Friday, 16 March 2012

Memories [Part 2-End]

Posted by AkaneHeeHee at Friday, March 16, 2012 0 comments

Title                       :  Memories Part 2 –End– [Sequel of Story About Donghae’s Sister]
Author                  : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating                   : T
Category              : Romance, Sad, Comedy, Family
Lenght                  : Twoshoot
Cast                       :  Lee Kiseop, Lee Kihyun (OC), Kim Jongrin (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae and find the other cast
Cover Credit       : Edited by AkaneHeeHee
Disclaimer           : I only own the plot, the characters are belong to themselves, do not take it out withouth permission. The pictures in this fiction isn’t mine. I take it out from tumblr.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
Memories
===
[Dongrin POV]
“Ah...hyung!” pekik Kyuhyun.
Aku dan Heechul Oppa hanya bisa mematung dan saling berpandangan. Aku masih bergelut dengan pikiranku yang sekarang sudah melayang ke beberapa tahun yang lalu, di mana terakhir kalinya aku melihat sosok oppaku. Tiba-tiba sepasang tangan memelukku erat, itu oppaku. Aku semakin mematung, mulutku kelu tak dapat bergerak. Donghae Oppa segera meraih ‘tubuh’ Heechul Oppa dan memeluknya dengan erat.
“Dongrin-a...Heechul Hyung...kembalilah...kumohon!” isak Donghae Oppa yang masih memelukku dan Heechul Oppa.
Setelah Donghae Oppa mengatakan itu, ‘tubuh’ ku terasa aneh, aku...menginjak lantai?
“Tidak mungkin...” gumamku. Aku memandang ke arah Heechul Oppa lagi.
Ternyata dia juga sama denganku, dia menginjak lantai, dan wajahnya perlahan tampak seperti manusia hidup. Aku hanya bisa menggeleng lemah.
“Apakah ini yang akan terjadi? Oh tidak...tidak...kumohon jangan sekarang!” gumamku.
“Dongrin-aa apa yang kau katakan?” tanya Donghae Oppa yang sudah melepas pelukannya.
Air mataku tumpah. Aku tak ingin berpisah dari mereka lagi. Biarkan aku seperti ini, asalkan aku masih bisa melihat sosok mereka. Aku tidak ingin rohku juga pergi dari mereka.
Aku melihat pergelangan tanganku. Perlahan tanganku terkikis menjadi pasir yang berterbangan. “Oppa...” air mataku semakin deras.
“Dongrin-a!”
Aku berjalan mendekati Heechul Oppa, kemudian menggenggam tangannya. Walaupun tangan kami sudah terkikis setengah, tetapi pegangan kami masih erat.
“Semuanya...selamat tinggal untuk yang kedua kalinya,” ucapku. Dan kemudian aku tidak merasakan apapun. Aku...lenyap, bersama dengan kenangan-kenanganku.
[Author POV]
Another Place in Same Time
Oppa!!!” teriak seorang gadis yang baru saja pulang.
“Heung?” gumam lelaki yang dipanggil ‘oppa’ tadi dari dalam dapur. Lelaki itu sedang membawa berbagai macam snack yang diambilnya dari kulkas.
“Kenapa ruang tamu bisa jadi sangat berantakan, dan untuk apa makanan sebanyak itu?” tanya gadis itu bertubi-tubi.
“Err...yang itu tidak tahu, dan ini untuk teman-temanku, wae?”
“Hah? Nugu?”
Nae Chingu,” dengus lelaki itu pelan.
“U-Kiss member?” tiba-tiba gadis itu menjadi sumringah.
Ani...” ucap lelaki itu datar sehingga membuat sang gadis mendecak kesal.
Oppaaa...kenapa lama sekali?” terdengar suara beberapa gadis yang berasal dari lantai dua.
“Ehheem...oppa, kau membawa siapa?” tanya gadis itu dengan wajah ingin membunuh.
“Ehe...Kihyun-a, biarkan oppamu ini bersenang-senang sebentar, jebal,” ucap lelaki tadi dengan wajah memelas.
Tiba-tiba dari lantai dua, tampaklah dua orang gadis yang cantik jelita ―mungkin ulzzang― yang memasang wajah imutnya.
Oppa...siapa dia? Apakah tamu baru?” tanya salah seorang gadis.
“Lee Kiseop, kau ingin membuat skandal baru, ya?” ucap gadis bernama Kihyun tadi dengan berkacak pinggang.
“Aiiyaa! Kenapa kau memanggilku seperti itu? Aku ini oppamu!” seru lelaki yang bernama Kiseop itu tidak terima.
“Kenapa? Kita hanya berjarak tiga menit!” ucap Kihyun dengan wajah datar.
“Aiish...arasseo ini yang terakhir,” janji Kiseop.
“Awas kalau bohong!” ucap Kihyun dengan nada mengancam.
Kiseop hanya bisa mendengus pelan, kemudian beranjak ke lantai atas. Tetapi baru beberapa anak tangga yang dinaikinya, dia berbalik.
“Kihyun-a!” panggilnya.
Wae?” balas Kihyun dengan malas.
“Kau tidak keberatan, kan kalau kau yang membeli keperluan isi kulkas?” suruh Kiseop dengan entengnya.
Kihyun hanya bisa mendecak kesal dan memutar bola matanya dengan sebal. “Arasseo, aku pergi sekarang,” ucapnya kemudian menyambar tas dan jaketnya.
“Aah...tunggu!”
“Apa lagi?”
Mianhae.”
“Emh...tumben. Annyeong!” sindirinya, kemudian berlalu.
[Author POV]
“Dongrin...” gumam Donghae yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Hyung...” Kyuhyun menepuk pelan pundak Donghae. “aku tahu ini berat bagimu, tapi aku harap kau tidak terlalu memikirkannya, relakan mereka pergi.”
Donghae hanya terdiam menatap udara kosong.
Hyung...”
“A-aku harus pergi sekarang,” ucap Donghae pelan seraya menyembunyikan kesedihannya yang mendalam.
Hyung, gwenchana?” tanya Kyuhyun hati-hati.
“Hmm...gwenchana,” ucap Donghae seraya memaksakan seulas senyum. Dan dengan segera dia pergi dari rumah Kyuhyun dan Jongrin.
[Donghae POV]
Sampai sekarang aku masih belum mempercayainya, itu tadi pasti hanya ilusi, ya...hanya ilusi.
Karena rumah Kyuhyun yang letaknya dekat dengan Namsan Tower, aku berniat ke sana. Aku merapatkan jaketku karena malam ini sedang turun salju.
Aku menyapu tumpukan salju itu dengan kakiku. Tetapi tiba-tiba memoriku berputar ke beberapa tahun yang lalu, di mana Dongrin yang sangat senang ketika eomma membolehkannya keluar dan bermain salju. Tanpa ku sadari, air mataku menetes. Aku menangis dalam diam.
Oppa...jangan cengeng!’ tiba-tiba suara Dongrin terngiang dalam kepalaku. Dengan segera aku menghapus air mataku kemudian membayangkan wajahnya yang sedang tersenyum.
“Cish, babo namja, michyeoseo...oppa sialan!” tiba-tiba seorang gadis berlalu seraya menggerutu.
Entahlah ini deja vu atau apa, tetapi aku merasa gadis tadi seperti Dongrin. Hal itu terlihat sangat jelas dari pandangan matanya, cara berjalannya, dan cara berbicaranya, wajahnya pun juga hampir mirip.
Karena penasaran, aku pun mengikutinya. Ternyata gadis itu pergi ke sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari tempatku semula.
Annyeonghaseyo~” ucap gadis itu saat memasuki mini market.
Aku segera memakai maskerku agar tidak ada orang yang menyadari keberadaan seorang Lee Donghae yang sedang berkeliaran malam-malam. Setelah dirasa wajahku sudah tidak dikenali, akupun memasuki mini market itu.
“...bukankah tiga hari yang lalu kau sudah berbelanja banyak?” tanya ahjumma penjaga mini market itu.
“Ck...ahjumma kan tahu sendiri bagaimana oppaku itu,” jelas gadis itu.
“Ah, eosse esseoyo,” sapa ahjumma itu saat menyadari keberadaanku.
“Euh...ah, ne,” balasku canggung.
“Ya sudah ahjumma, nanti kita lanjutkan mengobrolnya,” ucap gadis itu menyudahi pembicaraannya dengan ahjumma pejaga mini market itu.
[Kihyun POV]
Call : 바보 남자 (Babo Namja)
Mwo?” ucapku datar
“Belikan aku snack!” suruh oppaku dengan entengnya
S-H-I-R-E-O, shireo!” bentakku kemudian langsung mematikan sambungannya.
Call : 바보 남자
“Sudah kubilang aku tidak mau! Aku bukan pembantu!”
“Ya! Ya! Jangan ditutup!” suruhnya. Tapi terlambat, aku sudah menutupnya dan melanjutkan kegiatanku yang tertunda.
“Haish...” aku mendengus kesal, kemudian mematikan ponselku.
===
‘BRUUKK!’
“Ah, mianhamni―Ya! Kenapa kau ke sini, huh?” bentakku saat melihat seseorang yang kutabrak, oppaku.
“Kenapa? Tak ada undang-undang yang mengatur. Lagipula aku ke sini untuk membelikan snack member U-Kiss,” balasnya dengan ketus.
“Tapi tadi kau bilang aku yang kau suruh belanja, lalu kau datang ke sini, maksudmu apa huh?” bentakku sehingga banyak orang yang melihat dan mulai berbisik-bisik.
“Salah siapa kalau tadi aku suruh tidak mau?”
“Grr....itu karena kau sudah menghabiskan seluruh makanan di kulkas hanya untuk teman yeojamu!”
“Kenapa kau selalu mengaturku? Atur saja kehidupanmu sendiri! Kau tahu, aku ini lebih tua darimu!”
“Jangan membentakku seperti itu! Walaupun kau lebih tua, tapi kita hanya berjarak tiga menit, bukan tiga tahun! Babo namja!”
“Tapi tetap saja aku yang lebih tua darimu! Micheyo yeoja. Kenapa sih, dulu eomma harus melahirkanmu juga? Kau itu tidak berguna!” bentaknya kepadaku.
Aku tertegun, air mataku mendesak untuk keluar, tetapi aku menahannya. Setahuku, saudara kembar itu tak pernah menyesal dilahirkan berdua. Aku benar-benar tak menyangka oppaku akan mengatakan hal tabu seperti itu. Entah setan apa yang merasukinya sekarang.
“Ya! Ya! Sudah hentikan pertengkaran kalian dan kita pulang,” tiba-tiba Soohyun Oppa, dan juga Eli datang melerai.
“Aku benci oppa!” gumamku, kemudian berlari keluar.
“Kihyun-a tunggu!” seru Eli, tetapi aku tak menanggapinya.
Aku berlari sekencang mungkin menuju taman favoritku, walaupun tempatnya lumayan jauh, tetapi aku tetap bersikeras pergi ke sana. Tanpa kusadari, air mataku tumpah. Oppaku...dia sungguh kejam! Dia tak pernah mengerti dan menghargaiku.
Akhirnya, aku sampai di taman itu, kemudian duduk di salah satu kursi ayunan.
Eomma...”  gumamku di tengah isakan tangis.
Aku mengayunkan ayunan itu, dan berusaha melupakan kejadian tadi. Aku menghidupkan kembali ponselku. Ada sepuluh panggilan tak terjawab.
Aku kembali mengayunkan ayunan itu, tiba-tiba kepalaku pusing hebat dan mataku berkunang-kunang. Aku mencoba berdiri, tetapi kemudian semuanya menjadi serba putih.
[Kiseop POV]
“Kiseop-a...kau harus meminta maaf padanya! Perkataanmu tadi terlalu kasar,” suruh Soohyun Hyung kepadaku.
Aku tidak menggubrisnya, kemudian memandang keluar jendela dorm. Ya, aku tidak pulang ke rumah, tetapi ke dorm.
Danyeo waseumnida...”sapa dua orang yang baru saja datang, AJ dan Hoon
Danyeo oseyo...” balas semuanya, kecuali aku.
“Loh? Ada apa ini? Kok suasananya tegang?” tanya Hoon.
Soohyun Hyung memberi mereka isyarat untuk diam. Mereka yang sadar akan isyarat itu segera menutup mulut mereka dan menjauh.
Hyung, kurasa benar apa yang dikatakan Soohyun Hyung. Kau terlalu kasar padanya. Walaupun dia kembaranmu, tetapi dia tetap dongsaengmu. Kurasa dia membentakmu tadi karena kau kurang menghargainya dan kurang mengerti bagaimana perasaannya. Kau tahu hyung, wanita itu perasaanya lemah dan sensitif,” ucap Dongho.
Aku mencerna kembali perkataan  Dongho, ada benarnya juga perkataannya. Aku berjalan mendekatinya, kemudian menepuk pundaknya sekilas.
Gomawo, kau memang dongsaeng terhebat!” ucapku memujinya.
“Jadi, bagaimana keputusanmu? Kau akan meminta maaf padanya?” tanya Eli.
Ne, tapi tidak sekarang,” ucapku.
Wae?” tanya Dongho.
“Aku rasa dia masih marah padaku, dan tak akan mengangkat teleponnya.”
“Baiklah, kami akan selalu mendukungmu, hwaiting!” ucap Soohyun Hyung seraya mengepalkan kedua tangannya di udara.
[Kihyun POV]
Akh...kepalaku sakit sekali...mataku juga jadi sangat berat.
Aku mencoba membuka mataku perlahan, kemudian mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
‘Aku di mana?’ batinku. ‘Ini tidak terlihat seperti kamarku atau babo namja itu. Apakah dorm U-Kiss? Ah...kurasa tidak, tak ada satupun yang memiliki kamar seperti ini. Jangan-jangan...’
Oppa!!”aku terbangun seraya berteriak.
“Ah, selamat pagi. Kau sudah bangun rupanya,” ucap seorang lelaki seraya masuk ke kamar yang kupakai saat ini.
“Leeteuk Oppa?”
Ne, bagaimana keadaanmu, kau sudah baikan?”
“Memangnya aku kenapa? Dan...ini di mana?”
“Kemarin Donghae menemukanmu pingsan di sebuah taman. Karena tak tega, dia membawamu kemari. Ke dorm Super Junior,”
“Jadi, semalam aku di dorm Super Junior? Aish...babo namja itu pasti akan mengomeliku lagi karena aku tak pulang ke rumah,”gerutuku.
“Sudahlah, lebih baik sekarang kau sarapan dulu, Ryeowook akan memasakkan untukmu,” ajak Leeteuk Oppa dan hanya kubalas dengan anggukan.
===
“Jadi, namamu Kihyun?” tanya Sungmin Oppa.
Ne, waeyo?” tanyaku balik.
“Tidak ada,” balasnya. “Hanya saja, namamu terlalu unik untuk seorang yeoja.”
“Pujian atau sindiran?” tanyaku dengan pandangan dingin.
“Ti-tidak keduanya,” ucapnya takut kemudian bermain dengan ponselnya seraya menunggu makanan siap.
 “Kau punya Fandom?” tanya Leeteuk Oppa.
“Punya...kurasa.”
“Apa?” tanya beberapa member antusias.
“Emh...Kiss Me, mungkin,” ucapku. Tentu saja aku memilih Kiss Me, kakak kembarku saja salah satu membernya.
“Ah, pantas saja di ponselmu banyak foto U-Kiss, khususnya Eli,” ucap Eunhyuk Oppa.
‘Hah? Bagaimana dia bisa tahu?’ batinku, kemudian aku merogoh kantong celanaku, ponselku hilang!
“Kembalikan ponselku!” ucapku.
Leeteuk Oppa berdeham beberapa kali dan menatap tajam ke arah Eunhyuk Oppa. Kemudian dia mengeluarkan ponsel putih berlogo apel dari sakunya.
“Itu bukan ponselku!” ucapku.
“Memang bukan, itu ponselku,” ucap Eunhyuk Oppa dengan polos.
“Lalu di mana ponselku?”
“Ada di kamar yang kau pakai tadi,” ucapnya.
“Huh!” aku mendengus kesal. Dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
“Makanan siaaaap~” seru Ryeowook seraya menaruhkan semangkuk besar nasi goreng. “Loh? Kihyun-aa, kau mau ke mana?” tanyanya kepadaku.
“Mengambil ponsel,” ucapku datar kemudian berlalu.
Aku mengedarkan pandanganku, ternyata ponselku diletakkan di sebuah meja kecil di sebelah ranjang. Dan tanpa berpikir panjang, aku mengambil ponselku. Ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari oppaku.
Call : 바보 남자
“Kihyun-aa, makan dulu!” saat aku akan mengangkat telepon dari oppaku, Ryeowook Oppa memanggil.
Ne, sebentar, ada telepon,”
Yeoboseyo?” ucapku datar.
“Kau di mana?”
“Di suatu tempat yang tak kau ketahui,” ucapku ketus. Yaah, aku masih tersinggung dengan ucapannya kemarin.
“Ya! Aku serius!” ucapnya dengan nada manja.
“Aku juga serius!”
“Kihyun-aa, ayo makan dulu!” suruh Ryeowook Oppa yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“Ah, ne, sebentar,” ucapku.
“Ya! Siapa itu?” tanya oppaku tiba-tiba.
“Bukan urusanmu!” ucapku kemudian memutus hubungan teleponnya.
“Siapa tadi yang meneleponmu? Namjachingumu ya?” tanya Ryeowook Oppa dengan nada menggoda.
“Ah...ani...Oppa-ya kkaja...nan bae go payo,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Aish...kau benar-benar pintar mengalihkan pembicaraan,” Ryeowook Oppa mendecak kesal.
“O ya, oppa...ngomong-ngomong, itu foto siapa?” tanyaku seraya menunjuk sebuah foto.
“Dia Dongrin, adik Donghae Hyung,” ucap Ryeowook Oppa.
“Sepertinya aku kenal, tapi entahlah. Yasudah oppa, yuk!”suruhku.
[Author POV]
“Wah...nasi goreng!” seru Kihyun dengan berbinar.
“Jadi ini makanan kesukaanmu?” tanya Sungmin.
“Ehem...” angguk Kihyun. “Dulu eomma sering membuat yang seperti ini.”
“Kalau begitu...ayo cepat dimakan!” suruh Ryeowook dengan nada manja.
“Baiklah...baiklah, aku akan memakannya,” ucap Kihyun seraya menyendokkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Bagaimana?” tanya Ryeowook tidak sabar.
Kihyun mengunyah makanannya kemudian menelannya. Tetapi beberapa detik kemudian dia terbatuk, lalu nafasnya jadi tersenggal-senggal dan kulitnya memerah.
“Kihyun-aa, waegurae?” tanya Leeteuk khawatir. Kihyun hanya menggeleng dan terus mencoba untuk bernafas.
“Ryeowook-ah, kau memasukkan apa ke dalam makanannya?” tanya Donghae yang langsung menyadari apabila Kihyun alergi dengan sesuatu.
“Aku menambahkan telur dan parutan keju,” jelas Ryeowook dengan nada ketakutan.
“Kihyun-aa, apa kau alergi sesuatu?” tanya Leeteuk.
“Te-lur,” ucapnya terbata.
Hyung! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!” ucap Donghae dengan panik.
Annyeong~” tiba-tiba seorang lelaki dan seorang perempuan ―yang masing-masing mendorong sebuah dorongan bayi― masuk ke dorm. Mereka Kyuhyun dan istrinya, Jongrin.
Hyung! Ppali!” seru Donghae yang tidak memperdulikan  Kyuhyun dan Jongrin.
Wae...waegurae?” tanya Kyuhyun yang kebingungan.
Dengan segera, Leeteuk menggendong Kihyun keluar dan diikuti oleh Donghae.
“Dia siapa? Dan...kenapa?” tanya Jongrin yang sama bingungnya dengan Kyuhyun.
“Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan,” ucap Sungmin.
“Sekarang saja kenapa, sih?” suruh Kyuhyun dengan penasaran.
“Baiklah...baiklah. Namanya Kihyun. Kemarin, Donghae menemukannya pingsan di sebuah taman, kemudian dia membawanya kemari karena tak tega meninggalkannya sendirian. Dan tadi, Ryeowook tidak sengaja memasukkan telur  ke dalam makanannya,” jelas Sungmin. “Dan ternyata, dia alergi dengan telur.”
“Oh, jadi begitu.”
Yeo...yeoboseyo?” tiba-tiba Ryeowook menerima sebuah telepon, dari Leeteuk.
Mwo? Kritis? Ne, aku akan ke sana,” ucap Ryeowook, wajahnya pucat.
“Siapa?” tanya Eunhyuk.
“Leeteuk Hyung, dia bilang kalau Kihyun kritis,” ucap Ryeowook. “Aku akan menyusul ke sana dan minta maaf pada Kihyun.”
“Aku ikut!” seru Kyuhyun.
“Ya! Kau tak usah ikut!” ucap Jongrin seraya mencubit pinggang Kyuhyun.
Aigooo...auuh, ne..ne,” ucap Kyuhyun seraya mengusap pinggangnya.
===
Hyung! Bagaimana keadaan Kihyun?” tanya Ryeowook begitu sampai di rumah sakit.
“Dia sudah tidak apa-apa, hanya saja dia masih lemas,” jelas Leeteuk.
Hyung, kau sudah menghubungi keluarganya?” tanya Ryeowook lagi.
“Belum.”
“Kalau begitu aku akan menghubunginya namjachingunya, di mana ponsel Kihyun?” ucap Ryeowook.
Leeteuk pun mengeluarkan ponsel berwarna ungu dan menyerahkannya ke Ryeowook. “Memang kau tahu siapa namjachingunya?”
“Aku tahu, tadi pagi namjachingunya menelpon Kihyun.”
“Do...Donghae-ya? Waegurae?” tanya Leeteuk kepada Donghae yang terduduk lemas di kursi tunggu.
“Aku...mengingat Dongrin,” ucapnya.
“Sudahlah, walaupun dia sudah tiada, tetapi dia akan selalu ada di sini,” ucap Leeteuk seraya menunjuk dada kiri Donghae. “Di hatimu.”
===
―U-Kiss Dormitory ―
‘You feel in I my me mine subete, kakete egaku ai no sign. Sono hitomi no oku ni...’
Yeoboseyo?” sapa Kiseop.
“Emh, apa kau namjachingu Kihyun?”
“Hah? Namjachingu? Aniyeo...aku oppanya,” ucap Kiseop. “Kalau boleh tahu, ini siapa, dan di mana Kihyun?”
“Ah, gurae. Begini, Kihyun sekarang ada di rumah sakit...”
“Hah? Kenapa?” sela Kiseop.
“Kau ke sini saja, nanti aku akan jelaskan.”
“Baiklah, dia di rumah sakit mana?”
===
Kiseop segera menyambar jaket dan kunci mobilnya yang tergeletak di meja ruang tengah.
“Kau mau ke mana?” tanya Eli.
“Kihyun...dia masuk rumah sakit!” ucap Kiseop.
Mwo? Aku ikut!” ucap Eli.
Arasseo...ppali,” suruhnya kemudian berlari keluar.
===
“Kihyun-aa, mianhae,” ucap Ryeowook.
“Emh...gwenchana, oppa tak perlu minta maaf segala. Ini hanya kecelakaan kecil saja,” ucap Kihyun.
“Tapi kan tetap aku yang salah,” Ryeowook masih tetap menyalahkan dirinya sendiri. “Mianhae...jeongmal mianhae.”
Ne, arasseo.”
“KIHYUN-AA!” teriak seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Kihyun.
Oppa?” Kihyun membelalakkan matanya.
“Kiseop?” Ryeowook dan Leeteuk ikut membelalakkan matanya.
“Kihyun-aa! Kenapa semalam kau tak menjawab teleponku? Kenapa semalam kau tak pulang ke rumah? Kenapa kau tak memberitahuku di mana kau tadi? Apabila eomma tahu kalau kau semalam tidak pulang, aku yang akan kena marah! Apalagi di tambah kau yang masuk ke rumah sakit.”
Kiseop langsung memberondongi Kihyun dengan berbagai pertanyaan. Kihyun pun hanya bisa menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tiba-tiba dari pelupuk matanya keluar cairan bening yang membuat Kiseop tersadar akan perkataanya yang sekali lagi menyakiti perasaan Kihyun.
“Kihyun-aa...” Kiseop perlahan mendekati ranjang Kihyun.
Leeteuk, Donghae, dan Ryeowook yang mendapat isyarat agar meninggalkan keduanya segera beranjak.
“Kenapa kau kemari? Kau bilang aku tak berguna,” ucap Kihyun dengan ketusnya.
Mianhae.”
“Hanya itu?” ucap Kihyun dengan nada kecewa. “Hanya itu kah yang kau katakan setelah kau menyakiti perasaanku? Kau itu tak pernah mengerti bagaimana perasaanku! Aku tidak butuh ketenaran, aku tidak butuh uang, aku tidak butuh segalanya. Yang aku butuhkan hanya kasih sayang! Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya!” bentak Kihyun dengan air mata yang mengucur deras.
Tiba-tiba Kiseop memeluk erat Kihyun yang sekarang sudah menangis hebat. “Maaf, maafkan aku, untuk segalanya. Aku tahu, selama ini aku salah. Aku memang bodoh. Aku berjanji untuk kedepannya aku akan lebih memperhatikanmu, sekali lagi...mianhae.”
Kihyun tidak menjawab apapun, dia hanya tetap menangis dan menangis.
“Tidak apa, menangislah sepuasnya, kau sudah lama menahan rasa sakit di hatimu, mianhae,” Kiseop mengelus kepala Kihyun dengan lembut. Tangis Kihyun pun semakin hebat, kemudian dia membalas pelukan Kiseop.
Nado mianhae, oppa.”
[Leeteuk POV]
“Eli-ssi,” ucapku.
Ne?” balasnya.
“Sebenarnya mereka ada masalah apa sampai bertengkar hebat seperti itu?” tanyaku.
“Yah, sebenarnya mereka memang sering bertengkar seperti itu. Dan kemarin mereka ada di puncaknya,” jelas Eli.
“Maksudnya ada di puncaknya?” tanya Ryeowook tiba-tiba.
“Kemarin, Kiseop membentak dan mengatakan hal yang kasar terhadap Kihyun. Dan kemungkinan itulah yang menyebabkan Kihyun kabur semalam,” Eli kembali menjelaskan.
“Ah, Kiseop-aa, bagaimana Kihyun?” tanyaku saat Kiseop keluar dari ruang rawat.
“Dia tertidur karena lelah menangis,” ucap Kiseop.
“Kiseop-ah, aku ingin memberitahumu sesuatu,” ucap Donghae tiba-tiba.
Ne?”
“Kau harus lebih memperhatikannya, dan usahakan perhatikan kesehatannya juga. Aku tidak mau kau mengalami hal yang sama sepertiku,” ucap Donghae menasehati Kiseop. Bisa kulihat mata Donghae yang berkaca-kaca.
Ne, aku akan berusaha,” ucap Kiseop seraya tersenyum.
[Author POV]
Sehari kemudian, Kihyun pun akhirnya pulang. Kiseop pun mengadakan sebuah acara kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Kihyun. Beberapa member Super Junior pun diundang.
“Ki-Kiseop?” Jongrin yang baru datang langsung mengenali Kiseop.
“Jongrin? Kenapa kau ke sini?” tanya Kiseop. “Ah, mianhae...aku baru ingat kalau kau istri Kyuhyun Sunbae.”
“Kalian saling kenal ya?” tanya Kyuhyun yang sudah berada di belakang Jongrin.
Ne, dia satu agensi denganku dulu saat menjadi ulzzang. Ngomong-ngomong di mana Kihyun?”
“Dia di atas, aku akan memanggilnya.”
“Kihyun-aa!” teriak Kiseop. “Aigoooo...pasti volume penuh lagi.”
Kiseop pun mendekati Kihyun perlahan, kemudian melepas headphonenya dan berteriak tepat di telinganya.
“Ya! Neo jinjja!” Kihyun memukul Kiseop dengan bantal. “Waegurae?”
“Yang lain sudah menunggumu di bawah, kkaja,” ajak Kiseop.
“Sebentar, aku selesaikan dulu membacanya...seru nih ceritanya,” ucap Kihyun dengan pandangan tetap mengarah ke ponselnya.
“Baca apaan sih?” tanya Kiseop penasaran.
“Fanfic...ceritanya bagus, seru lagi. Nama authornya AkaneHeeHee, unik yah namanya,” ucap Kihyun tetapi tidak ditanggapi oleh Kiseop. Kiseop pun akhirnya menggeret Kihyun ke bawah.
Kkajaa!!” perintahnya.
“Ya! Ya! Ya! Aku baru saja keluar dari rumah sakit! Ya! Babo namja...hentikaaaan!” teriak Kihyun karena Kiseop menyeretnya dengan brutal.
―The End―
Yak! Akhirnya selesai nih epep...ehehe, mian kalo kepanjangan( ._.)v ini aja udah aku persingkat lagi ceritanya.
Eee...kayanya ceritanya jadi nggak nyambung sama part 1 kalo dilihat” XDD. Gimana menurut readerdeul?
Terus alurnya jadi kelihatan kecepetan banget...masa Kihyun bisa dengan cepat adaptasi sama anak” Suju..Aku memang author gagal ~o~...mianhae~
Mian lagi kalo ada kiseop biased yang merasa biasnya aku nistai...hohoho ^o^v *sebenernya emang dinistai sih XD*
Btw endingnya nggak banget yah XDD...terus unsur comedynya juga hilang gara” kiseop cari gara” sama kihyun XDD *kok kiseop yang disalahin?*
Kenapa di sini banyak U-Kiss nya daripada SuJunya? Yaah...jawabannya simpel aja sih...
Author baru suka u-kiss...apalagi eli >.< #outoftopic
O ya...sekedar pemberitahuan...yang di memories sebelumnya kan endingnya aku bilang kalo ada dua orang yang berdiri matung di depan rumah kyu kan...
Itu typo...mian ._.v
Harusnya cuma seorang...yaitu donghae XDD
Yasudahlah...itu aja~
Sampe ketemu di epep selanjutnya~~
O ya sampe lupa...kira” ada yang mau profilnya Dongrin sama Kihyun nggak? Kalo mau ntar aku post ^^~
Tapi kalo nggak ada yang mau...tetep aku post XDD #authorbabo

Reset

Posted by AkaneHeeHee at Friday, March 16, 2012 0 comments

Title                       : Reset
Author                  : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating                   : PG-13
Category              : Alternative Universe, Friendship, Romance, Tragedy
Lenght                  : SongFict
Main Cast            : Kim Heechul as Casey Kim, Lee Dongrin as Emma Lee (OC), Kim Jongrin as Lilyana Kim (OC), Park Byulri as Ammy Park (OC), and find the another cast.
Disclaimer           : I only own the plot, the characters are belong to themself. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
RESET
===
Hidup tidaklah mudah
Terkadang kita melakukan berbagai kesalahan
Gunakan kesempatan hidup itu dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tidaklah semudah menekan tombol reset
===
[Author POV]
                Lonceng jam sekolah mulai berdentang keras menandakan kegiatan belajar mengajar telah usai. Seorang gadis berambut hitam kecoklatan keluar dari kelasnya dengan tampang lesu. Dia berjalan gontai ke arah sebuah kelas yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
“Emma, mau bertemu Casey lagi, ya?” tanya seorang gadis yang baru saja keluar dari kelas dengan tampang bosan.
Gadis bernama Emma itu hanya mengangguk dan segera berlalu. Dia membuka pintu kelas di depannya perlahan, dan tampaklah seorang lelaki berambut hitam pekat yang sedang tertidur pulas dengan tangan bersila sebagai bantal.
Emma memutar bola matanya dan mendengus kesal mendapati temannya masih tertidur pulas di kelas.
“Casey! Bangun, hooy!” seru Emma seraya mengguncang-guncangkan tubuh lelaki bernama Casey itu pelan.
“Hmm? Nanti dulu, ya. Masih ngantuk, nih,” gumam Casey seraya membetulkan posisi tidurnya.
“Ya! Casey...ayo cepat bangun!” sekarang Emma menarik-narik lengan Casey. Tetapi tetap tidak mendapat respon.
Emma yang sudah kesal dengan Casey, mendorong meja Casey sehingga membuatnya terjatuh.
“Auuh! Sakit tahu! Apa-apaan, sih?” seru Casey.
Emma hanya tersenyum polos kemudian duduk di bangku sebelah Casey.
‘Cih, senyum polos tapi bikin emosi,’ gumam Casey pelan.
“Hei! Aku dengar itu,” ucap Emma dengan wajah datar, dan bersiap memukul kepala Casey.
“Eh...iya-iya, jangan pukul aku, ya!Please...Emma baik, deh, Emma cantik, deh,” rayu Casey dengan wajah yang dibuat-buat.
“Cih, aku tak bisa termakan bujuk rayumu, Case!”
“Kalau aku bilang kau cantik beneran, gimana?”
“Ooh...makasih, gak butuh!” ucap Emma ketus.
“Iya, deh, iya. Toh aku juga gak mau bilang kalau kau cantik. Sadis gitu, mana ada cantik-cantiknya?” ucap Casey dengan wajah polos. Dan beberapa detik kemudian, buku yang sedari tadi dibawa Emma ―yang tebalnya melebihi tebal novel Harry Potter― itu mendarat mulus tepat di kepala Casey.
“Aduuuh! Kau itu kalau marah kira-kira, dong! Sadar, gak sih tuh buku tebelnya seberapa?”
Emma terdiam dan hanya memamerkan senyum polosnya yang dapat membuat banyak orang mengejarnya. Bukan karena tertarik dengan senyumnya, tetapi karena kepolosannya yang dapat membuat emosi banyak orang. Termasuk Casey saat ini yang tengah mengejar Emma yang sudah keburu kabur meninggalkan Casey.
[Casey POV]
Aku, seorang lelaki tampan bernama Casey dan baru berumur 17 tahun, yang sangat pandai dan disukai banyak wanita. Mulai dari bayi...oh, tunggu, ku ralat. Mulai dari anak kecil, remaja, ibu-ibu, bahkan nenek-nenek sekalipun.
Dan gadis di sampingku ini adalah Emma. Dia sahabatku. Dia adalah gadis yang sangat bawel, berisik, sadis, dan keras kepalanya setengah mati. Tetapi prestasinya dalam bidang seni sungguh menakjubkan. Terutama dalam bidang seni lukis dan seni musik.
Aku dan Emma sudah bersahabat sejak kecil, kami juga bertetangga, bahkan orang tua Emma sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, begitu juga sebaliknya.
Emma berjalan mendahuluiku dengan wajah cemberut. Marah kurasa, karena tadi aku menjambak rambutnya dan hampir membuatnya jatuh ke selokan. Aku mempercepat laju langkahku, berniat untuk berjalan sejajar dengannya.
“Emma,” seruku memecah keheningan.
“Apa?” tanyanya ketus.
“Tumben kau rajin,” sindirku.
“Rajin gimana?”
“Yaa...rajin aja, gitu. Tuh buktinya kau bawa buku tebel-tebel buat apa, coba? Biasanya, kan kau pantang bawa buku tebel.”
“Yaah, mau bagaimana lagi? Mrs. Maureent menghukumku.”
“Kenapa?”
“Aku tertidur di kelas. Akhirnya Mrs. Maureent memberiku tugas untuk merangkum buku ini. Dan sialnya, Lily tadi tidak membangunkanku, dasar!” gerutu Emma seraya menghentakan kakinya beberapa kali.
“Tidak berbeda dengan kakaknya, Mr. Cho.”
“Kau ada masalah apa lagi dengan Mr. Cho? Sepertinya kau setiap hari ada konflik dengannya.”
“Tadi dia menepuk-nepuk kepalaku, lalu aku membentaknya. Kau tahu, kan kalau hanya kau dan Joshua yang boleh menyentuh kepalaku, bahkan memukul kepalaku, dan itu khusus untukmu,” jelasku.
“Lalu apa yang dilakukan Mr. Cho setelah kau membentaknya?” tanya Emma penasaran.
“Dia menyuruhku mengerjakan soal sebanyak seratus nomor! Bayangkan saja!”
“Hhh...kita memang benar-benar senasib,” ucap Emma seraya menepuk pundakku. “Haha, duluan, yaaa!!” seru Emma seraya memasuki area rumahnya, aku pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatku itu.
[Emma POV]
―Seminggu Kemudian―
“Ah, enaknya Casey sudah punya pacar,” gumamku seraya melamun di kelas
“Casey sudah punya pacar? Sejak kapan? Dan siapa gadis beruntung yang mendapatkan Casey,” tanya Lily, teman sekelasku.
“Sudah. Kemarin jam tiga sore. Dan gadis bernama Ammy dari kelas 2A yang memang dari dulu mengincar Casey.”
“Woaah, benarkah? Bagaimana kau tahu?”
“Dia memberitahuku lewat sms, dia kelihatan excited banget, tahu. Kelihatannya Casey juga suka sama Ammy. Huh...menyebalkan.”
“Kau cemburu?” tanya Lily dengan nada menyelidik.
“Cemburu bagaimana?”
“Yaa...aku pikir kau cemburu dengan Ammy, apakah kau menyukai Casey?”
“Tidak, aku tidak cemburu dengan siapapun. Dan...aku tidak menyukai Casey,” ucapku mengelak perkataan Lily.
===
Lonceng jam sekolah kembali berbunyi, dan seperti biasa, aku selalu datang ke kelas Casey. Tetapi ada yang berbeda hari ini, Casey sudah tidak ada di kelasnya. ‘Aneh,’ pikirku.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri, sebenarnya membosankan, tetapi mau bagaimana lagi kalau ternyata Casey memang sudah tidak ada.
Aku berjalan menyusuri jalan sendirian. Ternyata memang benar-benar membosankan dan jarak dari sekolah sampai rumahku terasa sangat jauh. Padahal kalau aku pulang bersama Casey, pulang dengan merangkak pun akan terasa dekat. Grr...Casey kau menyebalkan!
Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan sebuah motor yang melaju cepat dan hampir menabrakku apabila aku tidak bergeser sepuluh senti saja.
Tunggu...bukankah itu motor Casey? Dan, siapa gadis yang bersama Casey? Apakah Ammy?’ pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dalam benakku.
Aku pun segera berlari mengejar motor itu bak pelari internasional yang sedang berlari jarak jauh. Bedanya, kalau aku di komplek rumah, dan pelari internasional di lapangan lari. Bahkan aku sampai lupa kalau aku sangat benci berlari, karena itu akan membuatku sesak nafas.
Motor itu berhenti tepat di depan rumah Casey. Dan benar saja, lelaki yang mengendarai motor itu adalah Casey, dan gadis yang membonceng di belakangnya adalah Ammy. Aku mendengus kesal dan tidak mempedulikan pasangan baru jadi itu.
Aku segera memasuki pekarangan rumahku yang berada tepat di seberang rumah Casey. Di dalam rumah, aku dikejutkan oleh seseorang yang sangat ku rindukan, dia kakaku, Aiden. Dia pulang ke rumah membawa seorang wanita, dan itu adalah...
“Mrs. Maureent?!” gumamku. Lalu dia berbalik dan menatapku. Dengan secepat kilat, aku naik ke kamar dan mengunci pintu kamarku.
“Yang benar saja! Apakah wanita yang diceritakan Aiden itu Mrs. Maureent?” pertanyaan itu terus terlontar dari mulutku karena tidak percaya.
Aku segera mengganti seragamku dan tiduran di ranjang. Aku benar-benar tidak percaya terhadap apa yang terjadi dalam hidupku.
Saat aku masih bergelut dengan pikiranku, tiba-tiba seseorang mengetuk kamarku. Reflek aku berdiri dari ranjangku dan segera membuka pintu.
“Hi! Jadi kau adik Aiden, benar?”
Mati aku, pasti dia akan menagih tugas yang diberikannya seminggu lalu, aku bahkan belum menyentuhnya sama sekali,’ batinku. Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitku.
“Hehe, maaf...aku belum bisa berbincang denganmu, Mrs. Maureent, tugasku banyak, bye!” ucapku dan segera menutup pintu kamarku lagi.
Huaaaa!!! Aideeen...awas kau! Kenapa memilih Mrs. Maureent untuk dijadikan istri, huh!’ teriak batinku.
Aku mengacak rambutku dengan kesal. Aku lalu membuka jendela kamarkuku lebar untuk keluar dari rumah. Jangan heran! Ini sudah kebiasaan. Hehe..
Tetapi sebelum aku benar-benar keluar dari kamar, seseorang mengetuk pintu kamarku lagi. Reflek aku langsung menjawab.
“Tidak ada orang di dalam!” ucapku dan langsung melompat dari jendela kamar, aku memanjat ke bawah dengan ukiran-ukiran batu yang terukir indah di dinding rumahku. Tetapi kemudian aku terpeleset dan jatuh ke bawah.
“Uuaaaaa!” teriakku.
Tiba-tiba seseorang menangkapku dari bawah. Huft...syukurlah, aku tidak jadi jatuh. Tetapi siapa yang menangkapku?
“A-aiden?”
“Mau kemana adikku sayang?”
“Mm...mau ke rumah Casey,” ucapku tergagap seraya turun dari gendongan Aiden.
“Katanya tadi banyak tugas? Kok main? Bahkan kau belum mengumpulkan tugas bahasa Inggrismu seminggu yang lalu, kan?” sindir Mrs. Maureent.
Tanpa menjawab pertanyaan dan pamit dengan kedua orang tuaku, aku segera berlari ke rumah Casey. Untung saja di pekarangan rumahnya sudah berdiri Tante Isabell yang sedang menyirami bunga-bunganya.
“Tante aku masuk, ya,” ucapku dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam, aku melihat Ammy yang duduk sendirian. ‘Mungkin Casey sedang membuatkan minuman,’ pikirku.
“Di mana Casey?” tanyaku.
“Di dapur,” ucapnya singkat seraya menatapku aneh tetapi aku tidak menggubrisnya. Ternyata benar apa instingku. Ah...aku memang hebat.
Aku pun segera berlalu meninggalkan Ammy dan masuk ke dalam dapur.
“Huaaaa! Caseey,” teriakku manja.
“Kenapa Ammy?” tanyanya. Ish...dia pikir aku Ammy?!
“Heh...aku Emma tahu!” ucapku seraya memukul punggungnya keras.
“Auuuhh! Mulai lagi, kan!” serunya. “Ada apa, sih?”
“Aiden pulang ke rumah.”
“Bagus, dong!”
“Dia membawa wanita!”
“Calon istrinya? Siapa?”
“Mrs. Maureent.”
“APPPAAAAA?? Yang benar saja!”
“Ck...makanya aku kabur ke sini, mana tadi Mrs. Maureent menagih tugas bahasa Inggrisku seminggu yang lalu, lagi, huaaaaa…Casey…aku harus bagaimana?” ucapku seraya menarik-narik lengan baju Casey.
“Case...ada apa?” tanya Ammy yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
“Tidak ada,” ucap Casey. Ammy berjalan mendekat dan berdiri di samping Casey. Ammy lalu memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan aneh. Yaah...memang aku hanya mengenakan jean selutut dan kaos berwarna biru bergambar kucing. Apanya yang salah?
“Case, siapa dia?” tanyanya.
“Dia Emma,” ucap Casey singkat.
“Kau dekat dengannya?”
“Tentu saja! Memangnya kenapa? Apa kau tak suka?” selaku seraya berkacak pinggang.
“Case, sepertinya kau harus menjauhinya, aku tak suka kau berteman dengan gadis yang tidak tahu sopan santun,” bisik Ammy ―tetapi terdengar sangat jelas di telingaku―
“Sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku tak segan-segan untuk menghajarmu,” ucapku seraya menarik kerah baju Ammy.
“Emma lepaskan!” bentak Casey.
“Kau...membelanya?” tanyaku seraya menatap tajam ke arah Casey.
“Bu-bukan begitu...”
“Baik! Kau lebih membelanya yang baru kenal denganmu sejak kemarin dari pada aku yang sudah kau kenal sejak masih TK. Mulai saat ini, jangan anggap aku sebagai sahabatmu lagi…semoga kalian bahagia, selamat tinggal,” ucapku seraya berbalik dan meninggalkan Casey yang masih mematung.
Aku keluar dari rumah Casey dan pergi ke taman di dekat komplek perumahanku. Karena kalau aku pulang ke rumah, akan membuat emosiku lebih memuncak. Air mataku langsung tumpah ketika aku sampai di taman.
[Casey POV]
Aku tak percaya Emma akan berkata seperti itu,’ batinku saat Emma sudah menghilang dari hadapanku.
“Case, kau tak apa?” tanya Ammy tiba-tiba.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” ucapku seraya memaksakan seulas senyum.
===
Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Emma kepadaku, dia seperti menghilang dari hidupku. Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ammy daripada bersama teman-temanku yang lain. Hari itu, tiba-tiba Emma datang ke kelasku, aku sangat senang dapat melihatnya lagi. Dia berjalan ke arah bangkuku, lalu menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Aku mengerutkan dahiku heran.
“Apa, ini?” tanyaku.
“Malam ini adalah konser pertamaku, di dalam amplop itu ada dua buah tiket. Aku harap kau dan Ammy mau datang. Setelah itu, kau tak akan pernah melihatku lagi, aku tidak akan mengganggu hidupmu dengan Ammy,” ucap Emma dan akhirnya menghilang di balik pintu.
[Author POV]
―Malam Konser―
“Case, mau menemaniku shopping, tidak?” tanya Ammy.
“Tetapi malam ini, kan konser pertama Emma,” ucap Casey.
“Sudahlah...hanya sebentar saja, kok.” Ammy mengelak.
“Hmm...baiklah,” akhirnya Casey mengalah dan menuruti permintaan Ammy.
Dan tanpa Casey sadari, Ammy telah merobek tiket konser Emma. Ammy tidak mau Casey tetap dekat dengan Emma. Menurutnya, Emma adalah pengganggu hubungannya dengan Casey.
Sementara itu, Emma masih menunggu kehadiran Casey. Dia sengaja menunggu di luar dan tidak menunggu di backstage hanya untuk dua tamu spesialnya. Tetapi sampai acara akan dimulai pun, Casey dan Ammy tidak menampakkan diri mereka. Emma pun menyerah dan segera masuk ke backstage.
Di malam konser pertamanya itu, Emma membawakan lima lagu sekaligus. Lagu pertama sampai lagu keempat, dua tempat VIP yang disediakan khusus untuk Casey dan Ammy tetap kosong. Emma sangat kecewa dengan ketidakhadiran Casey di acara yang menurutnya sangat penting itu.
Nyonya Isabell pun mencoba beberapa kali menghubungi Casey, tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya tiba di penghujung acara. Emma berdeham beberapa kali dan mulai dengan kalimat pembuka.
“Di lagu terakhir ini, saya akan membawakan sebuah lagu untuk seseorang yang seharusnya berada di sini sekarang,” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Emma. Diapun berjalan ke arah piano hitamnya yang terlihat sangat elegan.
Emma memulai lagunya dengan menekan tuts piano sehingga menghasilkan sebuah alunan nada yang begitu indah. Dengan suara emasnya, dia pun bernyanyi. Sesekali dia melirik ke dua kursi kosong di hadapannya.
Sepertinya dia tidak akan datang,’ batinnya.
Dan benar saja, sampai lagu kelima usai, Casey dan Ammy tak kunjung datang. Di backstage Emma langsung dikerubungi oleh berbagai perwakilan perusahaan entertainment untuk menandatangani kontrak dan masuk ke dunia hiburan. Karena beberapa wawancara yang nantinya akan berlangsung lama, Emma menyuruh keluarganya untuk pulang duluan, dan nantinya dia akan pulang menggunakan taksi.
Setelah usai wawancara dan menandatangani kontrak sebuah perusahaan entertainment, Emma memutuskan untuk pulang.
Tetapi sayang, di tengah perjalanan, terjadi kejadian yang tidak terduga. Supir taksi yang dinaiki oleh Emma mengantuk. Dia membanting setir ke kanan dan taksinya tertabrak oleh sebuah truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Taksi itu terpental cukup jauh, dan akhirnya menabrak  sebuah pagar jalan. Beberapa saksi yang melihat kejadian itu segera memanggil ambulance.
Beruntung, supir taksi itu hanya terkena luka berat, tetapi tidak dengan Emma. Saat dia dilarikan ke rumah sakit, dia menghembuskan nafas terakhirnya.
===
Casey tiba di rumahnya bersama dengan Ammy. Di ruang keluarga, ibunya terduduk seraya menggenggam erat kertas yang sudah tersobek-sobek. Casey yang khawatir dengan ibunya segera menghampirinya.
Mom, ada apa?” tanya Casey.
Nyonya Isabell menatap tajam ke arah Casey. “Dari mana saja kau?”
“Aku...pergi bersama Ammy,”
“Kenapa kau tidak datang ke konser Emma?”
Setelah ibunya mengatakan itu, Casey segera tersadar dan berlari ke arah kamarnya, berniat untuk mencari amplop berisi tiket konser Emma.
“Kau mencari ini? Kau sudah merobek dan membuangnya ke tong sampah, benar?” sela Nyonya Isabell seraya menunukkan kertas yang sedari tadi dibawanya.
“Aku tidak merobeknya!” bentak Casey.
“Kau sudah membuat Emma kecewa!”
Tiba-tiba ponsel Nyonya Isabell berbunyi. Dia segera mengangkatnya. Ekspresi wajahnya yang semula penuh dengan emosi, sekarang menjadi pucat dan ketakutan.
“Em..ma,” gumam Nyonya Isabell.
“Ada apa dengan Emma?” tanya Casey dengan nada khawatir.
“Di..dia…kecelakaan, dan…meninggal.”
Kalimat terakhir yang diucapkan Nyonya Isabell terasa seperti sebuah belati yang menusuk-nusuk dirinya. Casey menggeleng tidak percaya dan perlahan cairan bening keluar membuat sungai kecil di pipinya.
“I-ibu...apakah yang kau ucapkan itu sungguh-sungguh?”
Nyonya Isabell tidak menjawab pertanyaan Casey, dia menunduk dan langsung menangis.
“Sekarang juga kau harus ikut aku! Dan…Ammy, aku harap, mulai besok kau sudah tidak berhubungan dengan Casey!” ucap Nyonya Isabell. Ammy hanya bisa bungkam.
[Casey POV]
Ibu membawaku ke sebuah rumah sakit terkenal di kotaku. Aku keluar dari mobil bersama dengan ibuku. Ibuku segera berlari kecil ke arah ruang UGD. Di sana sudah berdiri kedua orangtua Emma, Aiden, dan Mrs. Maureent yang mengelilingi seseorang yang seluruh badannya sudah ditutupi kain putih.
Jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya karena berdetak sangat kencang. Aku mendekati mereka, dan mereka memberiku ruang untuk melihat siapa orang yang yang berada di balik kain putih itu.
Tangisku pun kembli meledak ketika melihat seorang gadis yang sangat aku kenali terbujur kaku dengan wajah penuh luka. Aku membekap mulutku, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku sangat menyesal tidak menuruti permintaan terakhirnya dan lebih memilih pergi bersama Ammy. Aku sangat menyesal tidak ada di sampingnya pada saat terakhirnya. Tetapi itu semua tidak ada gunanya, Emma telah tiada, tidak ada yang dapat kuperbuat lebih.
Aku masih menangis. Entahlah...aku tidak tahu aku akan berhenti menangis atau tidak.
Press the reset, press press the reset
 Sayup-sayup aku mendengar alunan lagu. Aku tak tahu pasti lagu itu berasal dari mana. Tetapi yang aku tahu, lagu itu menyuruhku untuk menekan sebuah tombol reset. Ya, tombol reset yang berada di hidupku.
Aku menutup mataku, aku merasakan tubuhku seperti terhisap ke sebuah lubang berbentuk spiral. Dan akhirnya aku terjatuh dari bangku sekolahku.
Tunggu, bangku sekolah? Apakah waktu kembali berputar sehingga aku dapat memperbaiki kesalahanku? Atau aku tadi hanya bermimpi?
Aku membuka mataku perlahan, dan di hadapanku sudah berdiri Emma yang sudah menyungginggakan senyum polosnya. Aku pun segera berdiri dan memeluknya, dia tampak terkejut dengan kelakuanku yang tiba-tiba itu.
“Tolong jangan pernah pergi dari kehidupanku,” pintaku.
“Case, apa yang kau katakan?” tanya Emma bingung. Tetapi aku hanya terdiam sembari masih memeluknya.
[Emma POV]
Aku semakin tidak tahu apa yang terjadi dengan Casey. Dia membuatku pusing, jadi aku turuti saja apa yang dimintanya. Terkadang dia sangat over protective atau terlalu baik denganku. Kelakuannya menjadi lebih aneh saat dia menolak Ammy menjadi pacarnya. Bahkan Ammy sempat berpikir bahwa aku adalah pacar Casey. Haha, lucu sekali.
Hari ini adalah hari pertamaku konser. Ya...aku lulus dalam tes sekolah menyanyiku. Dan sebagai hadiahnya, sekolah menyanyiku itu membuatkan sebuah konser dengan aku sebagai bintangnya. Menakjubkan bukan?
 Aku berjalan ke arah kelas Casey dengan senyum bahagia. Tetapi saat aku akan memasuki kelasnya, ternyata dia sudah membukannya dan tersenyum lebar ke arahku.
“Sepertinya kita berdua sedang bahagia, bukan begitu?” tanyaku.
“Sepertinya begitu, malam ini konser pertamamu, kan?” tanyanya.
“Bagaimana kau tahu?” aku membelalakkan mata.
Dia hanya tersenyum lalu merebut sebuah amplop yang sedari tadi kubawa. “Pasti ini tiket untukku,”
“Memang benar, apakah kau punya indra keenam?” tebakku.
“Mmmm...mungkin,” ucapnya.
“Jangan lupa datang, ya!” ucapku dan akhirnya kembali ke kelas saat bel sudah berbunyi.
===
Akhirnya malam pun tiba. Aku sudah berada di backstage sekarang, dan Casey menemaniku. Dia benar-benar sahabat yang baik. Hari ini aku akan membawakan lima buah lagu. Dan pada penghujung acara nanti, aku akan menyanyikan lagu khusus untuk sahabat di sampingku ini, Casey.
Konser pun akhirnya dimulai. Casey duduk di deretan kursi VIP bersama dengan kedua orangtuaku, Aiden, Mrs. Maureent, dan Tante Isabell.
Di antara seluruh penonton, Casey lah yang paling antusias mendengar lagu yang kunyanyikan. Hingga sampai di penghujung acara. Wajah Casey tiba-tiba memucat, aku jadi tidak tega melihatnya.
“Di lagu terakhir ini, saya akan membawakan sebuah lagu untuk seorang yang sangat spesial dalam hidup saya, Casey,” ucapku dan para penonton pun bertepuk tangan meriah.
Lagu pun selesai dan aku kembali ke backstage. Di sana, aku langsung dikerubungi oleh berbagai perwakilan perusahaan entertainment untuk mendapatkan tanda tangan kontrak dan masuk ke dunia hiburan. Karena beberapa wawancara yang nantinya akan berlangsung lama, aku menyuruh keluargaku untuk pulang duluan, dan nantinya aku akan pulang bersama Casey dengan mobil Ford hitamnya.
Usai wawancara dan menandatangani sebuah kontrak perusahaan entertainment, aku memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, aku dan Casey banyak berbincang. Bahkan Casey bercerita tentang masa kecil kami.
Wajah Casey tampak lebih pucat dari yang sebelumnya, aku jadi semakin khawatir.
“Case, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat,” ucapku.
“Tidak apa,” ucapnya seraya tersenyum lebar.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, sebuah truk melaju kencang.
“Casey! Awaaas!” teriakku.
Tetapi naas, mobil yang kami tumpangi tertabrak truk itu dan terpental jauh, lalu akhirnya menabrak pagar jalan, aku merasakan ada seseorang yang mendekap tubuhku erat. Dan dapat aku rasakan nyeri hebat di salah satu pergelangan tangan dan kakiku. Sepertinya patah, lalu semua menjadi gelap.
Aku terbangun lagi di ruangan serba putih. Aku masih dapat merasakan sakitnya pergelangan tangan dan kakiku. Di sampingku, sudah berdiri kedua orangtuaku dan juga Aiden.
“Di mana Casey?” tiba-tiba hanya kata itu terlontar dengan sendirinya dari mulutku.
“Dia...” Aiden tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba dapat kudengar jerit tangis seorang wanita. Aku menoleh ke samping, ternyata yang menangis adalah Tante Isabell. Dia menangis di hadapan seseorang yang sudah tertutupi kain putih. Perasaanku menjadi tidak enak.
Aku mencabut selang infus yang menancap di tanganku, lalu aku menjatuhkan diriku ke bawah dan merangkak ke arah Tante Isabell. Aiden mencegahku dan hendak mengangkatku ke kasur. Tetapi aku memberontak dan tetap merangkak. Semakin dekat...semakin dekat...tangisku akhirnya meledak. Dan dengan segenap kekuatanku, aku berusaha untuk berdiri, lalu membuka kain putih itu.
Di situ, sudah terbujur kaku seorang lelaki, dia...Casey.
“Caseeeey!” teriakku saat melihat mayat Casey yang penuh luka. Akupun menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mempedulikan sekitarku. Aku hanya ingin Casey tetap di sisiku.
Press the reset, press press the reset...reset, reset, reset...
―End―

Friday, 16 March 2012

Memories [Part 2-End]

Posted by AkaneHeeHee at Friday, March 16, 2012 0 Comments

Title                       :  Memories Part 2 –End– [Sequel of Story About Donghae’s Sister]
Author                  : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating                   : T
Category              : Romance, Sad, Comedy, Family
Lenght                  : Twoshoot
Cast                       :  Lee Kiseop, Lee Kihyun (OC), Kim Jongrin (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae and find the other cast
Cover Credit       : Edited by AkaneHeeHee
Disclaimer           : I only own the plot, the characters are belong to themselves, do not take it out withouth permission. The pictures in this fiction isn’t mine. I take it out from tumblr.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
Memories
===
[Dongrin POV]
“Ah...hyung!” pekik Kyuhyun.
Aku dan Heechul Oppa hanya bisa mematung dan saling berpandangan. Aku masih bergelut dengan pikiranku yang sekarang sudah melayang ke beberapa tahun yang lalu, di mana terakhir kalinya aku melihat sosok oppaku. Tiba-tiba sepasang tangan memelukku erat, itu oppaku. Aku semakin mematung, mulutku kelu tak dapat bergerak. Donghae Oppa segera meraih ‘tubuh’ Heechul Oppa dan memeluknya dengan erat.
“Dongrin-a...Heechul Hyung...kembalilah...kumohon!” isak Donghae Oppa yang masih memelukku dan Heechul Oppa.
Setelah Donghae Oppa mengatakan itu, ‘tubuh’ ku terasa aneh, aku...menginjak lantai?
“Tidak mungkin...” gumamku. Aku memandang ke arah Heechul Oppa lagi.
Ternyata dia juga sama denganku, dia menginjak lantai, dan wajahnya perlahan tampak seperti manusia hidup. Aku hanya bisa menggeleng lemah.
“Apakah ini yang akan terjadi? Oh tidak...tidak...kumohon jangan sekarang!” gumamku.
“Dongrin-aa apa yang kau katakan?” tanya Donghae Oppa yang sudah melepas pelukannya.
Air mataku tumpah. Aku tak ingin berpisah dari mereka lagi. Biarkan aku seperti ini, asalkan aku masih bisa melihat sosok mereka. Aku tidak ingin rohku juga pergi dari mereka.
Aku melihat pergelangan tanganku. Perlahan tanganku terkikis menjadi pasir yang berterbangan. “Oppa...” air mataku semakin deras.
“Dongrin-a!”
Aku berjalan mendekati Heechul Oppa, kemudian menggenggam tangannya. Walaupun tangan kami sudah terkikis setengah, tetapi pegangan kami masih erat.
“Semuanya...selamat tinggal untuk yang kedua kalinya,” ucapku. Dan kemudian aku tidak merasakan apapun. Aku...lenyap, bersama dengan kenangan-kenanganku.
[Author POV]
Another Place in Same Time
Oppa!!!” teriak seorang gadis yang baru saja pulang.
“Heung?” gumam lelaki yang dipanggil ‘oppa’ tadi dari dalam dapur. Lelaki itu sedang membawa berbagai macam snack yang diambilnya dari kulkas.
“Kenapa ruang tamu bisa jadi sangat berantakan, dan untuk apa makanan sebanyak itu?” tanya gadis itu bertubi-tubi.
“Err...yang itu tidak tahu, dan ini untuk teman-temanku, wae?”
“Hah? Nugu?”
Nae Chingu,” dengus lelaki itu pelan.
“U-Kiss member?” tiba-tiba gadis itu menjadi sumringah.
Ani...” ucap lelaki itu datar sehingga membuat sang gadis mendecak kesal.
Oppaaa...kenapa lama sekali?” terdengar suara beberapa gadis yang berasal dari lantai dua.
“Ehheem...oppa, kau membawa siapa?” tanya gadis itu dengan wajah ingin membunuh.
“Ehe...Kihyun-a, biarkan oppamu ini bersenang-senang sebentar, jebal,” ucap lelaki tadi dengan wajah memelas.
Tiba-tiba dari lantai dua, tampaklah dua orang gadis yang cantik jelita ―mungkin ulzzang― yang memasang wajah imutnya.
Oppa...siapa dia? Apakah tamu baru?” tanya salah seorang gadis.
“Lee Kiseop, kau ingin membuat skandal baru, ya?” ucap gadis bernama Kihyun tadi dengan berkacak pinggang.
“Aiiyaa! Kenapa kau memanggilku seperti itu? Aku ini oppamu!” seru lelaki yang bernama Kiseop itu tidak terima.
“Kenapa? Kita hanya berjarak tiga menit!” ucap Kihyun dengan wajah datar.
“Aiish...arasseo ini yang terakhir,” janji Kiseop.
“Awas kalau bohong!” ucap Kihyun dengan nada mengancam.
Kiseop hanya bisa mendengus pelan, kemudian beranjak ke lantai atas. Tetapi baru beberapa anak tangga yang dinaikinya, dia berbalik.
“Kihyun-a!” panggilnya.
Wae?” balas Kihyun dengan malas.
“Kau tidak keberatan, kan kalau kau yang membeli keperluan isi kulkas?” suruh Kiseop dengan entengnya.
Kihyun hanya bisa mendecak kesal dan memutar bola matanya dengan sebal. “Arasseo, aku pergi sekarang,” ucapnya kemudian menyambar tas dan jaketnya.
“Aah...tunggu!”
“Apa lagi?”
Mianhae.”
“Emh...tumben. Annyeong!” sindirinya, kemudian berlalu.
[Author POV]
“Dongrin...” gumam Donghae yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Hyung...” Kyuhyun menepuk pelan pundak Donghae. “aku tahu ini berat bagimu, tapi aku harap kau tidak terlalu memikirkannya, relakan mereka pergi.”
Donghae hanya terdiam menatap udara kosong.
Hyung...”
“A-aku harus pergi sekarang,” ucap Donghae pelan seraya menyembunyikan kesedihannya yang mendalam.
Hyung, gwenchana?” tanya Kyuhyun hati-hati.
“Hmm...gwenchana,” ucap Donghae seraya memaksakan seulas senyum. Dan dengan segera dia pergi dari rumah Kyuhyun dan Jongrin.
[Donghae POV]
Sampai sekarang aku masih belum mempercayainya, itu tadi pasti hanya ilusi, ya...hanya ilusi.
Karena rumah Kyuhyun yang letaknya dekat dengan Namsan Tower, aku berniat ke sana. Aku merapatkan jaketku karena malam ini sedang turun salju.
Aku menyapu tumpukan salju itu dengan kakiku. Tetapi tiba-tiba memoriku berputar ke beberapa tahun yang lalu, di mana Dongrin yang sangat senang ketika eomma membolehkannya keluar dan bermain salju. Tanpa ku sadari, air mataku menetes. Aku menangis dalam diam.
Oppa...jangan cengeng!’ tiba-tiba suara Dongrin terngiang dalam kepalaku. Dengan segera aku menghapus air mataku kemudian membayangkan wajahnya yang sedang tersenyum.
“Cish, babo namja, michyeoseo...oppa sialan!” tiba-tiba seorang gadis berlalu seraya menggerutu.
Entahlah ini deja vu atau apa, tetapi aku merasa gadis tadi seperti Dongrin. Hal itu terlihat sangat jelas dari pandangan matanya, cara berjalannya, dan cara berbicaranya, wajahnya pun juga hampir mirip.
Karena penasaran, aku pun mengikutinya. Ternyata gadis itu pergi ke sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari tempatku semula.
Annyeonghaseyo~” ucap gadis itu saat memasuki mini market.
Aku segera memakai maskerku agar tidak ada orang yang menyadari keberadaan seorang Lee Donghae yang sedang berkeliaran malam-malam. Setelah dirasa wajahku sudah tidak dikenali, akupun memasuki mini market itu.
“...bukankah tiga hari yang lalu kau sudah berbelanja banyak?” tanya ahjumma penjaga mini market itu.
“Ck...ahjumma kan tahu sendiri bagaimana oppaku itu,” jelas gadis itu.
“Ah, eosse esseoyo,” sapa ahjumma itu saat menyadari keberadaanku.
“Euh...ah, ne,” balasku canggung.
“Ya sudah ahjumma, nanti kita lanjutkan mengobrolnya,” ucap gadis itu menyudahi pembicaraannya dengan ahjumma pejaga mini market itu.
[Kihyun POV]
Call : 바보 남자 (Babo Namja)
Mwo?” ucapku datar
“Belikan aku snack!” suruh oppaku dengan entengnya
S-H-I-R-E-O, shireo!” bentakku kemudian langsung mematikan sambungannya.
Call : 바보 남자
“Sudah kubilang aku tidak mau! Aku bukan pembantu!”
“Ya! Ya! Jangan ditutup!” suruhnya. Tapi terlambat, aku sudah menutupnya dan melanjutkan kegiatanku yang tertunda.
“Haish...” aku mendengus kesal, kemudian mematikan ponselku.
===
‘BRUUKK!’
“Ah, mianhamni―Ya! Kenapa kau ke sini, huh?” bentakku saat melihat seseorang yang kutabrak, oppaku.
“Kenapa? Tak ada undang-undang yang mengatur. Lagipula aku ke sini untuk membelikan snack member U-Kiss,” balasnya dengan ketus.
“Tapi tadi kau bilang aku yang kau suruh belanja, lalu kau datang ke sini, maksudmu apa huh?” bentakku sehingga banyak orang yang melihat dan mulai berbisik-bisik.
“Salah siapa kalau tadi aku suruh tidak mau?”
“Grr....itu karena kau sudah menghabiskan seluruh makanan di kulkas hanya untuk teman yeojamu!”
“Kenapa kau selalu mengaturku? Atur saja kehidupanmu sendiri! Kau tahu, aku ini lebih tua darimu!”
“Jangan membentakku seperti itu! Walaupun kau lebih tua, tapi kita hanya berjarak tiga menit, bukan tiga tahun! Babo namja!”
“Tapi tetap saja aku yang lebih tua darimu! Micheyo yeoja. Kenapa sih, dulu eomma harus melahirkanmu juga? Kau itu tidak berguna!” bentaknya kepadaku.
Aku tertegun, air mataku mendesak untuk keluar, tetapi aku menahannya. Setahuku, saudara kembar itu tak pernah menyesal dilahirkan berdua. Aku benar-benar tak menyangka oppaku akan mengatakan hal tabu seperti itu. Entah setan apa yang merasukinya sekarang.
“Ya! Ya! Sudah hentikan pertengkaran kalian dan kita pulang,” tiba-tiba Soohyun Oppa, dan juga Eli datang melerai.
“Aku benci oppa!” gumamku, kemudian berlari keluar.
“Kihyun-a tunggu!” seru Eli, tetapi aku tak menanggapinya.
Aku berlari sekencang mungkin menuju taman favoritku, walaupun tempatnya lumayan jauh, tetapi aku tetap bersikeras pergi ke sana. Tanpa kusadari, air mataku tumpah. Oppaku...dia sungguh kejam! Dia tak pernah mengerti dan menghargaiku.
Akhirnya, aku sampai di taman itu, kemudian duduk di salah satu kursi ayunan.
Eomma...”  gumamku di tengah isakan tangis.
Aku mengayunkan ayunan itu, dan berusaha melupakan kejadian tadi. Aku menghidupkan kembali ponselku. Ada sepuluh panggilan tak terjawab.
Aku kembali mengayunkan ayunan itu, tiba-tiba kepalaku pusing hebat dan mataku berkunang-kunang. Aku mencoba berdiri, tetapi kemudian semuanya menjadi serba putih.
[Kiseop POV]
“Kiseop-a...kau harus meminta maaf padanya! Perkataanmu tadi terlalu kasar,” suruh Soohyun Hyung kepadaku.
Aku tidak menggubrisnya, kemudian memandang keluar jendela dorm. Ya, aku tidak pulang ke rumah, tetapi ke dorm.
Danyeo waseumnida...”sapa dua orang yang baru saja datang, AJ dan Hoon
Danyeo oseyo...” balas semuanya, kecuali aku.
“Loh? Ada apa ini? Kok suasananya tegang?” tanya Hoon.
Soohyun Hyung memberi mereka isyarat untuk diam. Mereka yang sadar akan isyarat itu segera menutup mulut mereka dan menjauh.
Hyung, kurasa benar apa yang dikatakan Soohyun Hyung. Kau terlalu kasar padanya. Walaupun dia kembaranmu, tetapi dia tetap dongsaengmu. Kurasa dia membentakmu tadi karena kau kurang menghargainya dan kurang mengerti bagaimana perasaannya. Kau tahu hyung, wanita itu perasaanya lemah dan sensitif,” ucap Dongho.
Aku mencerna kembali perkataan  Dongho, ada benarnya juga perkataannya. Aku berjalan mendekatinya, kemudian menepuk pundaknya sekilas.
Gomawo, kau memang dongsaeng terhebat!” ucapku memujinya.
“Jadi, bagaimana keputusanmu? Kau akan meminta maaf padanya?” tanya Eli.
Ne, tapi tidak sekarang,” ucapku.
Wae?” tanya Dongho.
“Aku rasa dia masih marah padaku, dan tak akan mengangkat teleponnya.”
“Baiklah, kami akan selalu mendukungmu, hwaiting!” ucap Soohyun Hyung seraya mengepalkan kedua tangannya di udara.
[Kihyun POV]
Akh...kepalaku sakit sekali...mataku juga jadi sangat berat.
Aku mencoba membuka mataku perlahan, kemudian mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
‘Aku di mana?’ batinku. ‘Ini tidak terlihat seperti kamarku atau babo namja itu. Apakah dorm U-Kiss? Ah...kurasa tidak, tak ada satupun yang memiliki kamar seperti ini. Jangan-jangan...’
Oppa!!”aku terbangun seraya berteriak.
“Ah, selamat pagi. Kau sudah bangun rupanya,” ucap seorang lelaki seraya masuk ke kamar yang kupakai saat ini.
“Leeteuk Oppa?”
Ne, bagaimana keadaanmu, kau sudah baikan?”
“Memangnya aku kenapa? Dan...ini di mana?”
“Kemarin Donghae menemukanmu pingsan di sebuah taman. Karena tak tega, dia membawamu kemari. Ke dorm Super Junior,”
“Jadi, semalam aku di dorm Super Junior? Aish...babo namja itu pasti akan mengomeliku lagi karena aku tak pulang ke rumah,”gerutuku.
“Sudahlah, lebih baik sekarang kau sarapan dulu, Ryeowook akan memasakkan untukmu,” ajak Leeteuk Oppa dan hanya kubalas dengan anggukan.
===
“Jadi, namamu Kihyun?” tanya Sungmin Oppa.
Ne, waeyo?” tanyaku balik.
“Tidak ada,” balasnya. “Hanya saja, namamu terlalu unik untuk seorang yeoja.”
“Pujian atau sindiran?” tanyaku dengan pandangan dingin.
“Ti-tidak keduanya,” ucapnya takut kemudian bermain dengan ponselnya seraya menunggu makanan siap.
 “Kau punya Fandom?” tanya Leeteuk Oppa.
“Punya...kurasa.”
“Apa?” tanya beberapa member antusias.
“Emh...Kiss Me, mungkin,” ucapku. Tentu saja aku memilih Kiss Me, kakak kembarku saja salah satu membernya.
“Ah, pantas saja di ponselmu banyak foto U-Kiss, khususnya Eli,” ucap Eunhyuk Oppa.
‘Hah? Bagaimana dia bisa tahu?’ batinku, kemudian aku merogoh kantong celanaku, ponselku hilang!
“Kembalikan ponselku!” ucapku.
Leeteuk Oppa berdeham beberapa kali dan menatap tajam ke arah Eunhyuk Oppa. Kemudian dia mengeluarkan ponsel putih berlogo apel dari sakunya.
“Itu bukan ponselku!” ucapku.
“Memang bukan, itu ponselku,” ucap Eunhyuk Oppa dengan polos.
“Lalu di mana ponselku?”
“Ada di kamar yang kau pakai tadi,” ucapnya.
“Huh!” aku mendengus kesal. Dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
“Makanan siaaaap~” seru Ryeowook seraya menaruhkan semangkuk besar nasi goreng. “Loh? Kihyun-aa, kau mau ke mana?” tanyanya kepadaku.
“Mengambil ponsel,” ucapku datar kemudian berlalu.
Aku mengedarkan pandanganku, ternyata ponselku diletakkan di sebuah meja kecil di sebelah ranjang. Dan tanpa berpikir panjang, aku mengambil ponselku. Ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari oppaku.
Call : 바보 남자
“Kihyun-aa, makan dulu!” saat aku akan mengangkat telepon dari oppaku, Ryeowook Oppa memanggil.
Ne, sebentar, ada telepon,”
Yeoboseyo?” ucapku datar.
“Kau di mana?”
“Di suatu tempat yang tak kau ketahui,” ucapku ketus. Yaah, aku masih tersinggung dengan ucapannya kemarin.
“Ya! Aku serius!” ucapnya dengan nada manja.
“Aku juga serius!”
“Kihyun-aa, ayo makan dulu!” suruh Ryeowook Oppa yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“Ah, ne, sebentar,” ucapku.
“Ya! Siapa itu?” tanya oppaku tiba-tiba.
“Bukan urusanmu!” ucapku kemudian memutus hubungan teleponnya.
“Siapa tadi yang meneleponmu? Namjachingumu ya?” tanya Ryeowook Oppa dengan nada menggoda.
“Ah...ani...Oppa-ya kkaja...nan bae go payo,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Aish...kau benar-benar pintar mengalihkan pembicaraan,” Ryeowook Oppa mendecak kesal.
“O ya, oppa...ngomong-ngomong, itu foto siapa?” tanyaku seraya menunjuk sebuah foto.
“Dia Dongrin, adik Donghae Hyung,” ucap Ryeowook Oppa.
“Sepertinya aku kenal, tapi entahlah. Yasudah oppa, yuk!”suruhku.
[Author POV]
“Wah...nasi goreng!” seru Kihyun dengan berbinar.
“Jadi ini makanan kesukaanmu?” tanya Sungmin.
“Ehem...” angguk Kihyun. “Dulu eomma sering membuat yang seperti ini.”
“Kalau begitu...ayo cepat dimakan!” suruh Ryeowook dengan nada manja.
“Baiklah...baiklah, aku akan memakannya,” ucap Kihyun seraya menyendokkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Bagaimana?” tanya Ryeowook tidak sabar.
Kihyun mengunyah makanannya kemudian menelannya. Tetapi beberapa detik kemudian dia terbatuk, lalu nafasnya jadi tersenggal-senggal dan kulitnya memerah.
“Kihyun-aa, waegurae?” tanya Leeteuk khawatir. Kihyun hanya menggeleng dan terus mencoba untuk bernafas.
“Ryeowook-ah, kau memasukkan apa ke dalam makanannya?” tanya Donghae yang langsung menyadari apabila Kihyun alergi dengan sesuatu.
“Aku menambahkan telur dan parutan keju,” jelas Ryeowook dengan nada ketakutan.
“Kihyun-aa, apa kau alergi sesuatu?” tanya Leeteuk.
“Te-lur,” ucapnya terbata.
Hyung! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!” ucap Donghae dengan panik.
Annyeong~” tiba-tiba seorang lelaki dan seorang perempuan ―yang masing-masing mendorong sebuah dorongan bayi― masuk ke dorm. Mereka Kyuhyun dan istrinya, Jongrin.
Hyung! Ppali!” seru Donghae yang tidak memperdulikan  Kyuhyun dan Jongrin.
Wae...waegurae?” tanya Kyuhyun yang kebingungan.
Dengan segera, Leeteuk menggendong Kihyun keluar dan diikuti oleh Donghae.
“Dia siapa? Dan...kenapa?” tanya Jongrin yang sama bingungnya dengan Kyuhyun.
“Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan,” ucap Sungmin.
“Sekarang saja kenapa, sih?” suruh Kyuhyun dengan penasaran.
“Baiklah...baiklah. Namanya Kihyun. Kemarin, Donghae menemukannya pingsan di sebuah taman, kemudian dia membawanya kemari karena tak tega meninggalkannya sendirian. Dan tadi, Ryeowook tidak sengaja memasukkan telur  ke dalam makanannya,” jelas Sungmin. “Dan ternyata, dia alergi dengan telur.”
“Oh, jadi begitu.”
Yeo...yeoboseyo?” tiba-tiba Ryeowook menerima sebuah telepon, dari Leeteuk.
Mwo? Kritis? Ne, aku akan ke sana,” ucap Ryeowook, wajahnya pucat.
“Siapa?” tanya Eunhyuk.
“Leeteuk Hyung, dia bilang kalau Kihyun kritis,” ucap Ryeowook. “Aku akan menyusul ke sana dan minta maaf pada Kihyun.”
“Aku ikut!” seru Kyuhyun.
“Ya! Kau tak usah ikut!” ucap Jongrin seraya mencubit pinggang Kyuhyun.
Aigooo...auuh, ne..ne,” ucap Kyuhyun seraya mengusap pinggangnya.
===
Hyung! Bagaimana keadaan Kihyun?” tanya Ryeowook begitu sampai di rumah sakit.
“Dia sudah tidak apa-apa, hanya saja dia masih lemas,” jelas Leeteuk.
Hyung, kau sudah menghubungi keluarganya?” tanya Ryeowook lagi.
“Belum.”
“Kalau begitu aku akan menghubunginya namjachingunya, di mana ponsel Kihyun?” ucap Ryeowook.
Leeteuk pun mengeluarkan ponsel berwarna ungu dan menyerahkannya ke Ryeowook. “Memang kau tahu siapa namjachingunya?”
“Aku tahu, tadi pagi namjachingunya menelpon Kihyun.”
“Do...Donghae-ya? Waegurae?” tanya Leeteuk kepada Donghae yang terduduk lemas di kursi tunggu.
“Aku...mengingat Dongrin,” ucapnya.
“Sudahlah, walaupun dia sudah tiada, tetapi dia akan selalu ada di sini,” ucap Leeteuk seraya menunjuk dada kiri Donghae. “Di hatimu.”
===
―U-Kiss Dormitory ―
‘You feel in I my me mine subete, kakete egaku ai no sign. Sono hitomi no oku ni...’
Yeoboseyo?” sapa Kiseop.
“Emh, apa kau namjachingu Kihyun?”
“Hah? Namjachingu? Aniyeo...aku oppanya,” ucap Kiseop. “Kalau boleh tahu, ini siapa, dan di mana Kihyun?”
“Ah, gurae. Begini, Kihyun sekarang ada di rumah sakit...”
“Hah? Kenapa?” sela Kiseop.
“Kau ke sini saja, nanti aku akan jelaskan.”
“Baiklah, dia di rumah sakit mana?”
===
Kiseop segera menyambar jaket dan kunci mobilnya yang tergeletak di meja ruang tengah.
“Kau mau ke mana?” tanya Eli.
“Kihyun...dia masuk rumah sakit!” ucap Kiseop.
Mwo? Aku ikut!” ucap Eli.
Arasseo...ppali,” suruhnya kemudian berlari keluar.
===
“Kihyun-aa, mianhae,” ucap Ryeowook.
“Emh...gwenchana, oppa tak perlu minta maaf segala. Ini hanya kecelakaan kecil saja,” ucap Kihyun.
“Tapi kan tetap aku yang salah,” Ryeowook masih tetap menyalahkan dirinya sendiri. “Mianhae...jeongmal mianhae.”
Ne, arasseo.”
“KIHYUN-AA!” teriak seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Kihyun.
Oppa?” Kihyun membelalakkan matanya.
“Kiseop?” Ryeowook dan Leeteuk ikut membelalakkan matanya.
“Kihyun-aa! Kenapa semalam kau tak menjawab teleponku? Kenapa semalam kau tak pulang ke rumah? Kenapa kau tak memberitahuku di mana kau tadi? Apabila eomma tahu kalau kau semalam tidak pulang, aku yang akan kena marah! Apalagi di tambah kau yang masuk ke rumah sakit.”
Kiseop langsung memberondongi Kihyun dengan berbagai pertanyaan. Kihyun pun hanya bisa menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tiba-tiba dari pelupuk matanya keluar cairan bening yang membuat Kiseop tersadar akan perkataanya yang sekali lagi menyakiti perasaan Kihyun.
“Kihyun-aa...” Kiseop perlahan mendekati ranjang Kihyun.
Leeteuk, Donghae, dan Ryeowook yang mendapat isyarat agar meninggalkan keduanya segera beranjak.
“Kenapa kau kemari? Kau bilang aku tak berguna,” ucap Kihyun dengan ketusnya.
Mianhae.”
“Hanya itu?” ucap Kihyun dengan nada kecewa. “Hanya itu kah yang kau katakan setelah kau menyakiti perasaanku? Kau itu tak pernah mengerti bagaimana perasaanku! Aku tidak butuh ketenaran, aku tidak butuh uang, aku tidak butuh segalanya. Yang aku butuhkan hanya kasih sayang! Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya!” bentak Kihyun dengan air mata yang mengucur deras.
Tiba-tiba Kiseop memeluk erat Kihyun yang sekarang sudah menangis hebat. “Maaf, maafkan aku, untuk segalanya. Aku tahu, selama ini aku salah. Aku memang bodoh. Aku berjanji untuk kedepannya aku akan lebih memperhatikanmu, sekali lagi...mianhae.”
Kihyun tidak menjawab apapun, dia hanya tetap menangis dan menangis.
“Tidak apa, menangislah sepuasnya, kau sudah lama menahan rasa sakit di hatimu, mianhae,” Kiseop mengelus kepala Kihyun dengan lembut. Tangis Kihyun pun semakin hebat, kemudian dia membalas pelukan Kiseop.
Nado mianhae, oppa.”
[Leeteuk POV]
“Eli-ssi,” ucapku.
Ne?” balasnya.
“Sebenarnya mereka ada masalah apa sampai bertengkar hebat seperti itu?” tanyaku.
“Yah, sebenarnya mereka memang sering bertengkar seperti itu. Dan kemarin mereka ada di puncaknya,” jelas Eli.
“Maksudnya ada di puncaknya?” tanya Ryeowook tiba-tiba.
“Kemarin, Kiseop membentak dan mengatakan hal yang kasar terhadap Kihyun. Dan kemungkinan itulah yang menyebabkan Kihyun kabur semalam,” Eli kembali menjelaskan.
“Ah, Kiseop-aa, bagaimana Kihyun?” tanyaku saat Kiseop keluar dari ruang rawat.
“Dia tertidur karena lelah menangis,” ucap Kiseop.
“Kiseop-ah, aku ingin memberitahumu sesuatu,” ucap Donghae tiba-tiba.
Ne?”
“Kau harus lebih memperhatikannya, dan usahakan perhatikan kesehatannya juga. Aku tidak mau kau mengalami hal yang sama sepertiku,” ucap Donghae menasehati Kiseop. Bisa kulihat mata Donghae yang berkaca-kaca.
Ne, aku akan berusaha,” ucap Kiseop seraya tersenyum.
[Author POV]
Sehari kemudian, Kihyun pun akhirnya pulang. Kiseop pun mengadakan sebuah acara kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Kihyun. Beberapa member Super Junior pun diundang.
“Ki-Kiseop?” Jongrin yang baru datang langsung mengenali Kiseop.
“Jongrin? Kenapa kau ke sini?” tanya Kiseop. “Ah, mianhae...aku baru ingat kalau kau istri Kyuhyun Sunbae.”
“Kalian saling kenal ya?” tanya Kyuhyun yang sudah berada di belakang Jongrin.
Ne, dia satu agensi denganku dulu saat menjadi ulzzang. Ngomong-ngomong di mana Kihyun?”
“Dia di atas, aku akan memanggilnya.”
“Kihyun-aa!” teriak Kiseop. “Aigoooo...pasti volume penuh lagi.”
Kiseop pun mendekati Kihyun perlahan, kemudian melepas headphonenya dan berteriak tepat di telinganya.
“Ya! Neo jinjja!” Kihyun memukul Kiseop dengan bantal. “Waegurae?”
“Yang lain sudah menunggumu di bawah, kkaja,” ajak Kiseop.
“Sebentar, aku selesaikan dulu membacanya...seru nih ceritanya,” ucap Kihyun dengan pandangan tetap mengarah ke ponselnya.
“Baca apaan sih?” tanya Kiseop penasaran.
“Fanfic...ceritanya bagus, seru lagi. Nama authornya AkaneHeeHee, unik yah namanya,” ucap Kihyun tetapi tidak ditanggapi oleh Kiseop. Kiseop pun akhirnya menggeret Kihyun ke bawah.
Kkajaa!!” perintahnya.
“Ya! Ya! Ya! Aku baru saja keluar dari rumah sakit! Ya! Babo namja...hentikaaaan!” teriak Kihyun karena Kiseop menyeretnya dengan brutal.
―The End―
Yak! Akhirnya selesai nih epep...ehehe, mian kalo kepanjangan( ._.)v ini aja udah aku persingkat lagi ceritanya.
Eee...kayanya ceritanya jadi nggak nyambung sama part 1 kalo dilihat” XDD. Gimana menurut readerdeul?
Terus alurnya jadi kelihatan kecepetan banget...masa Kihyun bisa dengan cepat adaptasi sama anak” Suju..Aku memang author gagal ~o~...mianhae~
Mian lagi kalo ada kiseop biased yang merasa biasnya aku nistai...hohoho ^o^v *sebenernya emang dinistai sih XD*
Btw endingnya nggak banget yah XDD...terus unsur comedynya juga hilang gara” kiseop cari gara” sama kihyun XDD *kok kiseop yang disalahin?*
Kenapa di sini banyak U-Kiss nya daripada SuJunya? Yaah...jawabannya simpel aja sih...
Author baru suka u-kiss...apalagi eli >.< #outoftopic
O ya...sekedar pemberitahuan...yang di memories sebelumnya kan endingnya aku bilang kalo ada dua orang yang berdiri matung di depan rumah kyu kan...
Itu typo...mian ._.v
Harusnya cuma seorang...yaitu donghae XDD
Yasudahlah...itu aja~
Sampe ketemu di epep selanjutnya~~
O ya sampe lupa...kira” ada yang mau profilnya Dongrin sama Kihyun nggak? Kalo mau ntar aku post ^^~
Tapi kalo nggak ada yang mau...tetep aku post XDD #authorbabo

Reset

Posted by AkaneHeeHee at Friday, March 16, 2012 0 Comments

Title                       : Reset
Author                  : AkaneHeeHee (@akane970117)
Rating                   : PG-13
Category              : Alternative Universe, Friendship, Romance, Tragedy
Lenght                  : SongFict
Main Cast            : Kim Heechul as Casey Kim, Lee Dongrin as Emma Lee (OC), Kim Jongrin as Lilyana Kim (OC), Park Byulri as Ammy Park (OC), and find the another cast.
Disclaimer           : I only own the plot, the characters are belong to themself. Do not take it out without permission.
HAPPY READING, IF YOU DON’T LIKE THIS FANFIC. YOU CAN CLOSE THIS PAGE NOW.
PLEASE DON’T BASHING AND HAVE A RESPECT. COPYCAT MAY JUST LEAVE.
AT LEAST ENJOY IT :).
RESET
===
Hidup tidaklah mudah
Terkadang kita melakukan berbagai kesalahan
Gunakan kesempatan hidup itu dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tidaklah semudah menekan tombol reset
===
[Author POV]
                Lonceng jam sekolah mulai berdentang keras menandakan kegiatan belajar mengajar telah usai. Seorang gadis berambut hitam kecoklatan keluar dari kelasnya dengan tampang lesu. Dia berjalan gontai ke arah sebuah kelas yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
“Emma, mau bertemu Casey lagi, ya?” tanya seorang gadis yang baru saja keluar dari kelas dengan tampang bosan.
Gadis bernama Emma itu hanya mengangguk dan segera berlalu. Dia membuka pintu kelas di depannya perlahan, dan tampaklah seorang lelaki berambut hitam pekat yang sedang tertidur pulas dengan tangan bersila sebagai bantal.
Emma memutar bola matanya dan mendengus kesal mendapati temannya masih tertidur pulas di kelas.
“Casey! Bangun, hooy!” seru Emma seraya mengguncang-guncangkan tubuh lelaki bernama Casey itu pelan.
“Hmm? Nanti dulu, ya. Masih ngantuk, nih,” gumam Casey seraya membetulkan posisi tidurnya.
“Ya! Casey...ayo cepat bangun!” sekarang Emma menarik-narik lengan Casey. Tetapi tetap tidak mendapat respon.
Emma yang sudah kesal dengan Casey, mendorong meja Casey sehingga membuatnya terjatuh.
“Auuh! Sakit tahu! Apa-apaan, sih?” seru Casey.
Emma hanya tersenyum polos kemudian duduk di bangku sebelah Casey.
‘Cih, senyum polos tapi bikin emosi,’ gumam Casey pelan.
“Hei! Aku dengar itu,” ucap Emma dengan wajah datar, dan bersiap memukul kepala Casey.
“Eh...iya-iya, jangan pukul aku, ya!Please...Emma baik, deh, Emma cantik, deh,” rayu Casey dengan wajah yang dibuat-buat.
“Cih, aku tak bisa termakan bujuk rayumu, Case!”
“Kalau aku bilang kau cantik beneran, gimana?”
“Ooh...makasih, gak butuh!” ucap Emma ketus.
“Iya, deh, iya. Toh aku juga gak mau bilang kalau kau cantik. Sadis gitu, mana ada cantik-cantiknya?” ucap Casey dengan wajah polos. Dan beberapa detik kemudian, buku yang sedari tadi dibawa Emma ―yang tebalnya melebihi tebal novel Harry Potter― itu mendarat mulus tepat di kepala Casey.
“Aduuuh! Kau itu kalau marah kira-kira, dong! Sadar, gak sih tuh buku tebelnya seberapa?”
Emma terdiam dan hanya memamerkan senyum polosnya yang dapat membuat banyak orang mengejarnya. Bukan karena tertarik dengan senyumnya, tetapi karena kepolosannya yang dapat membuat emosi banyak orang. Termasuk Casey saat ini yang tengah mengejar Emma yang sudah keburu kabur meninggalkan Casey.
[Casey POV]
Aku, seorang lelaki tampan bernama Casey dan baru berumur 17 tahun, yang sangat pandai dan disukai banyak wanita. Mulai dari bayi...oh, tunggu, ku ralat. Mulai dari anak kecil, remaja, ibu-ibu, bahkan nenek-nenek sekalipun.
Dan gadis di sampingku ini adalah Emma. Dia sahabatku. Dia adalah gadis yang sangat bawel, berisik, sadis, dan keras kepalanya setengah mati. Tetapi prestasinya dalam bidang seni sungguh menakjubkan. Terutama dalam bidang seni lukis dan seni musik.
Aku dan Emma sudah bersahabat sejak kecil, kami juga bertetangga, bahkan orang tua Emma sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, begitu juga sebaliknya.
Emma berjalan mendahuluiku dengan wajah cemberut. Marah kurasa, karena tadi aku menjambak rambutnya dan hampir membuatnya jatuh ke selokan. Aku mempercepat laju langkahku, berniat untuk berjalan sejajar dengannya.
“Emma,” seruku memecah keheningan.
“Apa?” tanyanya ketus.
“Tumben kau rajin,” sindirku.
“Rajin gimana?”
“Yaa...rajin aja, gitu. Tuh buktinya kau bawa buku tebel-tebel buat apa, coba? Biasanya, kan kau pantang bawa buku tebel.”
“Yaah, mau bagaimana lagi? Mrs. Maureent menghukumku.”
“Kenapa?”
“Aku tertidur di kelas. Akhirnya Mrs. Maureent memberiku tugas untuk merangkum buku ini. Dan sialnya, Lily tadi tidak membangunkanku, dasar!” gerutu Emma seraya menghentakan kakinya beberapa kali.
“Tidak berbeda dengan kakaknya, Mr. Cho.”
“Kau ada masalah apa lagi dengan Mr. Cho? Sepertinya kau setiap hari ada konflik dengannya.”
“Tadi dia menepuk-nepuk kepalaku, lalu aku membentaknya. Kau tahu, kan kalau hanya kau dan Joshua yang boleh menyentuh kepalaku, bahkan memukul kepalaku, dan itu khusus untukmu,” jelasku.
“Lalu apa yang dilakukan Mr. Cho setelah kau membentaknya?” tanya Emma penasaran.
“Dia menyuruhku mengerjakan soal sebanyak seratus nomor! Bayangkan saja!”
“Hhh...kita memang benar-benar senasib,” ucap Emma seraya menepuk pundakku. “Haha, duluan, yaaa!!” seru Emma seraya memasuki area rumahnya, aku pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatku itu.
[Emma POV]
―Seminggu Kemudian―
“Ah, enaknya Casey sudah punya pacar,” gumamku seraya melamun di kelas
“Casey sudah punya pacar? Sejak kapan? Dan siapa gadis beruntung yang mendapatkan Casey,” tanya Lily, teman sekelasku.
“Sudah. Kemarin jam tiga sore. Dan gadis bernama Ammy dari kelas 2A yang memang dari dulu mengincar Casey.”
“Woaah, benarkah? Bagaimana kau tahu?”
“Dia memberitahuku lewat sms, dia kelihatan excited banget, tahu. Kelihatannya Casey juga suka sama Ammy. Huh...menyebalkan.”
“Kau cemburu?” tanya Lily dengan nada menyelidik.
“Cemburu bagaimana?”
“Yaa...aku pikir kau cemburu dengan Ammy, apakah kau menyukai Casey?”
“Tidak, aku tidak cemburu dengan siapapun. Dan...aku tidak menyukai Casey,” ucapku mengelak perkataan Lily.
===
Lonceng jam sekolah kembali berbunyi, dan seperti biasa, aku selalu datang ke kelas Casey. Tetapi ada yang berbeda hari ini, Casey sudah tidak ada di kelasnya. ‘Aneh,’ pikirku.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri, sebenarnya membosankan, tetapi mau bagaimana lagi kalau ternyata Casey memang sudah tidak ada.
Aku berjalan menyusuri jalan sendirian. Ternyata memang benar-benar membosankan dan jarak dari sekolah sampai rumahku terasa sangat jauh. Padahal kalau aku pulang bersama Casey, pulang dengan merangkak pun akan terasa dekat. Grr...Casey kau menyebalkan!
Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan sebuah motor yang melaju cepat dan hampir menabrakku apabila aku tidak bergeser sepuluh senti saja.
Tunggu...bukankah itu motor Casey? Dan, siapa gadis yang bersama Casey? Apakah Ammy?’ pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dalam benakku.
Aku pun segera berlari mengejar motor itu bak pelari internasional yang sedang berlari jarak jauh. Bedanya, kalau aku di komplek rumah, dan pelari internasional di lapangan lari. Bahkan aku sampai lupa kalau aku sangat benci berlari, karena itu akan membuatku sesak nafas.
Motor itu berhenti tepat di depan rumah Casey. Dan benar saja, lelaki yang mengendarai motor itu adalah Casey, dan gadis yang membonceng di belakangnya adalah Ammy. Aku mendengus kesal dan tidak mempedulikan pasangan baru jadi itu.
Aku segera memasuki pekarangan rumahku yang berada tepat di seberang rumah Casey. Di dalam rumah, aku dikejutkan oleh seseorang yang sangat ku rindukan, dia kakaku, Aiden. Dia pulang ke rumah membawa seorang wanita, dan itu adalah...
“Mrs. Maureent?!” gumamku. Lalu dia berbalik dan menatapku. Dengan secepat kilat, aku naik ke kamar dan mengunci pintu kamarku.
“Yang benar saja! Apakah wanita yang diceritakan Aiden itu Mrs. Maureent?” pertanyaan itu terus terlontar dari mulutku karena tidak percaya.
Aku segera mengganti seragamku dan tiduran di ranjang. Aku benar-benar tidak percaya terhadap apa yang terjadi dalam hidupku.
Saat aku masih bergelut dengan pikiranku, tiba-tiba seseorang mengetuk kamarku. Reflek aku berdiri dari ranjangku dan segera membuka pintu.
“Hi! Jadi kau adik Aiden, benar?”
Mati aku, pasti dia akan menagih tugas yang diberikannya seminggu lalu, aku bahkan belum menyentuhnya sama sekali,’ batinku. Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitku.
“Hehe, maaf...aku belum bisa berbincang denganmu, Mrs. Maureent, tugasku banyak, bye!” ucapku dan segera menutup pintu kamarku lagi.
Huaaaa!!! Aideeen...awas kau! Kenapa memilih Mrs. Maureent untuk dijadikan istri, huh!’ teriak batinku.
Aku mengacak rambutku dengan kesal. Aku lalu membuka jendela kamarkuku lebar untuk keluar dari rumah. Jangan heran! Ini sudah kebiasaan. Hehe..
Tetapi sebelum aku benar-benar keluar dari kamar, seseorang mengetuk pintu kamarku lagi. Reflek aku langsung menjawab.
“Tidak ada orang di dalam!” ucapku dan langsung melompat dari jendela kamar, aku memanjat ke bawah dengan ukiran-ukiran batu yang terukir indah di dinding rumahku. Tetapi kemudian aku terpeleset dan jatuh ke bawah.
“Uuaaaaa!” teriakku.
Tiba-tiba seseorang menangkapku dari bawah. Huft...syukurlah, aku tidak jadi jatuh. Tetapi siapa yang menangkapku?
“A-aiden?”
“Mau kemana adikku sayang?”
“Mm...mau ke rumah Casey,” ucapku tergagap seraya turun dari gendongan Aiden.
“Katanya tadi banyak tugas? Kok main? Bahkan kau belum mengumpulkan tugas bahasa Inggrismu seminggu yang lalu, kan?” sindir Mrs. Maureent.
Tanpa menjawab pertanyaan dan pamit dengan kedua orang tuaku, aku segera berlari ke rumah Casey. Untung saja di pekarangan rumahnya sudah berdiri Tante Isabell yang sedang menyirami bunga-bunganya.
“Tante aku masuk, ya,” ucapku dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam, aku melihat Ammy yang duduk sendirian. ‘Mungkin Casey sedang membuatkan minuman,’ pikirku.
“Di mana Casey?” tanyaku.
“Di dapur,” ucapnya singkat seraya menatapku aneh tetapi aku tidak menggubrisnya. Ternyata benar apa instingku. Ah...aku memang hebat.
Aku pun segera berlalu meninggalkan Ammy dan masuk ke dalam dapur.
“Huaaaa! Caseey,” teriakku manja.
“Kenapa Ammy?” tanyanya. Ish...dia pikir aku Ammy?!
“Heh...aku Emma tahu!” ucapku seraya memukul punggungnya keras.
“Auuuhh! Mulai lagi, kan!” serunya. “Ada apa, sih?”
“Aiden pulang ke rumah.”
“Bagus, dong!”
“Dia membawa wanita!”
“Calon istrinya? Siapa?”
“Mrs. Maureent.”
“APPPAAAAA?? Yang benar saja!”
“Ck...makanya aku kabur ke sini, mana tadi Mrs. Maureent menagih tugas bahasa Inggrisku seminggu yang lalu, lagi, huaaaaa…Casey…aku harus bagaimana?” ucapku seraya menarik-narik lengan baju Casey.
“Case...ada apa?” tanya Ammy yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
“Tidak ada,” ucap Casey. Ammy berjalan mendekat dan berdiri di samping Casey. Ammy lalu memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan aneh. Yaah...memang aku hanya mengenakan jean selutut dan kaos berwarna biru bergambar kucing. Apanya yang salah?
“Case, siapa dia?” tanyanya.
“Dia Emma,” ucap Casey singkat.
“Kau dekat dengannya?”
“Tentu saja! Memangnya kenapa? Apa kau tak suka?” selaku seraya berkacak pinggang.
“Case, sepertinya kau harus menjauhinya, aku tak suka kau berteman dengan gadis yang tidak tahu sopan santun,” bisik Ammy ―tetapi terdengar sangat jelas di telingaku―
“Sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku tak segan-segan untuk menghajarmu,” ucapku seraya menarik kerah baju Ammy.
“Emma lepaskan!” bentak Casey.
“Kau...membelanya?” tanyaku seraya menatap tajam ke arah Casey.
“Bu-bukan begitu...”
“Baik! Kau lebih membelanya yang baru kenal denganmu sejak kemarin dari pada aku yang sudah kau kenal sejak masih TK. Mulai saat ini, jangan anggap aku sebagai sahabatmu lagi…semoga kalian bahagia, selamat tinggal,” ucapku seraya berbalik dan meninggalkan Casey yang masih mematung.
Aku keluar dari rumah Casey dan pergi ke taman di dekat komplek perumahanku. Karena kalau aku pulang ke rumah, akan membuat emosiku lebih memuncak. Air mataku langsung tumpah ketika aku sampai di taman.
[Casey POV]
Aku tak percaya Emma akan berkata seperti itu,’ batinku saat Emma sudah menghilang dari hadapanku.
“Case, kau tak apa?” tanya Ammy tiba-tiba.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” ucapku seraya memaksakan seulas senyum.
===
Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Emma kepadaku, dia seperti menghilang dari hidupku. Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ammy daripada bersama teman-temanku yang lain. Hari itu, tiba-tiba Emma datang ke kelasku, aku sangat senang dapat melihatnya lagi. Dia berjalan ke arah bangkuku, lalu menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Aku mengerutkan dahiku heran.
“Apa, ini?” tanyaku.
“Malam ini adalah konser pertamaku, di dalam amplop itu ada dua buah tiket. Aku harap kau dan Ammy mau datang. Setelah itu, kau tak akan pernah melihatku lagi, aku tidak akan mengganggu hidupmu dengan Ammy,” ucap Emma dan akhirnya menghilang di balik pintu.
[Author POV]
―Malam Konser―
“Case, mau menemaniku shopping, tidak?” tanya Ammy.
“Tetapi malam ini, kan konser pertama Emma,” ucap Casey.
“Sudahlah...hanya sebentar saja, kok.” Ammy mengelak.
“Hmm...baiklah,” akhirnya Casey mengalah dan menuruti permintaan Ammy.
Dan tanpa Casey sadari, Ammy telah merobek tiket konser Emma. Ammy tidak mau Casey tetap dekat dengan Emma. Menurutnya, Emma adalah pengganggu hubungannya dengan Casey.
Sementara itu, Emma masih menunggu kehadiran Casey. Dia sengaja menunggu di luar dan tidak menunggu di backstage hanya untuk dua tamu spesialnya. Tetapi sampai acara akan dimulai pun, Casey dan Ammy tidak menampakkan diri mereka. Emma pun menyerah dan segera masuk ke backstage.
Di malam konser pertamanya itu, Emma membawakan lima lagu sekaligus. Lagu pertama sampai lagu keempat, dua tempat VIP yang disediakan khusus untuk Casey dan Ammy tetap kosong. Emma sangat kecewa dengan ketidakhadiran Casey di acara yang menurutnya sangat penting itu.
Nyonya Isabell pun mencoba beberapa kali menghubungi Casey, tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya tiba di penghujung acara. Emma berdeham beberapa kali dan mulai dengan kalimat pembuka.
“Di lagu terakhir ini, saya akan membawakan sebuah lagu untuk seseorang yang seharusnya berada di sini sekarang,” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Emma. Diapun berjalan ke arah piano hitamnya yang terlihat sangat elegan.
Emma memulai lagunya dengan menekan tuts piano sehingga menghasilkan sebuah alunan nada yang begitu indah. Dengan suara emasnya, dia pun bernyanyi. Sesekali dia melirik ke dua kursi kosong di hadapannya.
Sepertinya dia tidak akan datang,’ batinnya.
Dan benar saja, sampai lagu kelima usai, Casey dan Ammy tak kunjung datang. Di backstage Emma langsung dikerubungi oleh berbagai perwakilan perusahaan entertainment untuk menandatangani kontrak dan masuk ke dunia hiburan. Karena beberapa wawancara yang nantinya akan berlangsung lama, Emma menyuruh keluarganya untuk pulang duluan, dan nantinya dia akan pulang menggunakan taksi.
Setelah usai wawancara dan menandatangani kontrak sebuah perusahaan entertainment, Emma memutuskan untuk pulang.
Tetapi sayang, di tengah perjalanan, terjadi kejadian yang tidak terduga. Supir taksi yang dinaiki oleh Emma mengantuk. Dia membanting setir ke kanan dan taksinya tertabrak oleh sebuah truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Taksi itu terpental cukup jauh, dan akhirnya menabrak  sebuah pagar jalan. Beberapa saksi yang melihat kejadian itu segera memanggil ambulance.
Beruntung, supir taksi itu hanya terkena luka berat, tetapi tidak dengan Emma. Saat dia dilarikan ke rumah sakit, dia menghembuskan nafas terakhirnya.
===
Casey tiba di rumahnya bersama dengan Ammy. Di ruang keluarga, ibunya terduduk seraya menggenggam erat kertas yang sudah tersobek-sobek. Casey yang khawatir dengan ibunya segera menghampirinya.
Mom, ada apa?” tanya Casey.
Nyonya Isabell menatap tajam ke arah Casey. “Dari mana saja kau?”
“Aku...pergi bersama Ammy,”
“Kenapa kau tidak datang ke konser Emma?”
Setelah ibunya mengatakan itu, Casey segera tersadar dan berlari ke arah kamarnya, berniat untuk mencari amplop berisi tiket konser Emma.
“Kau mencari ini? Kau sudah merobek dan membuangnya ke tong sampah, benar?” sela Nyonya Isabell seraya menunukkan kertas yang sedari tadi dibawanya.
“Aku tidak merobeknya!” bentak Casey.
“Kau sudah membuat Emma kecewa!”
Tiba-tiba ponsel Nyonya Isabell berbunyi. Dia segera mengangkatnya. Ekspresi wajahnya yang semula penuh dengan emosi, sekarang menjadi pucat dan ketakutan.
“Em..ma,” gumam Nyonya Isabell.
“Ada apa dengan Emma?” tanya Casey dengan nada khawatir.
“Di..dia…kecelakaan, dan…meninggal.”
Kalimat terakhir yang diucapkan Nyonya Isabell terasa seperti sebuah belati yang menusuk-nusuk dirinya. Casey menggeleng tidak percaya dan perlahan cairan bening keluar membuat sungai kecil di pipinya.
“I-ibu...apakah yang kau ucapkan itu sungguh-sungguh?”
Nyonya Isabell tidak menjawab pertanyaan Casey, dia menunduk dan langsung menangis.
“Sekarang juga kau harus ikut aku! Dan…Ammy, aku harap, mulai besok kau sudah tidak berhubungan dengan Casey!” ucap Nyonya Isabell. Ammy hanya bisa bungkam.
[Casey POV]
Ibu membawaku ke sebuah rumah sakit terkenal di kotaku. Aku keluar dari mobil bersama dengan ibuku. Ibuku segera berlari kecil ke arah ruang UGD. Di sana sudah berdiri kedua orangtua Emma, Aiden, dan Mrs. Maureent yang mengelilingi seseorang yang seluruh badannya sudah ditutupi kain putih.
Jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya karena berdetak sangat kencang. Aku mendekati mereka, dan mereka memberiku ruang untuk melihat siapa orang yang yang berada di balik kain putih itu.
Tangisku pun kembli meledak ketika melihat seorang gadis yang sangat aku kenali terbujur kaku dengan wajah penuh luka. Aku membekap mulutku, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku sangat menyesal tidak menuruti permintaan terakhirnya dan lebih memilih pergi bersama Ammy. Aku sangat menyesal tidak ada di sampingnya pada saat terakhirnya. Tetapi itu semua tidak ada gunanya, Emma telah tiada, tidak ada yang dapat kuperbuat lebih.
Aku masih menangis. Entahlah...aku tidak tahu aku akan berhenti menangis atau tidak.
Press the reset, press press the reset
 Sayup-sayup aku mendengar alunan lagu. Aku tak tahu pasti lagu itu berasal dari mana. Tetapi yang aku tahu, lagu itu menyuruhku untuk menekan sebuah tombol reset. Ya, tombol reset yang berada di hidupku.
Aku menutup mataku, aku merasakan tubuhku seperti terhisap ke sebuah lubang berbentuk spiral. Dan akhirnya aku terjatuh dari bangku sekolahku.
Tunggu, bangku sekolah? Apakah waktu kembali berputar sehingga aku dapat memperbaiki kesalahanku? Atau aku tadi hanya bermimpi?
Aku membuka mataku perlahan, dan di hadapanku sudah berdiri Emma yang sudah menyungginggakan senyum polosnya. Aku pun segera berdiri dan memeluknya, dia tampak terkejut dengan kelakuanku yang tiba-tiba itu.
“Tolong jangan pernah pergi dari kehidupanku,” pintaku.
“Case, apa yang kau katakan?” tanya Emma bingung. Tetapi aku hanya terdiam sembari masih memeluknya.
[Emma POV]
Aku semakin tidak tahu apa yang terjadi dengan Casey. Dia membuatku pusing, jadi aku turuti saja apa yang dimintanya. Terkadang dia sangat over protective atau terlalu baik denganku. Kelakuannya menjadi lebih aneh saat dia menolak Ammy menjadi pacarnya. Bahkan Ammy sempat berpikir bahwa aku adalah pacar Casey. Haha, lucu sekali.
Hari ini adalah hari pertamaku konser. Ya...aku lulus dalam tes sekolah menyanyiku. Dan sebagai hadiahnya, sekolah menyanyiku itu membuatkan sebuah konser dengan aku sebagai bintangnya. Menakjubkan bukan?
 Aku berjalan ke arah kelas Casey dengan senyum bahagia. Tetapi saat aku akan memasuki kelasnya, ternyata dia sudah membukannya dan tersenyum lebar ke arahku.
“Sepertinya kita berdua sedang bahagia, bukan begitu?” tanyaku.
“Sepertinya begitu, malam ini konser pertamamu, kan?” tanyanya.
“Bagaimana kau tahu?” aku membelalakkan mata.
Dia hanya tersenyum lalu merebut sebuah amplop yang sedari tadi kubawa. “Pasti ini tiket untukku,”
“Memang benar, apakah kau punya indra keenam?” tebakku.
“Mmmm...mungkin,” ucapnya.
“Jangan lupa datang, ya!” ucapku dan akhirnya kembali ke kelas saat bel sudah berbunyi.
===
Akhirnya malam pun tiba. Aku sudah berada di backstage sekarang, dan Casey menemaniku. Dia benar-benar sahabat yang baik. Hari ini aku akan membawakan lima buah lagu. Dan pada penghujung acara nanti, aku akan menyanyikan lagu khusus untuk sahabat di sampingku ini, Casey.
Konser pun akhirnya dimulai. Casey duduk di deretan kursi VIP bersama dengan kedua orangtuaku, Aiden, Mrs. Maureent, dan Tante Isabell.
Di antara seluruh penonton, Casey lah yang paling antusias mendengar lagu yang kunyanyikan. Hingga sampai di penghujung acara. Wajah Casey tiba-tiba memucat, aku jadi tidak tega melihatnya.
“Di lagu terakhir ini, saya akan membawakan sebuah lagu untuk seorang yang sangat spesial dalam hidup saya, Casey,” ucapku dan para penonton pun bertepuk tangan meriah.
Lagu pun selesai dan aku kembali ke backstage. Di sana, aku langsung dikerubungi oleh berbagai perwakilan perusahaan entertainment untuk mendapatkan tanda tangan kontrak dan masuk ke dunia hiburan. Karena beberapa wawancara yang nantinya akan berlangsung lama, aku menyuruh keluargaku untuk pulang duluan, dan nantinya aku akan pulang bersama Casey dengan mobil Ford hitamnya.
Usai wawancara dan menandatangani sebuah kontrak perusahaan entertainment, aku memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, aku dan Casey banyak berbincang. Bahkan Casey bercerita tentang masa kecil kami.
Wajah Casey tampak lebih pucat dari yang sebelumnya, aku jadi semakin khawatir.
“Case, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat,” ucapku.
“Tidak apa,” ucapnya seraya tersenyum lebar.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, sebuah truk melaju kencang.
“Casey! Awaaas!” teriakku.
Tetapi naas, mobil yang kami tumpangi tertabrak truk itu dan terpental jauh, lalu akhirnya menabrak pagar jalan, aku merasakan ada seseorang yang mendekap tubuhku erat. Dan dapat aku rasakan nyeri hebat di salah satu pergelangan tangan dan kakiku. Sepertinya patah, lalu semua menjadi gelap.
Aku terbangun lagi di ruangan serba putih. Aku masih dapat merasakan sakitnya pergelangan tangan dan kakiku. Di sampingku, sudah berdiri kedua orangtuaku dan juga Aiden.
“Di mana Casey?” tiba-tiba hanya kata itu terlontar dengan sendirinya dari mulutku.
“Dia...” Aiden tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba dapat kudengar jerit tangis seorang wanita. Aku menoleh ke samping, ternyata yang menangis adalah Tante Isabell. Dia menangis di hadapan seseorang yang sudah tertutupi kain putih. Perasaanku menjadi tidak enak.
Aku mencabut selang infus yang menancap di tanganku, lalu aku menjatuhkan diriku ke bawah dan merangkak ke arah Tante Isabell. Aiden mencegahku dan hendak mengangkatku ke kasur. Tetapi aku memberontak dan tetap merangkak. Semakin dekat...semakin dekat...tangisku akhirnya meledak. Dan dengan segenap kekuatanku, aku berusaha untuk berdiri, lalu membuka kain putih itu.
Di situ, sudah terbujur kaku seorang lelaki, dia...Casey.
“Caseeeey!” teriakku saat melihat mayat Casey yang penuh luka. Akupun menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mempedulikan sekitarku. Aku hanya ingin Casey tetap di sisiku.
Press the reset, press press the reset...reset, reset, reset...
―End―

 

♛Yuuki's Journal★ Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting