Friday, 16 March 2012

Story About Donghae's Sister [Part 4]

Posted by AkaneHeeHee at Friday, March 16, 2012

Title                       : Story About Donghae’s Sister Part 4
Author                  : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating                   : G
Category              : Family,Romance,Friendship,Tragedy,Angst,Comedy
Lenght                  : Short Story
Cast                       : Lee Dongrin (OC), Lee Donghae, Kim Heechul, Lee Donghwa, Jung Jinyoung (B1A4), and find the another cast.
Desclaimer          : I only own the plot, the characters are belong to themselves. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).

Story About Donghae’s Sister
===
[Author’s POV]
“Hai, manis, sendirian?” tanya salah seorang dari ketiga namja berbadan besar tersebut.
Aniyeo, aku bersama temanku!” ucap Dongrin dingin.
“Aku tidak melihat siapapun di sini!” ucap namja yang lain.
“Temanku sedang membeli es krim, kalian ini siapa?” ucap Dongrin masih dengan ekspresinya yang tadi. Lalu tanpa menunggu balasan dari ketiga namja itu, Dongrin segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Heechul yang masih sibuk membeli es krim.
Tetapi seorang namja yang sedari tadi diam, tiba-tiba mencengkram erat tangan Dongrin. “Apa yang kau lakukan? Lep-lepaskaaan!” ucap Dongrin berusaha meronta.
“Kau mau kemana manis? Ikut saja dengan kami!” ucap namja tadi. Lalu namja itu menarik paksa Dongrin.
“HENTIKAAANN~~” teriak Dongrin keras.
Ketiga namja itu kebingungan saat mereka dilihat orang-orang. Lalu setelah tempat tersebut mulai sepi. Ketiga orang namja itu menarik Dongrin lagi. Karena Dongrin selalu meronta, maka salah satu namja itu menggendong Dongrin di pundaknya *tau maksudku? Gini deh, bayangin aja kalo ada orang diculik gendongnya gimana! Haha,,*
Dongrin mencoba memukuli punggung namja itu. Dan mencoba untuk berteriak.
“OPPAAAA~~!” teriak Dongrin sambil terisak.
[Heechul POV]
“OPPAAAA~~!”
Aku mendengar suara teriakan seorang yeoja yang aku kenal. Itu suara Dongrin. Akupun segera berbalik dan mendapati Dongrin yang tengah digendong seorang berbadan besar dengan kedua temannya yang mengikuti dari belakang.
“Dongrin,” gumamku. Dan akupun segera melesat ke arah 3 orang namja berbadan besar itu.
Ketiga namja itu membawa Dongrin ke tempat yang sepi. Di situ ada seorang yeoja, tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena tempat itu lumayan gelap. Lalu namja yang menggendong Dongrin tadi menjatuhkan Dongrin.
Aku dapat mendengar Dongrin yang mengerang kesakitan, karena dijatuhkan begitu saja.
Perlahan tapi pasti aku maju. Mendekati ketiga namja dan seorang yeoja itu.
“Bunuh dia!” ucap yeoja misterius itu.
Aku menemukan sebongkah kayu yang lumayan besar. Dan akupun mengambilnya. Hanya kurang beberapa meter saja jarakku dari ketiga namja itu.
Akupun memberi Dongrin isyarat untuk diam. Dongrin hanya mengangguk kecil. Dan...
BUGGHH...BUGGHH...
2 namja berhasil kurobohkan, kurang satu namja lagi, tetapi sayang pukulanku meleset, dan dia berhasil memukul wajahku, darah segarpun keluar dari ujung bibirku. Karena marah, akupun mengeluarkan cakarku dan mulai mencakari wajahnya *oooyy...chul~ sejak kapan kau berubah jadi catman?? -o- *.
Untung aku berguru pada Heebum tentang‘Bagaimana Cara Mencakar Dengan Baik’. Dan saat namja itu mengerang kesakitan, akupun dengan gesit (?) mengambil kayu tadi dan memukulkannya tepat di kepala bagian belakang *MAMPUUS~~ XDD*.
Setelah namja itu roboh, aku segera menghampiri Dongrin yang wajahnya sudah sangat pucat. Aku mencari sosok yeoja misterius tadi, tapi sepertinya dia sudah kabur. Karena aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada diri Dongrin, akupun segera membawanya ke tempat tadi aku membeli es krim, aku mendudukkannya dan membelikannya sebotol air mineral.
“Dongrin, gwenchana?” ucapku sambil menggenggam tangannya yang gemetaran. Dongrin menggeleng lemah, lalu memegangi kepalanya. Selang beberapa detik, cairan kental itu keluar dari hidung Dongrin. Dan inilah hal yang sangat aku takutkan.
“Tidak...tidak, Dongrin~~~!!” ucapku dan mulai terisak saat Dongrin tiba-tiba jatuh di pelukanku. *Aaahh...author juga pingin digituiiiinn~~ #abaikan*
[Donghae POV]
Eomma, Dongrin kemana?” tanyaku pada eomma.
“Dia sedang jalan-jalan bersama Heechul, kenapa?” ucap eomma balik bertanya.
“Ya! Kenapa aku tidak diajak?” ucapku manyun.
“Kau kan tadi sedang ada schedule,” ucap eomma santai sambil mengotak-atik remote TV *kurang kerjaan XDD*
“Memang mereka pergi sejak kapan?” tanyaku.
“Sebenarnya sejak tadi jam 12 siang,” ucap eomma masih sibuk dengan remotenya.
“Kenapa sampai sekarang belum pulang? Ini kan sudah jam 3 sore,” ucapku sambil melirik ke arah jam.
