Title : Memories Part 2 –End– [Sequel of Story
About Donghae’s Sister]
Author : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating : T
Category : Romance, Sad, Comedy, Family
Lenght : Twoshoot
Cast : Lee Kiseop, Lee Kihyun (OC), Kim Jongrin (OC),
Cho Kyuhyun, Lee Donghae and find the other cast
Cover
Credit : Edited by AkaneHeeHee
Disclaimer : I only own the plot, the characters
are belong to themselves, do not take it out withouth permission. The pictures
in this fiction isn’t mine. I take it out from tumblr.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE
THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
Memories
===
[Dongrin POV]
“Ah...hyung!” pekik Kyuhyun.
Aku dan Heechul Oppa hanya bisa mematung dan saling
berpandangan. Aku masih bergelut dengan pikiranku yang sekarang sudah melayang
ke beberapa tahun yang lalu, di mana terakhir kalinya aku melihat sosok oppaku.
Tiba-tiba sepasang tangan memelukku erat, itu oppaku. Aku semakin
mematung, mulutku kelu tak dapat bergerak. Donghae Oppa segera meraih
‘tubuh’ Heechul Oppa dan memeluknya dengan erat.
“Dongrin-a...Heechul Hyung...kembalilah...kumohon!”
isak Donghae Oppa yang masih memelukku dan Heechul Oppa.
Setelah Donghae Oppa mengatakan itu, ‘tubuh’ ku
terasa aneh, aku...menginjak lantai?
“Tidak mungkin...” gumamku. Aku memandang ke arah Heechul Oppa
lagi.
Ternyata dia juga sama denganku, dia menginjak lantai, dan
wajahnya perlahan tampak seperti manusia hidup. Aku hanya bisa menggeleng
lemah.
“Apakah ini yang akan terjadi? Oh tidak...tidak...kumohon
jangan sekarang!” gumamku.
“Dongrin-aa apa yang kau katakan?” tanya Donghae Oppa
yang sudah melepas pelukannya.
Air mataku tumpah. Aku tak ingin berpisah dari mereka lagi.
Biarkan aku seperti ini, asalkan aku masih bisa melihat sosok mereka. Aku tidak
ingin rohku juga pergi dari mereka.
Aku melihat pergelangan tanganku. Perlahan tanganku terkikis
menjadi pasir yang berterbangan. “Oppa...” air mataku semakin deras.
“Dongrin-a!”
Aku berjalan mendekati Heechul Oppa, kemudian
menggenggam tangannya. Walaupun tangan kami sudah terkikis setengah, tetapi
pegangan kami masih erat.
“Semuanya...selamat tinggal untuk yang kedua kalinya,”
ucapku. Dan kemudian aku tidak merasakan apapun. Aku...lenyap, bersama dengan
kenangan-kenanganku.
[Author POV]
Another Place in Same Time
“Oppa!!!” teriak seorang gadis yang baru saja pulang.
“Heung?” gumam lelaki yang dipanggil ‘oppa’ tadi dari
dalam dapur. Lelaki itu sedang membawa berbagai macam snack yang diambilnya
dari kulkas.
“Kenapa ruang tamu bisa jadi sangat berantakan, dan untuk
apa makanan sebanyak itu?” tanya gadis itu bertubi-tubi.
“Err...yang itu tidak tahu, dan ini untuk teman-temanku, wae?”
“Hah? Nugu?”
“Nae Chingu,” dengus lelaki itu pelan.
“U-Kiss member?” tiba-tiba gadis itu menjadi sumringah.
“Ani...” ucap lelaki itu datar sehingga membuat sang
gadis mendecak kesal.
“Oppaaa...kenapa lama sekali?” terdengar suara beberapa
gadis yang berasal dari lantai dua.
“Ehheem...oppa, kau membawa siapa?” tanya gadis itu
dengan wajah ingin membunuh.
“Ehe...Kihyun-a, biarkan oppamu ini bersenang-senang
sebentar, jebal,” ucap lelaki tadi dengan wajah memelas.
Tiba-tiba dari lantai dua, tampaklah dua orang gadis yang
cantik jelita ―mungkin ulzzang― yang memasang wajah imutnya.
“Oppa...siapa dia? Apakah tamu baru?” tanya salah
seorang gadis.
“Lee Kiseop, kau ingin membuat skandal baru, ya?” ucap gadis
bernama Kihyun tadi dengan berkacak pinggang.
“Aiiyaa! Kenapa kau memanggilku seperti itu? Aku ini oppamu!”
seru lelaki yang bernama Kiseop itu tidak terima.
“Kenapa? Kita hanya berjarak tiga menit!” ucap Kihyun dengan
wajah datar.
“Aiish...arasseo ini yang terakhir,” janji Kiseop.
“Awas kalau bohong!” ucap Kihyun dengan nada mengancam.
Kiseop hanya bisa mendengus pelan, kemudian beranjak ke
lantai atas. Tetapi baru beberapa anak tangga yang dinaikinya, dia berbalik.
“Kihyun-a!” panggilnya.
“Wae?” balas Kihyun dengan malas.
“Kau tidak keberatan, kan kalau kau yang membeli keperluan
isi kulkas?” suruh Kiseop dengan entengnya.
Kihyun hanya bisa mendecak kesal dan memutar bola matanya
dengan sebal. “Arasseo, aku pergi sekarang,” ucapnya kemudian menyambar
tas dan jaketnya.
“Aah...tunggu!”
“Apa lagi?”
“Mianhae.”
“Emh...tumben. Annyeong!” sindirinya, kemudian
berlalu.
[Author POV]
“Dongrin...” gumam Donghae yang masih tidak percaya dengan
apa yang terjadi.
“Hyung...” Kyuhyun menepuk pelan pundak Donghae. “aku
tahu ini berat bagimu, tapi aku harap kau tidak terlalu memikirkannya, relakan
mereka pergi.”
Donghae hanya terdiam menatap udara kosong.
“Hyung...”
“A-aku harus pergi sekarang,” ucap Donghae pelan seraya
menyembunyikan kesedihannya yang mendalam.
“Hyung, gwenchana?” tanya Kyuhyun hati-hati.
“Hmm...gwenchana,” ucap Donghae seraya memaksakan
seulas senyum. Dan dengan segera dia pergi dari rumah Kyuhyun dan Jongrin.
[Donghae POV]
Sampai sekarang aku masih belum mempercayainya, itu tadi
pasti hanya ilusi, ya...hanya ilusi.
Karena rumah Kyuhyun yang letaknya dekat dengan Namsan
Tower, aku berniat ke sana. Aku merapatkan jaketku karena malam ini sedang
turun salju.
Aku menyapu tumpukan salju itu dengan kakiku. Tetapi
tiba-tiba memoriku berputar ke beberapa tahun yang lalu, di mana Dongrin yang
sangat senang ketika eomma membolehkannya keluar dan bermain salju. Tanpa ku
sadari, air mataku menetes. Aku menangis dalam diam.
‘Oppa...jangan cengeng!’ tiba-tiba suara Dongrin
terngiang dalam kepalaku. Dengan segera aku menghapus air mataku kemudian membayangkan
wajahnya yang sedang tersenyum.
“Cish, babo namja, michyeoseo...oppa sialan!”
tiba-tiba seorang gadis berlalu seraya menggerutu.
Entahlah ini deja vu atau apa, tetapi aku merasa
gadis tadi seperti Dongrin. Hal itu terlihat sangat jelas dari pandangan
matanya, cara berjalannya, dan cara berbicaranya, wajahnya pun juga hampir
mirip.
Karena penasaran, aku pun mengikutinya. Ternyata gadis itu
pergi ke sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari tempatku semula.
“Annyeonghaseyo~” ucap gadis itu saat memasuki mini
market.
Aku segera memakai maskerku agar tidak ada orang yang
menyadari keberadaan seorang Lee Donghae yang sedang berkeliaran malam-malam.
Setelah dirasa wajahku sudah tidak dikenali, akupun memasuki mini market itu.
“...bukankah tiga hari yang lalu kau sudah berbelanja
banyak?” tanya ahjumma penjaga mini market itu.
“Ck...ahjumma kan tahu sendiri bagaimana oppaku
itu,” jelas gadis itu.
“Ah, eosse esseoyo,” sapa ahjumma itu saat menyadari
keberadaanku.
“Euh...ah, ne,” balasku canggung.
“Ya sudah ahjumma, nanti kita lanjutkan
mengobrolnya,” ucap gadis itu menyudahi pembicaraannya dengan ahjumma
pejaga mini market itu.
[Kihyun POV]
Call : 바보
남자 (Babo
Namja)
“Mwo?” ucapku datar
“Belikan aku snack!” suruh oppaku
dengan entengnya
“S-H-I-R-E-O, shireo!” bentakku
kemudian langsung mematikan sambungannya.
Call : 바보
남자
“Sudah kubilang aku tidak mau! Aku
bukan pembantu!”
“Ya! Ya! Jangan ditutup!” suruhnya.
Tapi terlambat, aku sudah menutupnya dan melanjutkan kegiatanku yang tertunda.
“Haish...” aku mendengus kesal,
kemudian mematikan ponselku.
===
‘BRUUKK!’
“Ah, mianhamni―Ya! Kenapa kau
ke sini, huh?” bentakku saat melihat seseorang yang kutabrak, oppaku.
“Kenapa? Tak ada undang-undang yang
mengatur. Lagipula aku ke sini untuk membelikan snack member U-Kiss,” balasnya
dengan ketus.
“Tapi tadi kau bilang aku yang kau
suruh belanja, lalu kau datang ke sini, maksudmu apa huh?” bentakku sehingga
banyak orang yang melihat dan mulai berbisik-bisik.
“Salah siapa kalau tadi aku suruh
tidak mau?”
“Grr....itu karena kau sudah
menghabiskan seluruh makanan di kulkas hanya untuk teman yeojamu!”
“Kenapa kau selalu mengaturku? Atur
saja kehidupanmu sendiri! Kau tahu, aku ini lebih tua darimu!”
“Jangan membentakku seperti itu!
Walaupun kau lebih tua, tapi kita hanya berjarak tiga menit, bukan tiga tahun! Babo
namja!”
“Tapi tetap saja aku yang lebih tua
darimu! Micheyo yeoja. Kenapa sih, dulu eomma harus melahirkanmu
juga? Kau itu tidak berguna!” bentaknya kepadaku.
Aku tertegun, air mataku mendesak
untuk keluar, tetapi aku menahannya. Setahuku, saudara kembar itu tak pernah
menyesal dilahirkan berdua. Aku benar-benar tak menyangka oppaku akan
mengatakan hal tabu seperti itu. Entah setan apa yang merasukinya sekarang.
“Ya! Ya! Sudah hentikan pertengkaran
kalian dan kita pulang,” tiba-tiba Soohyun Oppa, dan juga Eli datang
melerai.
“Aku benci oppa!” gumamku,
kemudian berlari keluar.
“Kihyun-a tunggu!” seru Eli, tetapi
aku tak menanggapinya.
Aku berlari sekencang mungkin menuju
taman favoritku, walaupun tempatnya lumayan jauh, tetapi aku tetap bersikeras
pergi ke sana. Tanpa kusadari, air mataku tumpah. Oppaku...dia sungguh
kejam! Dia tak pernah mengerti dan menghargaiku.
Akhirnya, aku sampai di taman itu,
kemudian duduk di salah satu kursi ayunan.
“Eomma...” gumamku di tengah isakan tangis.
Aku mengayunkan ayunan itu, dan berusaha
melupakan kejadian tadi. Aku menghidupkan kembali ponselku. Ada sepuluh
panggilan tak terjawab.
Aku kembali mengayunkan ayunan itu,
tiba-tiba kepalaku pusing hebat dan mataku berkunang-kunang. Aku mencoba
berdiri, tetapi kemudian semuanya menjadi serba putih.
[Kiseop POV]
“Kiseop-a...kau harus meminta maaf
padanya! Perkataanmu tadi terlalu kasar,” suruh Soohyun Hyung kepadaku.
Aku tidak menggubrisnya, kemudian
memandang keluar jendela dorm. Ya, aku tidak pulang ke rumah, tetapi ke dorm.
“Danyeo waseumnida...”sapa dua
orang yang baru saja datang, AJ dan Hoon
“Danyeo oseyo...” balas
semuanya, kecuali aku.
“Loh? Ada apa ini? Kok suasananya
tegang?” tanya Hoon.
Soohyun Hyung memberi mereka
isyarat untuk diam. Mereka yang sadar akan isyarat itu segera menutup mulut
mereka dan menjauh.
“Hyung, kurasa benar apa yang
dikatakan Soohyun Hyung. Kau terlalu kasar padanya. Walaupun dia
kembaranmu, tetapi dia tetap dongsaengmu. Kurasa dia membentakmu tadi
karena kau kurang menghargainya dan kurang mengerti bagaimana perasaannya. Kau
tahu hyung, wanita itu perasaanya lemah dan sensitif,” ucap Dongho.
Aku mencerna kembali perkataan Dongho, ada benarnya juga perkataannya. Aku berjalan
mendekatinya, kemudian menepuk pundaknya sekilas.
“Gomawo, kau memang dongsaeng
terhebat!” ucapku memujinya.
“Jadi, bagaimana keputusanmu? Kau akan
meminta maaf padanya?” tanya Eli.
“Ne, tapi tidak sekarang,”
ucapku.
“Wae?” tanya Dongho.
“Aku rasa dia masih marah padaku, dan
tak akan mengangkat teleponnya.”
“Baiklah, kami akan selalu
mendukungmu, hwaiting!” ucap Soohyun Hyung seraya mengepalkan
kedua tangannya di udara.
[Kihyun POV]
Akh...kepalaku sakit sekali...mataku
juga jadi sangat berat.
Aku mencoba membuka mataku perlahan,
kemudian mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
‘Aku di mana?’ batinku. ‘Ini tidak
terlihat seperti kamarku atau babo namja itu. Apakah dorm U-Kiss?
Ah...kurasa tidak, tak ada satupun yang memiliki kamar seperti ini. Jangan-jangan...’
“Oppa!!”aku terbangun seraya
berteriak.
“Ah, selamat pagi. Kau sudah bangun
rupanya,” ucap seorang lelaki seraya masuk ke kamar yang kupakai saat ini.
“Leeteuk Oppa?”
“Ne, bagaimana keadaanmu, kau
sudah baikan?”
“Memangnya aku kenapa? Dan...ini di
mana?”
“Kemarin Donghae menemukanmu pingsan
di sebuah taman. Karena tak tega, dia membawamu kemari. Ke dorm Super Junior,”
“Jadi, semalam aku di dorm Super
Junior? Aish...babo namja itu pasti akan mengomeliku lagi karena aku tak
pulang ke rumah,”gerutuku.
“Sudahlah, lebih baik sekarang kau
sarapan dulu, Ryeowook akan memasakkan untukmu,” ajak Leeteuk Oppa dan
hanya kubalas dengan anggukan.
===
“Jadi, namamu Kihyun?” tanya Sungmin Oppa.
“Ne, waeyo?” tanyaku balik.
“Tidak ada,” balasnya. “Hanya saja,
namamu terlalu unik untuk seorang yeoja.”
“Pujian atau sindiran?” tanyaku dengan
pandangan dingin.
“Ti-tidak keduanya,” ucapnya takut
kemudian bermain dengan ponselnya seraya menunggu makanan siap.
“Kau punya Fandom?” tanya Leeteuk Oppa.
“Punya...kurasa.”
“Apa?” tanya beberapa member antusias.
“Emh...Kiss Me, mungkin,” ucapku. Tentu
saja aku memilih Kiss Me, kakak kembarku saja salah satu membernya.
“Ah, pantas saja di ponselmu banyak
foto U-Kiss, khususnya Eli,” ucap Eunhyuk Oppa.
