan sekarang appa yang akan membangunkanmu. Cepatlah bangun Dongrin,”
ucapnya.
“Tapi appa...” tanyaku terputus.
“Sudahlah, appa akan baik-baik saja. Nanti setelah
kau bangun, appa akan kembali ke surga lagi. Dan apabila sudah saatnya.
Pasti appa akan menjemputmu. Sekarang bangunlah!” pintanya lalu
tersenyum. Senyum yang sama seperti kedua oppaku. Sangat manis.
Perlahan air mataku mengalir. “Selamat tinggal appa, maaf
aku belum bisa menemanimu di surga” ucapku. Lalu tiba-tiba badanku terhempas ke
sebuah lubang yang tidak ada dasarnya. Dan akhirnya...
DEG...DEG...DEG...
Aku merasakan detak jantungku lagi. Walaupun sangat lemah.
Perlahan aku mencoba untuk membuka mataku. Tetapi rasanya berat sekali. Tiba-tiba
suara appa berlalu di kepalaku “Bangun Dongrin!” dan seketika itu juga aku
membuka mataku.
Terdengar suara tangisan bahagia yang entah dari mana
asalnya. Mungkin dari eomma, dan oppaku yang terkenal cengeng. Tapi kenapa
yang menangis bertambah banyak?
“A...aku, dimana?” tanyaku tiba-tiba. Lalu eomma
memelukku. Donghae oppa memeluk Heechul oppa dan berkali-kali meminta
maaf padanya.
Suasana menjadi hening. Hanya ada beberapa suara isakan
tangis dari oppadeul, dan eomma.
“Eomma, aku tadi bertemu appa,” ucapku
mencairkan suasana. Sekaligus menambah tegang suasana.
Donghae oppa mendekatiku. “Aku tadi sekarat ,kan, eomma,
oppa,” ucapku sambil memandang langit-langit ruang rawatku.
“Appa yang memberitahuku” ucapku lagi. Aku merasa
seperti berbicara sendiri. Karena yang lainnya hanya menatapku bingung dan sama
sekali tidak merespon.
“Dongrin,” panggil Donghae oppa tiba-tiba.
“Apa yang kau bicarakan? Kau pasti hanya bermimpi tentang
bertemu appa,” tambahnya.
“Benar oppa, aku bertemu dengannya di suatu tempat
yang sangat gelap, dan dia memberitahuku kalau aku sedang berada di tempat
antara hidup dan mati. Berarti aku sekarat, kan? Lalu dia memintaku untuk
bangun. Karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup,” ucapku lagi.
Tiba-tiba mataku memanas. Dan aku merasakan ada beberapa
butir air mengalir dari mataku.
“Aku takut, tapi aku ingin,” ucapku dalam sela-sela
isakanku.
“Aku takut apabila aku meninggalkan kalian. Meninggalkan
dunia ini. Tapi aku juga ingin menemani appa di sana,” ucapku masih
dengan air mata yang mengalir deras.
“Sudah! Jangan diteruskan!” pinta eomma. Dan akhirnya
aku menangis sejadi-jadinya di pelukan eomma.
[Heechul POV]
Seminggu sudah berlalu. Tetapi Dongrin masih harus dirawat
di rumah sakit, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih lemah.
Karena hari ini aku tidak ada schedule, maka aku akan
menjenguk Dongrin. Entahlah, beberapa hari ini aku jadi dekat dengan Dongrin.
Ah, tapi sudahlah, toh aku dekat dengannya sebagai teman.
Tidak lebih.
Aku melangkahkan kakiku menelusuri koridor rumah sakit
sambil membawa 2 batang coklat. Ya! Dongrin sama sepertiku. Dia sangat menyukai
coklat, tapi bedanya aku suka coklat putih dan dia suka coklat biasa.
Aku sampai di depan pintu salah satu ruang dimana tempat
Dongrin dirawat *author bahasanya beribet XDD* perlahan aku masuk, aku
mendapati Dongrin yang sedang menatap lurus ke arah jendela sambil membawa
sebuah buku gambar. Sedang menggambar kurasa.