Molla!” ucap eomma cuek. Lalu tiba-tiba ponselku berbunyi.
Call--> HeechulRella (?) Hyung
Akupun segera mengangkat telepon dari Heechul hyung. Aku berniat akan mengomelinya karena tidak mengajakku.
“Ya! Hyung~ kau itu...kenapa jalan-jalan tidak mengajakku? Aku kan...” ucapku terputus karena mendengar isakan tangis Heechul hyung.
“Donghae-ya!” ucap Heechul hyung masih terisak.
“Eh...Hyung? Waegurae? Hyung menangis?” tanyaku penasaran.
“Donghae-ya...Dongrin...dia, koma, dan sekarang berada di UGD...”
TUUUT~~TUUTT~~TUUUT~~~
Telepon Heechul hyung terputus. Akupun diam mematung sambil berusaha mencerna kata-kata Heechul hyung.
Nugu Donghae-ya?” tanya Leeteuk hyung. Dan ternyata para member Suju tengah berkumpul di ruang tengah.
“Heechul hyung,” ucapku dan akupun menjatuhkan ponselku.
Aku sudah tidak kuat menopang berat badanku. Kakiku lemas dan aku jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.
“Donghae-ya! Waegurae?” tanya Leeteuk hyung lagi. Aku hanya bisa menggeleng lemah.
Hyung...” ucapku.
Ne?” jawab Leeteuk hyung khawatir.
“Antarkan aku ke rumah sakit saat Dongrin dulu dirawat!” ucapku sambil mencoba tegar, walaupun rasanya sangat sulit.
[Dongrin POV]
Semuanya gelap,aku tidak tau aku sekarang berada di mana. Aku takut. Aku berusaha untuk berlari, tetapi gagal. Karena sedari tadi aku menginjak duri yang entah dari mana asalnya.
Apakah aku sudah mati?
Mungkin memang aku sudah mati.
Karena tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan putih samar-samar yang mendekatiku dan aku tidak merasakan detak jantungku.
“Dongrin~,” dia menyebut namaku. Suaranya sangat familiar.
Appa,” ucapku terkejut saat perlahan bayangan putih itu tampak lebih jelas. Dan ternyata bayangan itu adalah appaku. Appa yang sangat aku sayangi. Tetapi mengapa ia kemari? Apakah dia datang untuk menjemputku?
Appa, apakah aku sudah mati?” tanyaku.
“Belum, kau masih berada di tempat antara hidup dan mati. Tapi sepertinya kau masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan,” ucap appa.
“Maksud appa? Bukankah appa datang untuk menjemputku dan membawaku ke surga?” tanyaku tidak mengerti.
“Tidak! Aku ke sini hanya untuk membangunkanmu. Janganlah tidur terus! Kau tau kan, eomma selalu kesusahan untuk membangunkanmu. Dan sekarang appa yang akan membangunkanmu. Cepatlah bangun Dongrin,” ucapnya.
“Tapi appa...” tanyaku terputus.
“Sudahlah, appa akan baik-baik saja. Nanti setelah kau bangun, appa akan kembali ke surga lagi. Dan apabila sudah saatnya. Pasti appa akan menjemputmu. Sekarang bangunlah!” pintanya lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti kedua oppaku. Sangat manis.
Perlahan air mataku mengalir. “Selamat tinggal appa, maaf aku belum bisa menemanimu di surga” ucapku. Lalu tiba-tiba badanku terhempas ke sebuah lubang yang tidak ada dasarnya. Dan akhirnya...
DEG...DEG...DEG...
Aku merasakan detak jantungku lagi. Walaupun sangat lemah. Perlahan aku mencoba untuk membuka mataku. Tetapi rasanya berat sekali. Tiba-tiba suara appa berlalu di kepalaku “Bangun Dongrin!” dan seketika itu juga aku membuka mataku.
Terdengar suara tangisan bahagia yang entah dari mana asalnya. Mungkin dari eomma, dan oppaku yang terkenal cengeng. Tapi kenapa yang menangis bertambah banyak?
“A...aku, dimana?” tanyaku tiba-tiba. Lalu eomma memelukku. Donghae oppa memeluk Heechul oppa dan berkali-kali meminta maaf padanya.
Suasana menjadi hening. Hanya ada beberapa suara isakan tangis dari oppadeul, dan eomma.
Eomma, aku tadi bertemu appa,” ucapku mencairkan suasana. Sekaligus menambah tegang suasana.
Donghae oppa mendekatiku. “Aku tadi sekarat ,kan, eomma, oppa,” ucapku sambil memandang langit-langit ruang rawatku.
Appa yang memberitahuku” ucapku lagi. Aku merasa seperti berbicara sendiri. Karena yang lainnya hanya menatapku bingung dan sama sekali tidak merespon.
“Dongrin,” panggil Donghae oppa tiba-tiba.
“Apa yang kau bicarakan? Kau pasti hanya bermimpi tentang bertemu appa,” tambahnya.
“Benar oppa, aku bertemu dengannya di suatu tempat yang sangat gelap, dan dia memberitahuku kalau aku sedang berada di tempat antara hidup dan mati. Berarti aku sekarat, kan? Lalu dia memintaku untuk bangun. Karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup,” ucapku lagi.
Tiba-tiba mataku memanas. Dan aku merasakan ada beberapa butir air mengalir dari mataku.
“Aku takut, tapi aku ingin,” ucapku dalam sela-sela isakanku.
“Aku takut apabila aku meninggalkan kalian. Meninggalkan dunia ini. Tapi aku juga ingin menemani appa di sana,” ucapku masih dengan air mata yang mengalir deras.
“Sudah! Jangan diteruskan!” pinta eomma. Dan akhirnya aku menangis sejadi-jadinya di pelukan eomma.
[Heechul POV]
Seminggu sudah berlalu. Tetapi Dongrin masih harus dirawat di rumah sakit, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih lemah.
Karena hari ini aku tidak ada schedule, maka aku akan menjenguk Dongrin. Entahlah, beberapa hari ini aku jadi dekat dengan Dongrin.
Ah, tapi sudahlah, toh aku dekat dengannya sebagai teman. Tidak lebih.
Aku melangkahkan kakiku menelusuri koridor rumah sakit sambil membawa 2 batang coklat. Ya! Dongrin sama sepertiku. Dia sangat menyukai coklat, tapi bedanya aku suka coklat putih dan dia suka coklat biasa.
Aku sampai di depan pintu salah satu ruang dimana tempat Dongrin dirawat *author bahasanya beribet XDD* perlahan aku masuk, aku mendapati Dongrin yang sedang menatap lurus ke arah jendela sambil membawa sebuah buku gambar. Sedang menggambar kurasa.
Aku pun mendekatinya. Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku. Dia lalu menatap ke arah buku gambarnya dan mulai menggambar lagi.
“DONGRIIIINN~~” ucapku dengan nada yang terkesan menyeramkan.
“Kyaaaaaa!!!” teriak Dongrin sambil melemparkan buku gambarnya kekepalaku.
“Aaaww,” erangku kesakitan. Ternyata tenaganya kuat sekali walaupun dia sedang sakit.
“Eh...oppa, aku kira siapa. Sini oppa, duduk!” suruh Dongrin tanpa merasa bersalah telah memukul kepalaku tadi.
“O iya, tolong ambilkan bukuku!” pintanya.
‘Dasar anak ini. Sudah memukul kepalaku, tidak meminta maaf. Sekarang? Menyuruhku seenak jidat. Dasar yeoja menyebalkan,’ batinku kesal.
“Oppa kenapa kemari?” tanya Dongrin tiba-tiba. Ya ampun anak ini. Kalau aku kesini pastinya untuk menjenguk ,kan?
“Aku?” tanyaku sabil melirik Dongrin. Kulihat Dongrin yang mengangguk semangat.
“Aku ingin membunuhmu. Kyahahahaha,” ucapku mengeluarkan ketawa evilku.
“Kim Heechul, itu tidak lucu!” ucap Dongrin dengan wajah datar.
“Yaa! Kau beraninya memanggil namaku seperti itu! Dasar saeng menyebalkan. Aku tidak akan memberikanmu coklat ini!” ucapku manyun sambil memperlihatkan sebatang coklat. Aku tau, pasti perkataanku itu sangat ampuh untuk membuat Dongrin merengek-rengek minta maaf. Dan itu benar.
“Oppa, mianhae! Oppa,” ucap Dongrin sambil menarik lengan bajuku.
“Hei~heeei. ini baju mahal! Jangan di tarik-tariiik!” ucapku sambil melepaskan tangan Dongrin dari lengan bajuku.
“Maafkan aku dulu tapi,” ucap Dongrin.
“Iya! Iya! Tapi tetap tidak aku beri coklat ya!” ucapku.
“Yaa! Oppa~, kau jahat!”  ucap Dongrin lalu menjambak rambutku.
“Yaa! Dongrin hentikaan!” ucapku, lalu aku meraih rambutnya yang tergerai bebas, dan menjambaknya. Dan pada akhirnya kami berdua saling jambak-menjambak (?)
“Sudah...sudah! berhenti,” ucapku, dan akhirnya kami melepaskan rambut lawan masing-masing.
“Hhh...kau itu...sebenarnya sakit tidak sih?” tanyaku dengan suara terengah-engah.
“Kalau...aku...tidak sakit...kenapa aku ada di sini, hah?” ucap Dongrin yang juga terngah-engah.
“Lalu kenapa tenagamu tadi kuat sekali huh? Bukankah seharusnya orang sakit itu tenaganya lemah” ucapku.
“Memang kenapa kalau tenagaku kuat? Aku ikut club taekwondo tau!” ucap Dongrin. *apa hubungannya yak?*
“Hah? Ikut club taekwondo? Lalu kenapa waktu kau hampir dibunuh, kau tidak melawan?” ucapku seraya berdiri.
Tiba-tiba aku melihat pipi Dongrin sedikit memerah.
“Karena...” ucapnya terputus.
“Karena apa?” ucapku tak sabar.
“Karena aku ingin oppa melindungiku,” ucapnya pelan, ―tetapi cukup keras untuk dapat kudengar ― sambil memalingkan wajahnya. Sekilas aku melihat wajahnya tampak merah, semerah tomat busuk *author digampar Dongrin*ah, maksudku semerah kepiting rebus.
‘Sudahlah! Paling dia hanya terpesona dengan ketampananku,’ batinku narsis
“Huft~ capeeeek,” ucapku seraya mengambil minuman Dongrin, lalu meneguknya sampai habis. Dongrin yang mengetahui minumannya telah diminum olehku langsung berteriak tepat di telingaku.
“Yaa! Oppa itu minumankuu,” teriaknya.
“Lalu kenapa?” ucapku sinis sambil mengorek kupingku.
“Memangnya Oppa mau membelikanku lagi, huh?” ucapnya emosi.
“Hanya minuman kaleng saja, kenapa kau sewot? Lagipula, minuman seperti itu tidak baik untuk keadaanmu sekarang!” ucapku menceramahi Dongrin.
Dongrin hanya bisa menggembungkan pipinya dan memanyunkan bibirnya.
[Dongrin POV]
“Huft,  seharian bersama Heechul oppa? Apakah aku bisa tahan?” gumamku.
Aku melirik seorang namja yang tertidur di kursi sebelahku. Wajahnya manis semanis malaikat, tetapi hatinya...beuh...sekejam iblis. Tak kusangka ada orang seperti ini. Yah, kalau menurutku banyak sih orang seperti itu. Tapi hanya satu orang seperti itu yang dekat denganku. Dialah orangnya, Heechul oppa.
Saat sedang asik memandang wajah Heechul oppa, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan akupun segera mengangkatnya agar Heechul oppa tidak terbangun.