‘Hah? Bagaimana dia bisa tahu?’
batinku, kemudian aku merogoh kantong celanaku, ponselku hilang!
“Kembalikan ponselku!” ucapku.
Leeteuk Oppa berdeham beberapa
kali dan menatap tajam ke arah Eunhyuk Oppa. Kemudian dia mengeluarkan
ponsel putih berlogo apel dari sakunya.
“Itu bukan ponselku!” ucapku.
“Memang bukan, itu ponselku,” ucap
Eunhyuk Oppa dengan polos.
“Lalu di mana ponselku?”
“Ada di kamar yang kau pakai tadi,”
ucapnya.
“Huh!” aku mendengus kesal. Dan
akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
“Makanan siaaaap~” seru Ryeowook
seraya menaruhkan semangkuk besar nasi goreng. “Loh? Kihyun-aa, kau mau ke
mana?” tanyanya kepadaku.
“Mengambil ponsel,” ucapku datar
kemudian berlalu.
Aku mengedarkan pandanganku, ternyata
ponselku diletakkan di sebuah meja kecil di sebelah ranjang. Dan tanpa berpikir
panjang, aku mengambil ponselku. Ternyata ada banyak panggilan tak terjawab
dari oppaku.
Call : 바보
남자
“Kihyun-aa, makan dulu!” saat aku akan
mengangkat telepon dari oppaku, Ryeowook Oppa memanggil.
“Ne, sebentar, ada telepon,”
“Yeoboseyo?” ucapku datar.
“Kau di mana?”
“Di suatu tempat yang tak kau
ketahui,” ucapku ketus. Yaah, aku masih tersinggung dengan ucapannya kemarin.
“Ya! Aku serius!” ucapnya dengan nada
manja.
“Aku juga serius!”
“Kihyun-aa, ayo makan dulu!” suruh
Ryeowook Oppa yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“Ah, ne, sebentar,” ucapku.
“Ya! Siapa itu?” tanya oppaku
tiba-tiba.
“Bukan urusanmu!” ucapku kemudian
memutus hubungan teleponnya.
“Siapa tadi yang meneleponmu? Namjachingumu
ya?” tanya Ryeowook Oppa dengan nada menggoda.
“Ah...ani...Oppa-ya kkaja...nan
bae go payo,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Aish...kau benar-benar pintar
mengalihkan pembicaraan,” Ryeowook Oppa mendecak kesal.
“O ya, oppa...ngomong-ngomong, itu
foto siapa?” tanyaku seraya menunjuk sebuah foto.
“Dia Dongrin, adik Donghae Hyung,”
ucap Ryeowook Oppa.
“Sepertinya aku kenal, tapi entahlah.
Yasudah oppa, yuk!”suruhku.
[Author POV]
“Wah...nasi goreng!” seru Kihyun
dengan berbinar.
“Jadi ini makanan kesukaanmu?” tanya
Sungmin.
“Ehem...” angguk Kihyun. “Dulu eomma
sering membuat yang seperti ini.”
“Kalau begitu...ayo cepat dimakan!”
suruh Ryeowook dengan nada manja.
“Baiklah...baiklah, aku akan
memakannya,” ucap Kihyun seraya menyendokkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Bagaimana?” tanya Ryeowook tidak
sabar.
Kihyun mengunyah makanannya kemudian
menelannya. Tetapi beberapa detik kemudian dia terbatuk, lalu nafasnya jadi tersenggal-senggal
dan kulitnya memerah.
“Kihyun-aa, waegurae?” tanya
Leeteuk khawatir. Kihyun hanya menggeleng dan terus mencoba untuk bernafas.
“Ryeowook-ah, kau memasukkan apa ke
dalam makanannya?” tanya Donghae yang langsung menyadari apabila Kihyun alergi
dengan sesuatu.
“Aku menambahkan telur dan parutan
keju,” jelas Ryeowook dengan nada ketakutan.
“Kihyun-aa, apa kau alergi sesuatu?”
tanya Leeteuk.
“Te-lur,” ucapnya terbata.
“Hyung! Kita harus segera
membawanya ke rumah sakit!” ucap Donghae dengan panik.
“Annyeong~” tiba-tiba seorang
lelaki dan seorang perempuan ―yang masing-masing mendorong sebuah dorongan
bayi― masuk ke dorm. Mereka Kyuhyun dan istrinya, Jongrin.
“Hyung! Ppali!” seru Donghae
yang tidak memperdulikan Kyuhyun dan
Jongrin.
“Wae...waegurae?” tanya
Kyuhyun yang kebingungan.
Dengan segera, Leeteuk menggendong
Kihyun keluar dan diikuti oleh Donghae.
“Dia siapa? Dan...kenapa?” tanya
Jongrin yang sama bingungnya dengan Kyuhyun.
“Ceritanya panjang, nanti saja aku
ceritakan,” ucap Sungmin.
“Sekarang saja kenapa, sih?” suruh
Kyuhyun dengan penasaran.
“Baiklah...baiklah. Namanya Kihyun.
Kemarin, Donghae menemukannya pingsan di sebuah taman, kemudian dia membawanya
kemari karena tak tega meninggalkannya sendirian. Dan tadi, Ryeowook tidak
sengaja memasukkan telur ke dalam
makanannya,” jelas Sungmin. “Dan ternyata, dia alergi dengan telur.”
“Oh, jadi begitu.”
“Yeo...yeoboseyo?”
tiba-tiba Ryeowook menerima sebuah telepon, dari Leeteuk.
“Mwo? Kritis? Ne, aku
akan ke sana,” ucap Ryeowook, wajahnya pucat.
“Siapa?” tanya Eunhyuk.
“Leeteuk Hyung, dia bilang
kalau Kihyun kritis,” ucap Ryeowook. “Aku akan menyusul ke sana dan minta maaf
pada Kihyun.”
“Aku ikut!” seru Kyuhyun.
“Ya! Kau tak usah ikut!” ucap Jongrin
seraya mencubit pinggang Kyuhyun.
“Aigooo...auuh, ne..ne,”
ucap Kyuhyun seraya mengusap pinggangnya.
===
“Hyung! Bagaimana keadaan
Kihyun?” tanya Ryeowook begitu sampai di rumah sakit.
“Dia sudah tidak apa-apa, hanya saja
dia masih lemas,” jelas Leeteuk.
“Hyung, kau sudah menghubungi
keluarganya?” tanya Ryeowook lagi.
“Belum.”
“Kalau begitu aku akan menghubunginya namjachingunya,
di mana ponsel Kihyun?” ucap Ryeowook.
Leeteuk pun mengeluarkan ponsel
berwarna ungu dan menyerahkannya ke Ryeowook. “Memang kau tahu siapa namjachingunya?”
“Aku tahu, tadi pagi namjachingunya
menelpon Kihyun.”
“Do...Donghae-ya? Waegurae?”
tanya Leeteuk kepada Donghae yang terduduk lemas di kursi tunggu.
“Aku...mengingat Dongrin,” ucapnya.
“Sudahlah, walaupun dia sudah tiada,
tetapi dia akan selalu ada di sini,” ucap Leeteuk seraya menunjuk dada kiri
Donghae. “Di hatimu.”
===
―U-Kiss Dormitory ―
‘You feel in I my me mine subete,
kakete egaku ai no sign. Sono hitomi no oku ni...’
“Yeoboseyo?” sapa Kiseop.
“Emh, apa kau namjachingu
Kihyun?”
“Hah? Namjachingu? Aniyeo...aku
oppanya,” ucap Kiseop. “Kalau boleh tahu, ini siapa, dan di mana
Kihyun?”
“Ah, gurae. Begini, Kihyun
sekarang ada di rumah sakit...”
“Hah? Kenapa?” sela Kiseop.
“Kau ke sini saja, nanti aku akan
jelaskan.”
“Baiklah, dia di rumah sakit mana?”
===
Kiseop segera menyambar jaket dan
kunci mobilnya yang tergeletak di meja ruang tengah.
“Kau mau ke mana?” tanya Eli.
“Kihyun...dia masuk rumah sakit!” ucap
Kiseop.
“Mwo? Aku ikut!” ucap Eli.
“Arasseo...ppali,”
suruhnya kemudian berlari keluar.
===
“Kihyun-aa, mianhae,” ucap
Ryeowook.
“Emh...gwenchana, oppa
tak perlu minta maaf segala. Ini hanya kecelakaan kecil saja,” ucap Kihyun.
“Tapi kan tetap aku yang salah,”
Ryeowook masih tetap menyalahkan dirinya sendiri. “Mianhae...jeongmal
mianhae.”
“Ne, arasseo.”
“KIHYUN-AA!” teriak seseorang yang
tiba-tiba masuk ke ruang rawat Kihyun.
“Oppa?” Kihyun membelalakkan
matanya.
“Kiseop?” Ryeowook dan Leeteuk ikut
membelalakkan matanya.
“Kihyun-aa! Kenapa semalam kau tak
menjawab teleponku? Kenapa semalam kau tak pulang ke rumah? Kenapa kau tak
memberitahuku di mana kau tadi? Apabila eomma tahu kalau kau semalam
tidak pulang, aku yang akan kena marah! Apalagi di tambah kau yang masuk ke
rumah sakit.”
Kiseop langsung memberondongi Kihyun dengan
berbagai pertanyaan. Kihyun pun hanya bisa menatap ke luar jendela dengan tatapan
kosong. Tiba-tiba dari pelupuk matanya keluar cairan bening yang membuat Kiseop
tersadar akan perkataanya yang sekali lagi menyakiti perasaan Kihyun.
“Kihyun-aa...” Kiseop perlahan
mendekati ranjang Kihyun.
Leeteuk, Donghae, dan Ryeowook yang
mendapat isyarat agar meninggalkan keduanya segera beranjak.
“Kenapa kau kemari? Kau bilang aku tak
berguna,” ucap Kihyun dengan ketusnya.
“Mianhae.”
“Hanya itu?” ucap Kihyun dengan nada
kecewa. “Hanya itu kah yang kau katakan setelah kau menyakiti perasaanku? Kau
itu tak pernah mengerti bagaimana perasaanku! Aku tidak butuh ketenaran, aku
tidak butuh uang, aku tidak butuh segalanya. Yang aku butuhkan hanya kasih
sayang! Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya!” bentak Kihyun dengan air
mata yang mengucur deras.
Tiba-tiba Kiseop memeluk erat Kihyun
yang sekarang sudah menangis hebat. “Maaf, maafkan aku, untuk segalanya. Aku
tahu, selama ini aku salah. Aku memang bodoh. Aku berjanji untuk kedepannya aku
akan lebih memperhatikanmu, sekali lagi...mianhae.”
Kihyun tidak menjawab apapun, dia
hanya tetap menangis dan menangis.
“Tidak apa, menangislah sepuasnya, kau
sudah lama menahan rasa sakit di hatimu, mianhae,” Kiseop mengelus
kepala Kihyun dengan lembut. Tangis Kihyun pun semakin hebat, kemudian dia
membalas pelukan Kiseop.
“Nado mianhae, oppa.”
[Leeteuk POV]
“Eli-ssi,” ucapku.
“Ne?” balasnya.
“Sebenarnya mereka ada masalah apa
sampai bertengkar hebat seperti itu?” tanyaku.
“Yah, sebenarnya mereka memang sering
bertengkar seperti itu. Dan kemarin mereka ada di puncaknya,” jelas Eli.
“Maksudnya ada di puncaknya?” tanya
Ryeowook tiba-tiba.
“Kemarin, Kiseop membentak dan
mengatakan hal yang kasar terhadap Kihyun. Dan kemungkinan itulah yang
menyebabkan Kihyun kabur semalam,” Eli kembali menjelaskan.
“Ah, Kiseop-aa, bagaimana Kihyun?”
tanyaku saat Kiseop keluar dari ruang rawat.
“Dia tertidur karena lelah menangis,”
ucap Kiseop.
“Kiseop-ah, aku ingin memberitahumu
sesuatu,” ucap Donghae tiba-tiba.
“Ne?”
“Kau harus lebih memperhatikannya, dan
usahakan perhatikan kesehatannya juga. Aku tidak mau kau mengalami hal yang
sama sepertiku,” ucap Donghae menasehati Kiseop. Bisa kulihat mata Donghae yang
berkaca-kaca.
“Ne, aku akan berusaha,” ucap
Kiseop seraya tersenyum.
[Author POV]
Sehari kemudian, Kihyun pun akhirnya
pulang. Kiseop pun mengadakan sebuah acara kecil-kecilan untuk menyambut
kedatangan Kihyun. Beberapa member Super Junior pun diundang.
“Ki-Kiseop?” Jongrin yang baru datang
langsung mengenali Kiseop.
“Jongrin? Kenapa kau ke sini?” tanya Kiseop.
“Ah, mianhae...aku baru ingat kalau kau istri Kyuhyun Sunbae.”
“Kalian saling kenal ya?” tanya
Kyuhyun yang sudah berada di belakang Jongrin.
“Ne, dia satu agensi denganku dulu
saat menjadi ulzzang. Ngomong-ngomong di mana Kihyun?”
“Dia di atas, aku akan memanggilnya.”
“Kihyun-aa!” teriak Kiseop. “Aigoooo...pasti
volume penuh lagi.”
Kiseop pun mendekati Kihyun perlahan,
kemudian melepas headphonenya dan berteriak tepat di telinganya.
“Ya! Neo jinjja!” Kihyun
memukul Kiseop dengan bantal. “Waegurae?”
“Yang lain sudah menunggumu di bawah, kkaja,”
ajak Kiseop.
“Sebentar, aku selesaikan dulu
membacanya...seru nih ceritanya,” ucap Kihyun dengan pandangan tetap mengarah
ke ponselnya.
“Baca apaan sih?” tanya Kiseop
penasaran.
“Fanfic...ceritanya bagus, seru lagi.
Nama authornya AkaneHeeHee, unik yah namanya,” ucap Kihyun tetapi tidak
ditanggapi oleh Kiseop. Kiseop pun akhirnya menggeret Kihyun ke bawah.
“Kkajaa!!” perintahnya.
“Ya! Ya! Ya! Aku baru saja keluar dari
rumah sakit! Ya! Babo namja...hentikaaaan!” teriak Kihyun karena Kiseop
menyeretnya dengan brutal.
―The End―
Yak! Akhirnya selesai
nih epep...ehehe, mian kalo kepanjangan( ._.)v ini aja udah aku persingkat lagi
ceritanya.
Eee...kayanya ceritanya
jadi nggak nyambung sama part 1 kalo dilihat” XDD. Gimana menurut readerdeul?
Terus alurnya jadi
kelihatan kecepetan banget...masa Kihyun bisa dengan cepat adaptasi sama anak”
Suju..Aku memang author gagal ~o~...mianhae~
Mian lagi kalo ada
kiseop biased yang merasa biasnya aku nistai...hohoho ^o^v *sebenernya emang
dinistai sih XD*
Btw endingnya nggak
banget yah XDD...terus unsur comedynya juga hilang gara” kiseop cari gara” sama
kihyun XDD *kok kiseop yang disalahin?*
Kenapa di sini banyak U-Kiss
nya daripada SuJunya? Yaah...jawabannya simpel
aja sih...
Author baru suka
u-kiss...apalagi eli >.< #outoftopic
O ya...sekedar
pemberitahuan...yang di memories sebelumnya kan endingnya aku bilang kalo ada
dua orang yang berdiri matung di depan rumah kyu kan...
Itu typo...mian ._.v
Harusnya cuma seorang...yaitu
donghae XDD
Yasudahlah...itu aja~
Sampe ketemu di epep
selanjutnya~~
O ya sampe lupa...kira”
ada yang mau profilnya Dongrin sama Kihyun nggak? Kalo mau ntar aku post ^^~
Tapi kalo nggak ada yang
mau...tetep aku post XDD #authorbabo