Aku pun mendekatinya. Sepertinya dia tidak menyadari
kedatanganku. Dia lalu menatap ke arah buku gambarnya dan mulai menggambar
lagi.
“DONGRIIIINN~~” ucapku dengan nada yang terkesan
menyeramkan.
“Kyaaaaaa!!!” teriak Dongrin sambil melemparkan buku
gambarnya kekepalaku.
“Aaaww,” erangku kesakitan. Ternyata tenaganya kuat sekali
walaupun dia sedang sakit.
“Eh...oppa, aku kira siapa. Sini oppa, duduk!” suruh Dongrin
tanpa merasa bersalah telah memukul kepalaku tadi.
“O iya, tolong ambilkan bukuku!” pintanya.
‘Dasar anak ini. Sudah memukul kepalaku, tidak meminta maaf.
Sekarang? Menyuruhku seenak jidat. Dasar yeoja menyebalkan,’ batinku kesal.
“Oppa kenapa kemari?” tanya Dongrin tiba-tiba. Ya ampun anak
ini. Kalau aku kesini pastinya untuk menjenguk ,kan?
“Aku?” tanyaku sabil melirik Dongrin. Kulihat Dongrin yang
mengangguk semangat.
“Aku ingin membunuhmu. Kyahahahaha,” ucapku mengeluarkan
ketawa evilku.
“Kim Heechul, itu tidak lucu!” ucap Dongrin dengan wajah
datar.
“Yaa! Kau beraninya memanggil namaku seperti itu! Dasar
saeng menyebalkan. Aku tidak akan memberikanmu coklat ini!” ucapku manyun
sambil memperlihatkan sebatang coklat. Aku tau, pasti perkataanku itu sangat
ampuh untuk membuat Dongrin merengek-rengek minta maaf. Dan itu benar.
“Oppa, mianhae! Oppa,” ucap Dongrin sambil menarik lengan
bajuku.
“Hei~heeei. ini baju mahal! Jangan di tarik-tariiik!” ucapku
sambil melepaskan tangan Dongrin dari lengan bajuku.
“Maafkan aku dulu tapi,” ucap Dongrin.
“Iya! Iya! Tapi tetap tidak aku beri coklat ya!” ucapku.
“Yaa! Oppa~, kau jahat!”
ucap Dongrin lalu menjambak rambutku.
“Yaa! Dongrin hentikaan!” ucapku, lalu aku meraih rambutnya
yang tergerai bebas, dan menjambaknya. Dan pada akhirnya kami berdua saling
jambak-menjambak (?)
“Sudah...sudah! berhenti,” ucapku, dan akhirnya kami
melepaskan rambut lawan masing-masing.
“Hhh...kau itu...sebenarnya sakit tidak sih?” tanyaku dengan
suara terengah-engah.
“Kalau...aku...tidak sakit...kenapa aku ada di sini, hah?”
ucap Dongrin yang juga terngah-engah.
“Lalu kenapa tenagamu tadi kuat sekali huh? Bukankah
seharusnya orang sakit itu tenaganya lemah” ucapku.
“Memang kenapa kalau tenagaku kuat? Aku ikut club taekwondo
tau!” ucap Dongrin. *apa hubungannya yak?*
“Hah? Ikut club taekwondo? Lalu kenapa waktu kau hampir dibunuh,
kau tidak melawan?” ucapku seraya berdiri.
Tiba-tiba aku melihat pipi Dongrin sedikit memerah.
“Karena...” ucapnya terputus.
“Karena apa?” ucapku tak sabar.
“Karena aku ingin oppa melindungiku,” ucapnya pelan, ―tetapi
cukup keras untuk dapat kudengar ― sambil memalingkan wajahnya. Sekilas aku
melihat wajahnya tampak merah, semerah tomat busuk *author digampar Dongrin*ah,
maksudku semerah kepiting rebus.
‘Sudahlah! Paling dia hanya terpesona dengan ketampananku,’
batinku narsis
“Huft~ capeeeek,” ucapku seraya mengambil minuman Dongrin,
lalu meneguknya sampai habis. Dongrin yang mengetahui minumannya telah diminum
olehku langsung berteriak tepat di telingaku.
“Yaa! Oppa itu minumankuu,” teriaknya.
“Lalu kenapa?” ucapku sinis sambil mengorek kupingku.
“Memangnya Oppa mau membelikanku lagi, huh?” ucapnya
emosi.
“Hanya minuman kaleng saja, kenapa kau sewot? Lagipula,
minuman seperti itu tidak baik untuk keadaanmu sekarang!” ucapku menceramahi
Dongrin.
Dongrin hanya bisa menggembungkan pipinya dan memanyunkan
bibirnya.
[Dongrin POV]
“Huft, seharian
bersama Heechul oppa? Apakah aku bisa tahan?” gumamku.
Aku melirik seorang namja yang tertidur di kursi sebelahku.
Wajahnya manis semanis malaikat, tetapi hatinya...beuh...sekejam iblis. Tak
kusangka ada orang seperti ini. Yah, kalau menurutku banyak sih orang seperti
itu. Tapi hanya satu orang seperti itu yang dekat denganku. Dialah orangnya,
Heechul oppa.
Saat sedang asik memandang wajah Heechul oppa,
tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan akupun segera mengangkatnya agar Heechul oppa
tidak terbangun.
Call--> Jongrin Onnie
“Yoboseo?” sapaku
“Dongrin! Kau di mana? Kenapa tadi kau tak masuk sekolah?”
tanyanya.
Ya ampun. Pasti penyakit pelupanya kambuh lagi. ‘Aku kerjai
saja dia. Kkk~~’batinku. *author di rajam Jongrin*
“Aku di rumah sakit Jongrin, uhuuk-uhuuk. Aku kecelakaan,”
ucapku. Aku berusaha agar nada bicaraku terdengar semenderita mungkin.
“Hah? Jinjja? Kau di rumah sakit mana sekarang?”
tanyanya panik
Saat aku akan menjawab, tiba-tiba seseorang mengambil alih
ponselku.
“Dia membohongimu Jongrin! Sadarlah dari sifat pelupamu!”
ucap orang tadi. Ya! Siapa lagi kalau bukan Heechul oppa. Lalu setelah
mengatakan itu, Heechul mengembalikan ponselku. Akupun hanya bisa manyun karena
Heechul oppa telah menggagalkan rencanaku mengerjai Jongrin onnie.
“Hah? Maksudnya?” ucap Jongrin bingung. Dan tiga detik
kemudian dia berseru lagi. “Yaa! Aku baru sadar! Kau kan memang di rumah sakit!
Haha... Ya sudah, aku kesana!”
Lagi-lagi Dongrin memanyunkan bibirnya. “Kau itu...kenapa
dari tadi manyun terus, sih? Jelek tau!” ucap Heechul oppa.
“Memang kenapa kalau jelek? Aku kan bukan yeoja feminim yang
hanya mementingkan kecantikan, dan kecantikan,” ucapku sinis.
“Hhh...terserah,” ucap Heechul oppa. Sepertinya dia sudah
lelah menghadapi sikap keras kepalaku ini. Keke~
[Author POV]
“Hhh...kenapa aku belum diperbolehkan pulaang? Aku bosan di
sini teruus (⌣́_⌣̀)!” gumam Dongrin.
Yah...sudah dua minggu dia di rumah sakit, tetapi dia belum
diperbolehkan pulang. Karena tubuhnya belum menunjukkan perkembangan.
Lalu dia mengambil ipod yang ada di meja sebelahnya. Dan dia
memutuskan untuk memutar lagu random. Pertama lagu yang diputar adalah ‘Super
Junior – Hate U, Love U’. Lalu lagu kedua ‘TVXQ – Stand By U’. Dan pada lagu
ketiga terdengar suara CL yang mulai menyanyikan lagu 2NE1 – Lonely.
Dongrin sedikit menikmati lagu tersebut sambil melamun,
menatap kosong ke luar jendela. Karena mendengar lagu itu, dia mengingat teman
masa kecilnya ‘Jinyoung’. Yang sekarang tak tau dimana.
Dia sangat ingat bagaimana dia dulu sering bermain petak
umpet bersamanya. Tetapi suatu hari, saat Dongrin dan Jinyoung bermain petak
umpet. Jinyoung meninggalkannya sendirian.
[Flashback]
“Donglin-aa ayo belmain petak umpet!” seru Jinyoung dengan
suara cadelnya. Saat itu, mereka masih berumur 4 tahun. Dan Jinyoung adalah
satu-satunya orang yang mau berteman dengan Dongrin.
“Ayo!” seru Dongrin sambil berlari ke arah Jinyoung.
“Hompimpah~ alahiyum gambleng...nek ijah pake baju
lombeng...Unyil kuciiing!! Unyil kuciiiing!” *Lah? Kok jadi unyil?
Wokeh...ralat* “Gawi...Bawi...Bo” ucap mereka bersamaan.
“Young-ie jagaaa!” ucap Dongrin gembira.
“Kau hitung campai cepuyuh ya!” tambah Dongrin.
Jinyoung menutup matanya dan mulai menghitung.
“Han...Dul...Cet...Net...Daceot...Yeoceot...Ilgeop...Yeodeol...Ahop...Yeol...cudah
ciap beyum? Aku cali ya!” seru Jinyoung.
Jinyoung mulai mencari Dongrin. Tetapi tiba-tiba orang
tuanya datang dan menyuruhnya pulang.
“Jinyoung-ah. Cepat pulang, besok kita sudah harus pindah!”
dan tanpa berpikir panjang. Jinyoung meninggalkan Dongrin sendirian yang sedang
bersembunyi di balik semak-semak.
“Kkkk~ cepeltinya dia tidak atan menemutantu dicini” gumam
Dongrin.
Hari makin lama semakin gelap. Dan Dongrin masih berpikir
bahwa Jinyoung belum bisa menemukannya. Tetapi lama-kelamaan, dia menyadari
satu hal. Bahwa Jinyoung telah meninggalkannya sendirian di taman.
Dongrin mulai menangis karena sekarang taman itu nampak
gelap dan dia tidak tau jalan pulang ke rumah. “Oppa~” panggil Dongrin
di sela-sela tangisnya. Lalu samar-samar dia mendengar suara kedua oppanya.
Dongrin segera keluar dari balik semak-semak, dan tampaklah
2 orang namja yang datang membawa senter. “Oppa!!” teriak
Dongrin.
Kedua namja itu, Donghwa dan Donghae, segera berlari menghampiri
yeosaeng mereka. Dongrin mulai menangis lagi, dan kali ini tangisnya
makin keras. “Cup-cup! Uljjima uljjima. Oppa ada di sini” ucap
Donghae menenangkan adiknya. Perlahan tangisnya mereda, dan hanya tinggal
isakan-isakan kecil saja.
“Lalu dimana Jinyoung? Bukankah kau tadi bersama Jinyoung?”
tanya Donghwa.
“Molla~ Young-ie tiba-tiba menghiyang. Telus oppa
datang” ucap Dongrin masih dengan suara cadelnya. “Apa Young-ie malah cama atu,
ya? Jadi dia pelgi.” Tambahnya.
“Sudahlah! Lebih baik kita sekarang pulang. Eomma dan
Appa nanti mengkhawatirkan kita” ucap Donghae.
[Flashback End]
Perlahan air mata Dongrin jatuh dan membuat sungai kecil di
pipinya. Ia sangat rindu pada teman kecilnya itu. Walaupun sudah lama dia melupakannya.
Tiba-tiba seseorang memasuki ruang rawatnya.
“Dongrin!” panggil seseorang itu
_TBC_
===
Siapakah orang yang masuk ke
ruang rawat Dongrin? Apakah Donghae? Heechul? Jongrin? Atau...apalah...tunggu
saja kelanjutannya XDD....haha
Tapi kayanya ini ff SaDS
terlebay yah XD,,hahai...
Semoga suka deh sama part yang
ini!
Ok..jangan lupa RLC yah! Ntar
kalo gak RLC gak gw lanjutin ~o~
Sampai ketemu di part
selanjutnya! Bubaay (~o ̄▽ ̄) #wush



0 comments:
Post a Comment