Call--> Jongrin Onnie
Yoboseo?” sapaku
“Dongrin! Kau di mana? Kenapa tadi kau tak masuk sekolah?” tanyanya.
Ya ampun. Pasti penyakit pelupanya kambuh lagi. ‘Aku kerjai saja dia. Kkk~~’batinku. *author di rajam Jongrin*
“Aku di rumah sakit Jongrin, uhuuk-uhuuk. Aku kecelakaan,” ucapku. Aku berusaha agar nada bicaraku terdengar semenderita mungkin.
“Hah? Jinjja? Kau di rumah sakit mana sekarang?” tanyanya panik
Saat aku akan menjawab, tiba-tiba seseorang mengambil alih ponselku.
“Dia membohongimu Jongrin! Sadarlah dari sifat pelupamu!” ucap orang tadi. Ya! Siapa lagi kalau bukan Heechul oppa. Lalu setelah mengatakan itu, Heechul mengembalikan ponselku. Akupun hanya bisa manyun karena Heechul oppa telah menggagalkan rencanaku mengerjai Jongrin onnie.
“Hah? Maksudnya?” ucap Jongrin bingung. Dan tiga detik kemudian dia berseru lagi. “Yaa! Aku baru sadar! Kau kan memang di rumah sakit! Haha... Ya sudah, aku kesana!”
Lagi-lagi Dongrin memanyunkan bibirnya. “Kau itu...kenapa dari tadi manyun terus, sih? Jelek tau!” ucap Heechul oppa.
“Memang kenapa kalau jelek? Aku kan bukan yeoja feminim yang hanya mementingkan kecantikan, dan kecantikan,” ucapku sinis.
“Hhh...terserah,” ucap Heechul oppa. Sepertinya dia sudah lelah menghadapi sikap keras kepalaku ini. Keke~
[Author POV]
“Hhh...kenapa aku belum diperbolehkan pulaang? Aku bosan di sini teruus (́_̀)!” gumam Dongrin.
Yah...sudah dua minggu dia di rumah sakit, tetapi dia belum diperbolehkan pulang. Karena tubuhnya belum menunjukkan perkembangan.
Lalu dia mengambil ipod yang ada di meja sebelahnya. Dan dia memutuskan untuk memutar lagu random. Pertama lagu yang diputar adalah ‘Super Junior – Hate U, Love U’. Lalu lagu kedua ‘TVXQ – Stand By U’. Dan pada lagu ketiga terdengar suara CL yang mulai menyanyikan lagu 2NE1 – Lonely.
Dongrin sedikit menikmati lagu tersebut sambil melamun, menatap kosong ke luar jendela. Karena mendengar lagu itu, dia mengingat teman masa kecilnya ‘Jinyoung’. Yang sekarang tak tau dimana.
Dia sangat ingat bagaimana dia dulu sering bermain petak umpet bersamanya. Tetapi suatu hari, saat Dongrin dan Jinyoung bermain petak umpet. Jinyoung meninggalkannya sendirian.
[Flashback]
“Donglin-aa ayo belmain petak umpet!” seru Jinyoung dengan suara cadelnya. Saat itu, mereka masih berumur 4 tahun. Dan Jinyoung adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Dongrin.
“Ayo!” seru Dongrin sambil berlari ke arah Jinyoung.
“Hompimpah~ alahiyum gambleng...nek ijah pake baju lombeng...Unyil kuciiing!! Unyil kuciiiing!” *Lah? Kok jadi unyil? Wokeh...ralat* “Gawi...Bawi...Bo” ucap mereka bersamaan.
“Young-ie jagaaa!” ucap Dongrin gembira.
“Kau hitung campai cepuyuh ya!” tambah Dongrin.
Jinyoung menutup matanya dan mulai menghitung.
“Han...Dul...Cet...Net...Daceot...Yeoceot...Ilgeop...Yeodeol...Ahop...Yeol...cudah ciap beyum? Aku cali ya!” seru Jinyoung.
Jinyoung mulai mencari Dongrin. Tetapi tiba-tiba orang tuanya datang dan menyuruhnya pulang.
“Jinyoung-ah. Cepat pulang, besok kita sudah harus pindah!” dan tanpa berpikir panjang. Jinyoung meninggalkan Dongrin sendirian yang sedang bersembunyi di balik semak-semak.
“Kkkk~ cepeltinya dia tidak atan menemutantu dicini” gumam Dongrin.
Hari makin lama semakin gelap. Dan Dongrin masih berpikir bahwa Jinyoung belum bisa menemukannya. Tetapi lama-kelamaan, dia menyadari satu hal. Bahwa Jinyoung telah meninggalkannya sendirian di taman.
Dongrin mulai menangis karena sekarang taman itu nampak gelap dan dia tidak tau jalan pulang ke rumah. “Oppa~” panggil Dongrin di sela-sela tangisnya. Lalu samar-samar dia mendengar suara kedua oppanya.
Dongrin segera keluar dari balik semak-semak, dan tampaklah 2 orang namja yang datang membawa senter. “Oppa!!” teriak Dongrin.
Kedua namja itu, Donghwa dan Donghae, segera berlari menghampiri yeosaeng mereka. Dongrin mulai menangis lagi, dan kali ini tangisnya makin keras. “Cup-cup! Uljjima uljjima. Oppa ada di sini” ucap Donghae menenangkan adiknya. Perlahan tangisnya mereda, dan hanya tinggal isakan-isakan kecil saja.
“Lalu dimana Jinyoung? Bukankah kau tadi bersama Jinyoung?” tanya Donghwa.
Molla~ Young-ie tiba-tiba menghiyang. Telus oppa datang” ucap Dongrin masih dengan suara cadelnya. “Apa Young-ie malah cama atu, ya? Jadi dia pelgi.” Tambahnya.
“Sudahlah! Lebih baik kita sekarang pulang. Eomma dan Appa nanti mengkhawatirkan kita” ucap Donghae.
[Flashback End]
Perlahan air mata Dongrin jatuh dan membuat sungai kecil di pipinya. Ia sangat rindu pada teman kecilnya itu. Walaupun sudah lama dia melupakannya.
Tiba-tiba seseorang memasuki ruang rawatnya.
“Dongrin!” panggil seseorang itu

_TBC_
===
Siapakah orang yang masuk ke ruang rawat Dongrin? Apakah Donghae? Heechul? Jongrin? Atau...apalah...tunggu saja kelanjutannya XDD....haha
Tapi kayanya ini ff SaDS terlebay yah XD,,hahai...
Semoga suka deh sama part yang ini!
Ok..jangan lupa RLC yah! Ntar kalo gak RLC gak gw lanjutin ~o~
Sampai ketemu di part selanjutnya! Bubaay (o) #wush

0 comments:

Post a Comment

Friday, 16 March 2012

Story About Donghae's Sister [Part 4]

Posted by AkaneHeeHee at Friday, March 16, 2012

Title                       : Story About Donghae’s Sister Part 4
Author                  : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating                   : G
Category              : Family,Romance,Friendship,Tragedy,Angst,Comedy
Lenght                  : Short Story
Cast                       : Lee Dongrin (OC), Lee Donghae, Kim Heechul, Lee Donghwa, Jung Jinyoung (B1A4), and find the another cast.
Desclaimer          : I only own the plot, the characters are belong to themselves. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).

Story About Donghae’s Sister
===
[Author’s POV]
“Hai, manis, sendirian?” tanya salah seorang dari ketiga namja berbadan besar tersebut.
Aniyeo, aku bersama temanku!” ucap Dongrin dingin.
“Aku tidak melihat siapapun di sini!” ucap namja yang lain.
“Temanku sedang membeli es krim, kalian ini siapa?” ucap Dongrin masih dengan ekspresinya yang tadi. Lalu tanpa menunggu balasan dari ketiga namja itu, Dongrin segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Heechul yang masih sibuk membeli es krim.
Tetapi seorang namja yang sedari tadi diam, tiba-tiba mencengkram erat tangan Dongrin. “Apa yang kau lakukan? Lep-lepaskaaan!” ucap Dongrin berusaha meronta.
“Kau mau kemana manis? Ikut saja dengan kami!” ucap namja tadi. Lalu namja itu menarik paksa Dongrin.
“HENTIKAAANN~~” teriak Dongrin keras.
Ketiga namja itu kebingungan saat mereka dilihat orang-orang. Lalu setelah tempat tersebut mulai sepi. Ketiga orang namja itu menarik Dongrin lagi. Karena Dongrin selalu meronta, maka salah satu namja itu menggendong Dongrin di pundaknya *tau maksudku? Gini deh, bayangin aja kalo ada orang diculik gendongnya gimana! Haha,,*
Dongrin mencoba memukuli punggung namja itu. Dan mencoba untuk berteriak.
“OPPAAAA~~!” teriak Dongrin sambil terisak.
[Heechul POV]
“OPPAAAA~~!”
Aku mendengar suara teriakan seorang yeoja yang aku kenal. Itu suara Dongrin. Akupun segera berbalik dan mendapati Dongrin yang tengah digendong seorang berbadan besar dengan kedua temannya yang mengikuti dari belakang.
“Dongrin,” gumamku. Dan akupun segera melesat ke arah 3 orang namja berbadan besar itu.
Ketiga namja itu membawa Dongrin ke tempat yang sepi. Di situ ada seorang yeoja, tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena tempat itu lumayan gelap. Lalu namja yang menggendong Dongrin tadi menjatuhkan Dongrin.
Aku dapat mendengar Dongrin yang mengerang kesakitan, karena dijatuhkan begitu saja.
Perlahan tapi pasti aku maju. Mendekati ketiga namja dan seorang yeoja itu.
“Bunuh dia!” ucap yeoja misterius itu.
Aku menemukan sebongkah kayu yang lumayan besar. Dan akupun mengambilnya. Hanya kurang beberapa meter saja jarakku dari ketiga namja itu.
Akupun memberi Dongrin isyarat untuk diam. Dongrin hanya mengangguk kecil. Dan...
BUGGHH...BUGGHH...
2 namja berhasil kurobohkan, kurang satu namja lagi, tetapi sayang pukulanku meleset, dan dia berhasil memukul wajahku, darah segarpun keluar dari ujung bibirku. Karena marah, akupun mengeluarkan cakarku dan mulai mencakari wajahnya *oooyy...chul~ sejak kapan kau berubah jadi catman?? -o- *.
Untung aku berguru pada Heebum tentang‘Bagaimana Cara Mencakar Dengan Baik’. Dan saat namja itu mengerang kesakitan, akupun dengan gesit (?) mengambil kayu tadi dan memukulkannya tepat di kepala bagian belakang *MAMPUUS~~ XDD*.
Setelah namja itu roboh, aku segera menghampiri Dongrin yang wajahnya sudah sangat pucat. Aku mencari sosok yeoja misterius tadi, tapi sepertinya dia sudah kabur. Karena aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada diri Dongrin, akupun segera membawanya ke tempat tadi aku membeli es krim, aku mendudukkannya dan membelikannya sebotol air mineral.
“Dongrin, gwenchana?” ucapku sambil menggenggam tangannya yang gemetaran. Dongrin menggeleng lemah, lalu memegangi kepalanya. Selang beberapa detik, cairan kental itu keluar dari hidung Dongrin. Dan inilah hal yang sangat aku takutkan.
“Tidak...tidak, Dongrin~~~!!” ucapku dan mulai terisak saat Dongrin tiba-tiba jatuh di pelukanku. *Aaahh...author juga pingin digituiiiinn~~ #abaikan*
[Donghae POV]
Eomma, Dongrin kemana?” tanyaku pada eomma.
“Dia sedang jalan-jalan bersama Heechul, kenapa?” ucap eomma balik bertanya.
“Ya! Kenapa aku tidak diajak?” ucapku manyun.
“Kau kan tadi sedang ada schedule,” ucap eomma santai sambil mengotak-atik remote TV *kurang kerjaan XDD*
“Memang mereka pergi sejak kapan?” tanyaku.
“Sebenarnya sejak tadi jam 12 siang,” ucap eomma masih sibuk dengan remotenya.
“Kenapa sampai sekarang belum pulang? Ini kan sudah jam 3 sore,” ucapku sambil melirik ke arah jam.
Molla!” ucap eomma cuek. Lalu tiba-tiba ponselku berbunyi.
Call--> HeechulRella (?) Hyung
Akupun segera mengangkat telepon dari Heechul hyung. Aku berniat akan mengomelinya karena tidak mengajakku.
“Ya! Hyung~ kau itu...kenapa jalan-jalan tidak mengajakku? Aku kan...” ucapku terputus karena mendengar isakan tangis Heechul hyung.
“Donghae-ya!” ucap Heechul hyung masih terisak.
“Eh...Hyung? Waegurae? Hyung menangis?” tanyaku penasaran.
“Donghae-ya...Dongrin...dia, koma, dan sekarang berada di UGD...”
TUUUT~~TUUTT~~TUUUT~~~
Telepon Heechul hyung terputus. Akupun diam mematung sambil berusaha mencerna kata-kata Heechul hyung.
Nugu Donghae-ya?” tanya Leeteuk hyung. Dan ternyata para member Suju tengah berkumpul di ruang tengah.
“Heechul hyung,” ucapku dan akupun menjatuhkan ponselku.
Aku sudah tidak kuat menopang berat badanku. Kakiku lemas dan aku jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.
“Donghae-ya! Waegurae?” tanya Leeteuk hyung lagi. Aku hanya bisa menggeleng lemah.
Hyung...” ucapku.
Ne?” jawab Leeteuk hyung khawatir.
“Antarkan aku ke rumah sakit saat Dongrin dulu dirawat!” ucapku sambil mencoba tegar, walaupun rasanya sangat sulit.
[Dongrin POV]
Semuanya gelap,aku tidak tau aku sekarang berada di mana. Aku takut. Aku berusaha untuk berlari, tetapi gagal. Karena sedari tadi aku menginjak duri yang entah dari mana asalnya.
Apakah aku sudah mati?
Mungkin memang aku sudah mati.
Karena tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan putih samar-samar yang mendekatiku dan aku tidak merasakan detak jantungku.
“Dongrin~,” dia menyebut namaku. Suaranya sangat familiar.
Appa,” ucapku terkejut saat perlahan bayangan putih itu tampak lebih jelas. Dan ternyata bayangan itu adalah appaku. Appa yang sangat aku sayangi. Tetapi mengapa ia kemari? Apakah dia datang untuk menjemputku?
Appa, apakah aku sudah mati?” tanyaku.
“Belum, kau masih berada di tempat antara hidup dan mati. Tapi sepertinya kau masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan,” ucap appa.
“Maksud appa? Bukankah appa datang untuk menjemputku dan membawaku ke surga?” tanyaku tidak mengerti.
“Tidak! Aku ke sini hanya untuk membangunkanmu. Janganlah tidur terus! Kau tau kan, eomma selalu kesusahan untuk membangunkanmu. Dan sekarang appa yang akan membangunkanmu. Cepatlah bangun Dongrin,” ucapnya.
“Tapi appa...” tanyaku terputus.
“Sudahlah, appa akan baik-baik saja. Nanti setelah kau bangun, appa akan kembali ke surga lagi. Dan apabila sudah saatnya. Pasti appa akan menjemputmu. Sekarang bangunlah!” pintanya lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti kedua oppaku. Sangat manis.
Perlahan air mataku mengalir. “Selamat tinggal appa, maaf aku belum bisa menemanimu di surga” ucapku. Lalu tiba-tiba badanku terhempas ke sebuah lubang yang tidak ada dasarnya. Dan akhirnya...
DEG...DEG...DEG...
Aku merasakan detak jantungku lagi. Walaupun sangat lemah. Perlahan aku mencoba untuk membuka mataku. Tetapi rasanya berat sekali. Tiba-tiba suara appa berlalu di kepalaku “Bangun Dongrin!” dan seketika itu juga aku membuka mataku.
Terdengar suara tangisan bahagia yang entah dari mana asalnya. Mungkin dari eomma, dan oppaku yang terkenal cengeng. Tapi kenapa yang menangis bertambah banyak?
“A...aku, dimana?” tanyaku tiba-tiba. Lalu eomma memelukku. Donghae oppa memeluk Heechul oppa dan berkali-kali meminta maaf padanya.
Suasana menjadi hening. Hanya ada beberapa suara isakan tangis dari oppadeul, dan eomma.
Eomma, aku tadi bertemu appa,” ucapku mencairkan suasana. Sekaligus menambah tegang suasana.
Donghae oppa mendekatiku. “Aku tadi sekarat ,kan, eomma, oppa,” ucapku sambil memandang langit-langit ruang rawatku.
Appa yang memberitahuku” ucapku lagi. Aku merasa seperti berbicara sendiri. Karena yang lainnya hanya menatapku bingung dan sama sekali tidak merespon.
“Dongrin,” panggil Donghae oppa tiba-tiba.
“Apa yang kau bicarakan? Kau pasti hanya bermimpi tentang bertemu appa,” tambahnya.
“Benar oppa, aku bertemu dengannya di suatu tempat yang sangat gelap, dan dia memberitahuku kalau aku sedang berada di tempat antara hidup dan mati. Berarti aku sekarat, kan? Lalu dia memintaku untuk bangun. Karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup,” ucapku lagi.
Tiba-tiba mataku memanas. Dan aku merasakan ada beberapa butir air mengalir dari mataku.
“Aku takut, tapi aku ingin,” ucapku dalam sela-sela isakanku.
“Aku takut apabila aku meninggalkan kalian. Meninggalkan dunia ini. Tapi aku juga ingin menemani appa di sana,” ucapku masih dengan air mata yang mengalir deras.
“Sudah! Jangan diteruskan!” pinta eomma. Dan akhirnya aku menangis sejadi-jadinya di pelukan eomma.
[Heechul POV]
Seminggu sudah berlalu. Tetapi Dongrin masih harus dirawat di rumah sakit, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih lemah.
Karena hari ini aku tidak ada schedule, maka aku akan menjenguk Dongrin. Entahlah, beberapa hari ini aku jadi dekat dengan Dongrin.
Ah, tapi sudahlah, toh aku dekat dengannya sebagai teman. Tidak lebih.
Aku melangkahkan kakiku menelusuri koridor rumah sakit sambil membawa 2 batang coklat. Ya! Dongrin sama sepertiku. Dia sangat menyukai coklat, tapi bedanya aku suka coklat putih dan dia suka coklat biasa.
Aku sampai di depan pintu salah satu ruang dimana tempat Dongrin dirawat *author bahasanya beribet XDD* perlahan aku masuk, aku mendapati Dongrin yang sedang menatap lurus ke arah jendela sambil membawa sebuah buku gambar. Sedang menggambar kurasa.
Aku pun mendekatinya. Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku. Dia lalu menatap ke arah buku gambarnya dan mulai menggambar lagi.
“DONGRIIIINN~~” ucapku dengan nada yang terkesan menyeramkan.
“Kyaaaaaa!!!” teriak Dongrin sambil melemparkan buku gambarnya kekepalaku.
“Aaaww,” erangku kesakitan. Ternyata tenaganya kuat sekali walaupun dia sedang sakit.
“Eh...oppa, aku kira siapa. Sini oppa, duduk!” suruh Dongrin tanpa merasa bersalah telah memukul kepalaku tadi.
“O iya, tolong ambilkan bukuku!” pintanya.
‘Dasar anak ini. Sudah memukul kepalaku, tidak meminta maaf. Sekarang? Menyuruhku seenak jidat. Dasar yeoja menyebalkan,’ batinku kesal.
“Oppa kenapa kemari?” tanya Dongrin tiba-tiba. Ya ampun anak ini. Kalau aku kesini pastinya untuk menjenguk ,kan?
“Aku?” tanyaku sabil melirik Dongrin. Kulihat Dongrin yang mengangguk semangat.
“Aku ingin membunuhmu. Kyahahahaha,” ucapku mengeluarkan ketawa evilku.
“Kim Heechul, itu tidak lucu!” ucap Dongrin dengan wajah datar.
“Yaa! Kau beraninya memanggil namaku seperti itu! Dasar saeng menyebalkan. Aku tidak akan memberikanmu coklat ini!” ucapku manyun sambil memperlihatkan sebatang coklat. Aku tau, pasti perkataanku itu sangat ampuh untuk membuat Dongrin merengek-rengek minta maaf. Dan itu benar.
“Oppa, mianhae! Oppa,” ucap Dongrin sambil menarik lengan bajuku.
“Hei~heeei. ini baju mahal! Jangan di tarik-tariiik!” ucapku sambil melepaskan tangan Dongrin dari lengan bajuku.
“Maafkan aku dulu tapi,” ucap Dongrin.
“Iya! Iya! Tapi tetap tidak aku beri coklat ya!” ucapku.
“Yaa! Oppa~, kau jahat!”  ucap Dongrin lalu menjambak rambutku.
“Yaa! Dongrin hentikaan!” ucapku, lalu aku meraih rambutnya yang tergerai bebas, dan menjambaknya. Dan pada akhirnya kami berdua saling jambak-menjambak (?)
“Sudah...sudah! berhenti,” ucapku, dan akhirnya kami melepaskan rambut lawan masing-masing.
“Hhh...kau itu...sebenarnya sakit tidak sih?” tanyaku dengan suara terengah-engah.
“Kalau...aku...tidak sakit...kenapa aku ada di sini, hah?” ucap Dongrin yang juga terngah-engah.
“Lalu kenapa tenagamu tadi kuat sekali huh? Bukankah seharusnya orang sakit itu tenaganya lemah” ucapku.
“Memang kenapa kalau tenagaku kuat? Aku ikut club taekwondo tau!” ucap Dongrin. *apa hubungannya yak?*
“Hah? Ikut club taekwondo? Lalu kenapa waktu kau hampir dibunuh, kau tidak melawan?” ucapku seraya berdiri.
Tiba-tiba aku melihat pipi Dongrin sedikit memerah.
“Karena...” ucapnya terputus.
“Karena apa?” ucapku tak sabar.
“Karena aku ingin oppa melindungiku,” ucapnya pelan, ―tetapi cukup keras untuk dapat kudengar ― sambil memalingkan wajahnya. Sekilas aku melihat wajahnya tampak merah, semerah tomat busuk *author digampar Dongrin*ah, maksudku semerah kepiting rebus.
‘Sudahlah! Paling dia hanya terpesona dengan ketampananku,’ batinku narsis
“Huft~ capeeeek,” ucapku seraya mengambil minuman Dongrin, lalu meneguknya sampai habis. Dongrin yang mengetahui minumannya telah diminum olehku langsung berteriak tepat di telingaku.
“Yaa! Oppa itu minumankuu,” teriaknya.
“Lalu kenapa?” ucapku sinis sambil mengorek kupingku.
“Memangnya Oppa mau membelikanku lagi, huh?” ucapnya emosi.
“Hanya minuman kaleng saja, kenapa kau sewot? Lagipula, minuman seperti itu tidak baik untuk keadaanmu sekarang!” ucapku menceramahi Dongrin.
Dongrin hanya bisa menggembungkan pipinya dan memanyunkan bibirnya.
[Dongrin POV]
“Huft,  seharian bersama Heechul oppa? Apakah aku bisa tahan?” gumamku.
Aku melirik seorang namja yang tertidur di kursi sebelahku. Wajahnya manis semanis malaikat, tetapi hatinya...beuh...sekejam iblis. Tak kusangka ada orang seperti ini. Yah, kalau menurutku banyak sih orang seperti itu. Tapi hanya satu orang seperti itu yang dekat denganku. Dialah orangnya, Heechul oppa.
Saat sedang asik memandang wajah Heechul oppa, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan akupun segera mengangkatnya agar Heechul oppa tidak terbangun.
Call--> Jongrin Onnie
Yoboseo?” sapaku
“Dongrin! Kau di mana? Kenapa tadi kau tak masuk sekolah?” tanyanya.
Ya ampun. Pasti penyakit pelupanya kambuh lagi. ‘Aku kerjai saja dia. Kkk~~’batinku. *author di rajam Jongrin*
“Aku di rumah sakit Jongrin, uhuuk-uhuuk. Aku kecelakaan,” ucapku. Aku berusaha agar nada bicaraku terdengar semenderita mungkin.
“Hah? Jinjja? Kau di rumah sakit mana sekarang?” tanyanya panik
Saat aku akan menjawab, tiba-tiba seseorang mengambil alih ponselku.
“Dia membohongimu Jongrin! Sadarlah dari sifat pelupamu!” ucap orang tadi. Ya! Siapa lagi kalau bukan Heechul oppa. Lalu setelah mengatakan itu, Heechul mengembalikan ponselku. Akupun hanya bisa manyun karena Heechul oppa telah menggagalkan rencanaku mengerjai Jongrin onnie.
“Hah? Maksudnya?” ucap Jongrin bingung. Dan tiga detik kemudian dia berseru lagi. “Yaa! Aku baru sadar! Kau kan memang di rumah sakit! Haha... Ya sudah, aku kesana!”
Lagi-lagi Dongrin memanyunkan bibirnya. “Kau itu...kenapa dari tadi manyun terus, sih? Jelek tau!” ucap Heechul oppa.
“Memang kenapa kalau jelek? Aku kan bukan yeoja feminim yang hanya mementingkan kecantikan, dan kecantikan,” ucapku sinis.
“Hhh...terserah,” ucap Heechul oppa. Sepertinya dia sudah lelah menghadapi sikap keras kepalaku ini. Keke~
[Author POV]
“Hhh...kenapa aku belum diperbolehkan pulaang? Aku bosan di sini teruus (́_̀)!” gumam Dongrin.
Yah...sudah dua minggu dia di rumah sakit, tetapi dia belum diperbolehkan pulang. Karena tubuhnya belum menunjukkan perkembangan.
Lalu dia mengambil ipod yang ada di meja sebelahnya. Dan dia memutuskan untuk memutar lagu random. Pertama lagu yang diputar adalah ‘Super Junior – Hate U, Love U’. Lalu lagu kedua ‘TVXQ – Stand By U’. Dan pada lagu ketiga terdengar suara CL yang mulai menyanyikan lagu 2NE1 – Lonely.
Dongrin sedikit menikmati lagu tersebut sambil melamun, menatap kosong ke luar jendela. Karena mendengar lagu itu, dia mengingat teman masa kecilnya ‘Jinyoung’. Yang sekarang tak tau dimana.
Dia sangat ingat bagaimana dia dulu sering bermain petak umpet bersamanya. Tetapi suatu hari, saat Dongrin dan Jinyoung bermain petak umpet. Jinyoung meninggalkannya sendirian.
[Flashback]
“Donglin-aa ayo belmain petak umpet!” seru Jinyoung dengan suara cadelnya. Saat itu, mereka masih berumur 4 tahun. Dan Jinyoung adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Dongrin.
“Ayo!” seru Dongrin sambil berlari ke arah Jinyoung.
“Hompimpah~ alahiyum gambleng...nek ijah pake baju lombeng...Unyil kuciiing!! Unyil kuciiiing!” *Lah? Kok jadi unyil? Wokeh...ralat* “Gawi...Bawi...Bo” ucap mereka bersamaan.
“Young-ie jagaaa!” ucap Dongrin gembira.
“Kau hitung campai cepuyuh ya!” tambah Dongrin.
Jinyoung menutup matanya dan mulai menghitung.
“Han...Dul...Cet...Net...Daceot...Yeoceot...Ilgeop...Yeodeol...Ahop...Yeol...cudah ciap beyum? Aku cali ya!” seru Jinyoung.
Jinyoung mulai mencari Dongrin. Tetapi tiba-tiba orang tuanya datang dan menyuruhnya pulang.
“Jinyoung-ah. Cepat pulang, besok kita sudah harus pindah!” dan tanpa berpikir panjang. Jinyoung meninggalkan Dongrin sendirian yang sedang bersembunyi di balik semak-semak.
“Kkkk~ cepeltinya dia tidak atan menemutantu dicini” gumam Dongrin.
Hari makin lama semakin gelap. Dan Dongrin masih berpikir bahwa Jinyoung belum bisa menemukannya. Tetapi lama-kelamaan, dia menyadari satu hal. Bahwa Jinyoung telah meninggalkannya sendirian di taman.
Dongrin mulai menangis karena sekarang taman itu nampak gelap dan dia tidak tau jalan pulang ke rumah. “Oppa~” panggil Dongrin di sela-sela tangisnya. Lalu samar-samar dia mendengar suara kedua oppanya.
Dongrin segera keluar dari balik semak-semak, dan tampaklah 2 orang namja yang datang membawa senter. “Oppa!!” teriak Dongrin.
Kedua namja itu, Donghwa dan Donghae, segera berlari menghampiri yeosaeng mereka. Dongrin mulai menangis lagi, dan kali ini tangisnya makin keras. “Cup-cup! Uljjima uljjima. Oppa ada di sini” ucap Donghae menenangkan adiknya. Perlahan tangisnya mereda, dan hanya tinggal isakan-isakan kecil saja.
“Lalu dimana Jinyoung? Bukankah kau tadi bersama Jinyoung?” tanya Donghwa.
Molla~ Young-ie tiba-tiba menghiyang. Telus oppa datang” ucap Dongrin masih dengan suara cadelnya. “Apa Young-ie malah cama atu, ya? Jadi dia pelgi.” Tambahnya.
“Sudahlah! Lebih baik kita sekarang pulang. Eomma dan Appa nanti mengkhawatirkan kita” ucap Donghae.
[Flashback End]
Perlahan air mata Dongrin jatuh dan membuat sungai kecil di pipinya. Ia sangat rindu pada teman kecilnya itu. Walaupun sudah lama dia melupakannya.
Tiba-tiba seseorang memasuki ruang rawatnya.
“Dongrin!” panggil seseorang itu

_TBC_
===
Siapakah orang yang masuk ke ruang rawat Dongrin? Apakah Donghae? Heechul? Jongrin? Atau...apalah...tunggu saja kelanjutannya XDD....haha
Tapi kayanya ini ff SaDS terlebay yah XD,,hahai...
Semoga suka deh sama part yang ini!
Ok..jangan lupa RLC yah! Ntar kalo gak RLC gak gw lanjutin ~o~
Sampai ketemu di part selanjutnya! Bubaay (o) #wush

0 Comments on "Story About Donghae's Sister [Part 4]"

Post a Comment

 

♛Yuuki's Journal★ Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting